Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Peta Persampahan Bandung - Mentoring 1 Maret 2015



Artikel

  1. Bisakah Kita Hidup Tanpa Plastik?

Laporan Mentor Ilham Cendekia Srimarga Tahap II

Laporan Mentoring Peta Persampahan Bandung Tahap 2 Proyek: Perta Persampahan Kota Bandung Nama Mentor: Ilham Cendekia Srimarga Periode II (Maret 2015 – November 2015)

Status Proyek • Pada saat mentoring ini dilakukan tim projek telah selesai membangun website www.bebassampah.id . • Teknologi yang dipilih adalah peta digital dengan basis data yang bisa diinput dengan aplikasi pada smartphone, disamping dapat diinput langsung pada server. Namun aplikasi pada smartphone baru benar-benar siap di akhir Termin kedua ini (sekitar bulan November 2015). • Pada tahap ini tim projek telah dapat memperoleh data sekunder mengenai persampahan dari Dinas Kebersihan Kota Bandung.

Tantangan • Kerumitan sistem pengelolaan sampah: tradisional menjadi digital. Kerumitan itu di antaranya meliputi: bagaimana mempersiapkan data persampahan, bagaimana memperkenalkan dan menggalang respon atas ide yang diusulkan dari masyarakat. • Untuk mengumpulkan data mengenai aset-aset persampahan positif untuk dimasukan dalam peta digital di www.bebassampah.id dan bagaimana melakukan validasi atas data-data yang telah masuk ke dalam website.

Perbaikan Perbaikan yang disarankan oleh mentor adalah: • Mengagendakan penguatan relasi dengan birokrasi dan pejabat politik di pemerintahan kota. Penguatan relasi tersebut penting, agar support dari pemerintah, khususnya birokrasi yang menangani data persampahan, agar mereka bersedia memberikan data yang dimilikinya untuk ditampilkan dalam peta sampah di website. • Memperkuat strategi komunikasi massa agar www.bebassampah.com dapat lebih cepat dikenal masyarakat dan mereka dapat juga berkontribusi. • Mencari model insentif buat masyarakat yang hendak menjadi relawan dalam pelaporan data dan penggunaan data dari website tersebut.

Kemajuan • Perangkat lunak berupa web www.bebassampah.id telah dapat digunakan, meski terdapat beberapa fitur yang rencananya baru akan dikembangkan kemudian. • Kegiatan-kegiatan engagement baik dengan pemerintah daerah maupun dengan komunitas umumnya telah dilakukan. Khususnya kerja-kerja dengan pemerintah tim projek telah berhasil mendapat respon yang sangat bagus, antara lain dengan mendapat data yang dibutuhkan serta pengakuan atas sistem yang ditawarkan. Untuk kegiatan-kegiatan bersama dengan masyarakat, tim projek juga berhasil menggalang relawan data yang banyak. Namun untuk menarik minat publik yang lebih luas lagi tim program masih membutuhkan eksplorasi atas beberapa pendekatan. • Khusus dalam hal kerjasama dengan pemerintah, sebagai konsekuensi dari kerjasama tersebut, tim projek selain mengerjakan apa yang direncanakan dalam projek, ternyata juga harus terlibat membenahi sejumlah tugas pemerintah (Dinas Kebersihan) agar siap untuk digitalisasi pengelolaan sampah.

Nilai Dari Pelaku Proyek: • Mengenalkan cara pandang baru mengenai bagaimana memandang adanya aset-aset persampahan positif. Konsep “aset persampahan positif” yang dikembangkan oleh pelaku projek tersebut memberi inspirasi baik dalam pengelolaan sampah oleh pemerintah maupun dalam perlakuan terhadap sampah oleh masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah dapat mengetahui berapa kapasitas serapan sampah baik yang berasal dari infrastruktur pemerinytah (misalnya TPA atau Tempat Pembuangan Akhir) maupun infrastruktur masyarakat (seperti Lapak atau penampungan barang bekas). Sementara pada umumnya, banyak proyek-proyek ICT untuk persampahan lebih berfokus pada aset-aset negatif atau beban sampah itu sendiri (seperti jumlah buangan sampah yang dihasilkan masyarakat). • Mendorong terwujudnya Open Data dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung. Perangkat lunak yang dibangun saat ini memungkinkan masyarakat berkontribusi dalam pembangunan data persampahan (secara crowd sourcing, big data) dan pemerintah dapat mengelola data mengenai persampahan secara terbuka. Hal ini dapat menjadi best practise contoh dari [penerapan open data secara nyata di Indonesia. • Memberi contoh kerjasama antar CSO dan pemerintah secara konstruktif, khususnya dalam isu persampahan kota. Kerjasama antara CSO dan pemerintah secara konstruktif dalam hal ini berupa adanya peran CSO dalam menjembatani loop hole penanganan persampahan yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah, karena pemerintah memiliki keterbatasan dalam berinovasi.

Dari Mentor ke Pelaku Proyek: • Meningkatkan pemahaman bahwa untuk untuk menjalankan sistem secara online dibutuhkan pendekatan offline yang kuat. Misalnya untuk dihasilkannya data digital mengenai aset-aset persampahan positif di level online, dibutuhkan juga mekanisme pengelolaan relawan yang baik (level offline). Hal ini bermanfaat untuk memperkuat desain dari implementasi projek berbasis ICT: bahwa selain dibutuhkan kerja-kerja pembangunan sistem ICT, juga dibutuhkan perhatian pada bagaimana membangun standar operasional kerja pada pelaku-pelaku (baik di lingkungan pegiat CSO sendiri maupun di lingkungan aparat pemerintah) yang terkait implementasi sistem tersebut. • Menguatkan pemahaman mengenai bagaimana membangun strategi engagement (komunikasi atau kerja bersama) yang konstruktif dengan pemerintah dan dengan komunitas kepada anggota tim proyek. Penguatan strategi engagement tersebut khususnya bagaimana menempatkan ICT sebagai solusi yang menjembatani diskoneksi antara pemerintah (khususnya Dinas Kebersihan), dan komunitas (khususnya pelaku-pelaku persampahan).

Tags:



March 2015 | CC BY 4.0