Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

LenteraTimur.com - Proposal Lengkap



Lentera_Timur.jpg

LenteraTimur.com

Organisasi

Lentera Timur adalah sebuah perkumpulan yang lahir di Jakarta sejak 2010. Tujuan dari perkumpulan ini adalah mewujudnya kesetaraan antar identitas kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia dan kebebasan dari tiap-tiap identitas tersebut untuk mengaktualisasikan diri. Secara keanggotaan, Lentera Timur terbuka untuk umum.; Status resmi: Perkumpulan Maluku Satu Media sampai sekarang ini belum berbadan hukum.

Status resmi

Lentera Timur adalah organisasi yang terdaftar melalui akte notaris dan Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta dengan status ‘Perkumpulan’.

Kontak

TM. Dhani Iqbal

  • Situs web: LenteraTImur.com

  • Facebook: LenteraTimur.com

  • Twitter: @Lenteratimurcom

  • SMS: 087788802262, format SMS : lentera Isi Pesan

Posisi

Pemimpin proyek

Lokasi

Jakarta

Deskripsi Proyek

Tujuan:

Tersebarnya paham pluralisme dan multikulturalisme sebagai gagasan tanding atas sentralisme di Indonesia yang tak memberi hak dan peluang yang setara bagi tiap identitas untuk tumbuh dan berkembang. “Duduk sama rendah berdiri sama tegak.”

Sasaran:

A. Terselenggaranya pelatihan jurnalistik yang berbasis kesadaran pluralisme dan multikulturalisme sebagai gagasan tanding terhadap sentralisme melalui jejaring komunitas yang saling berkoordinasi dan berkonsolidasi.

B. Meningkatkan kualitas dan kuantitas konten lokal yang berparadigmakan pluralisme dan multikulturalisme. Paradigma yang dimaksud meliputi tujuh unsur kebudayaan yang sudah umum dikenal, yakni: sistem kepercayaan, sosial-kemasyarakatan, pengetahuan, mata pencaharian, teknologi dan peralatan, kesenian, dan bahasa.

C. Penerapan sistem manajemen terbuka yang dapat dipantau dan dievaluasi oleh publik.

Latar belakang:

a.Keterkaitan pada topik: Meretas batas – kebhinnekaan bermedia

Indonesia dibangun dari negara-negara berdaulat yang menyatukan diri. Argumen penyatuan ini dapat dirujuk pada gagasan filosof Perancis, Ernst Renan, yakni le desir d’etre ensemble, atau dambaan untuk menyatukan diri. Gagasan penyatuan ini, dalam bahasa YB. Mangunwijaya (1998), muncul karena solidaritas pada sesama kaum yang menderita. Konstruksi negara Indonesia menunjukkan bahwa masing-masing identitas sebetulnya memiliki hak dan peluang yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Namun, kesetaraan itu kemudian hilang akibat hadirnya sentralisme. Segala sesuatu ditimbang dari satu titik. Aktualisasi eksistensi menjadi musykil. Jika pun aktualisasi itu hadir, ia berada dalam kerangka dan kacamata pusat. Sentralisme sebagai cara berpikir menafikan adanya kebhinnekaan atau perbedaan dan kesetaraan. Ia menghendaki adanya keseragaman dan ketunggalan. Atas dasar itu, sentralisme sebagai suatu cara berpikir atau gagasan harus diretas dengan gagasan tanding, yakni pluralisme dan multikulturalisme melalui medium media massa.

b. Masalah yang ingin diatasi dan keterkaitan dengan aktivitas

Dalam kerangka paham sentralisme, yang disebut nasional adalah melulu kelompok dan kepentingan tertentu yang ada di Jakarta. Tayangan azan magrib di televisi adalah contoh termudah yang bisa dilihat. Ia menihilkan adanya manusia dan perbedaan. Sebab, waktu azan Jakarta jelas berbeda dengan seluruh daerah. Sentralisme yang semata mengutamakan perspektif Jakarta tak pelak melenyapkan kesadaran akan kemajemukan dan kesetaraan. Agar hakikat dan eksistensi identitas-identitas yang ada tak lenyap di kemudian hari, maka diperlukan gagasan tanding terhadap eksistensi paham sentralisme. Atas dasar itulah LenteraTimur.com menggelar pelatihan jurnalistik yang berfungsi menumbuhkan kesadaran pluralisme dan multikulturalisme. Sebagai jalan mendekati kenyataan, jurnalistik dipilih karena memiliki kaidah-kaidah ilmiah, yang dapat diuji oleh siapapun, serta memiliki sejarah keberpihakan terhadap kelompok-kelompok yang termarjinalkan. Karya jurnalistik yang diperoleh melalui pelatihan ini selanjutnya akan dipublikasikan di LenteraTimur.com. Dengan pelatihan dan publikasi tersebut, gaya jurnalistik yang berbasis pluralisme dan multikulturalisme dapat direplikasi oleh siapa pun.

c. Keterkaitan pada kategori: Aksi, Konten lokal, Strategi kreatif

Aksi

Selama ini, paham sentralisme nyatanya mengalir ke dalam ruang-ruang redaksi media massa yang ada. Alhasil, wacana publik yang muncul melulu menyangkut kelompok tertentu, kawasan tertentu, kepentingan tertentu, dan perspektif tertentu, yaitu ‘Jakarta’.

Dalam pandangan LenteraTimur.com, paham ini juga memberikan definisi yang cacat atas apa-apa yang penting dan layak untuk disampaikan ke publik. Peristiwa dan dinamika lokal hanya dapat menjadi wacana publik yang lebih luas ketika diberi dan ditimbang dalam perspektif Jakarta. Kriterianya pun adalah kerusuhan dan hiruk-pikuk lainnya, yang pada gilirannya membentuk opini bahwa luar Jakarta adalah kawasan tak berkembang, inferior.

Karena itu, alih-alih menyeleksi isu pemberitaan dari “atas”, LenteraTimur.com mempertimbangkan bahwa apa yang penting dan layak dipublikasikan dan didiskusikan sepatutnya ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, baik secara internal maupun dalam perjumpaannya dengan masyarakat lain.

Untuk mewujudkan gagasan tanding terhadap sentralisme tersebut, LenteraTimur.com menggelar pelatihan jurnalistik yang berbasis kesadaran pluralisme dan multikulturalisme.

Dari hasil pelatihan tersebut, peserta dapat melakukan peliputan untuk kemudian dipublikasikan di LenteraTimur.com melalui 11 (sebelas) rubrik yang ada. Rubrik-rubrik tersebut adalah Jejak (eksplorasi sejarah dan kebudayaan); Kasatmata (fenomena sosial-politik aktual berbasis sejarah dan kebudayaan); Jelajah (catatan perjalanan ke kawasan-kawasan yang tak banyak diliput media dan atau dengan perspektif lokal); Eksklusif (dialog dengan tokoh inspiratif); Nukilan (resensi buku dan film); Boga (penelusuran kuliner tradisi); Agenda (jadwal kegiatan komunitas terkait isu sosial-kultural); Lentera Anak (ruang ekspresi keindonesiaan di mata anak); Potret (esai foto); TV Lentera (peliputan/dokumentasi audio-visual); dan Bernala (opini).

Konten Lokal

Para peserta pelatihan jurnalistik yang digelar LenteraTimur.com akan menghasilkan informasi dan pengetahuan yang berperspektifkan lokalitas. Perspektif lokalitas ini penting demi mengaktualisasikan eksistensi identitas-identitas yang selama ini terliyankan karena dominasi paham sentralisme dalam wacana publik. Dengan pertimbangan tertentu, LenteraTimur.com lantas memilih 5 (lima) kawasan lokal sebagai basis pelatihan jurnalistik. Kelima kawasan tersebut adalah:

  1. Jambi – Kawasan ini cenderung sepi dari pemberitaan di ruang-ruang publik di level nasional atau supralokal. Pada saat yang sama, dari pengalaman peliputan, ia nampak sebagai kawasan yang relatif paling tertinggal di Sumatera. Dari Jambi, peserta pelatihan diharapkan akan datang dari kawasan sekitar.

  2. Yogyakarta – Kawasan ini memiliki nilai dan sistem sosial berbeda dengan kawasan lain di Indonesia. Namun, tak seperti yang lain, ia diakui oleh negara sebagaimana Aceh. Tegangan antara dua tatanan nilai dan sistem juga tengah mewujud di sini. Dari Yogyakarta, peserta pelatihan diharapkan akan datang dari kawasan sekitar.

  3. Kalimantan Timur – Kawasan ini menjadi ladang eksploitasi sumber daya alam yang berdampak berat pada kerusakan lingkungan dan peradaban manusianya. Sistem nilai dan sosial di sini kerap bersitegang dengan sistem nilai yang diinisiasi oleh negara. Dari Kalimantan Timur, peserta pelatihan diharapkan akan datang dari kawasan sekitar.

  4. Gorontalo – Kawasan ini juga tak sepi dari konflik antar identitas, baik di ranah etnis maupun keyakinan agama. Pun soal pertambangan atau ekonomi yang melibatkan sentimen antara pribumi dan pendatang. Dari Gorontalo, peserta pelatihan diharapkan akan datang dari kawasan sekitar.

  5. Nusa Tenggara Timur - Kawasan ini juga mengalami tarik-menarik antara sistem nilai dan sosial lokal dengan sistem nilai yang diinisiasi oleh negara. Dan sebagaimana kawasan perbatasan lain, kawasan ini tak memiliki ruang untuk memberikan perspektifnya. Dampak berat eksploitasi sumber daya alam pun turut menyumbangkan potensi konflik. Dari Nusa Tenggara Timur, peserta pelatihan diharapkan akan datang dari kawasan sekitar.

Strategi Kreatif

LenteraTimur.com mengemas dan mempublikasikan informasi dan pengetahuan berparadigmakan pluralisme dan multikulturalisme dengan memanfaatkan format multimedia, yakni teks, foto, dan video.

d. Aktifitas dan keterkaitan pada sasaran

  • Kontribusi untuk sasaran A – Terselenggaranya pelatihan jurnalistik yang berbasis kesadaran pluralisme dan multikulturalisme sebagai gagasan tanding terhadap sentralisme melalui jejaring komunitas yang saling berkoordinasi dan berkonsolidasi.

    Aktivitas:

    • Menyiapkan instruktur, menyiapkan materi pelatihan, membuat jadwal pelatihan di lima kawasan, berkoordinasi dengan komunitas lokal, dan pemenuhan kebutuhan operasional pelatihan.
  • Kontribusi untuk sasaran B – Meningkatkan kualitas dan kuantitas konten lokal yang berparadigmakan pluralisme dan multikulturalisme. Paradigma yang dimaksud meliputi tujuh unsur kebudayaan yang sudah umum dikenal, yakni: sistem kepercayaan, sosial-kemasyarakatan, pengetahuan, mata pencaharian, teknologi dan peralatan, kesenian, dan bahasa.

    Aktivitas:

    • Penyeleksian karya peserta pelatihan jurnalistik, memandu peserta dalam peliputan, mengembangkan dan memperdalam isu, dan mempublikasikan karya secara berkala.
  • Kontribusi untuk sasaran C - Penerapan sistem manajemen terbuka yang dapat dipantau dan dievaluasi oleh publik.

    Aktivitas:

    • Menyediakan lokasi beserta sarana dan prasarana kesekretariatan yang representatif; rekrutmen staf administrasi-keuangan; melakukan publikasi laporan naratif dan keuangan untuk seluruh aktivitas di LenteraTimur.com.

e.Latar belakang dan demografi pelaku proyek

Pemimpin proyek

laki-laki dengan pengalaman di bidang media selama 10 tahun, berusia 32 tahun, dan berasal dari kelas menengah.

Pelaku Proyek

laki-laki dan perempuan, berasal dari kelas menengah dengan rentang usia 28 tahun hingga 36 tahun, dan berlatar belakang (pekerjaan/pendidikan) dari media massa, humaniora, sastra, filsafat, teknik pertanian, hukum, ekonomi.

f. Demografik kelompok target

Pelajar, akademisi, aktivis, dan penggerak komunitas adat dengan rentang usia 20-40 tahun di daerah Medan, Gorontalo, Kalimantan Timur,Nusa Tenggara Timur, dan Ternate dengan social economy status (SES):B, C, dan D

g. Hasil yang diharapkan dan indikator keberhasilan

  • Peserta pelatihan jurnalistik memiliki kemampuan logika, kepekaan atas isu-isu sosial-kultural, kemampuan meliput (termasuk video), kemampuan menulis, daya tembus narasumber, memiliki kemampuan membangun dan merawat jaringan, memiliki kesadaran pluralisme dan multikulturalisme.

  • Terpublikasikannya karya dari peserta di LenteraTimur.com.

  • Peningkatan jumlah dan sebaran posisi pengunjung/pembaca LenteraTimur.com

  • Adanya laporan naratif dan keuangan atas keseluruhan proyek LenteraTimur.com

Indikator keberhasilan:

  • Mampu menghasilkan karya jurnalistik dengan perspektif pluralisme dan multikulturalisme.

  • Rekapitulasi data publikasi naskah dan respon masyarakat melalui tiap-tiap naskah, foto, atau video, serta email redaksi; twitter; facebook, google+, grup-grup Blackberry, dan berbagai mailing list.

  • Grafik pengunjung di situs www.alexa.com, Google Analytics, dan Cpanel, dari yang saat ini rata-rata 300-400 orang per hari, menjadi sekitar 1.000–2.000 orang per hari dengan variasi lokasi yang beragam.

  • Terpublikasikannya laporan program (online dan offline) di situs LenteraTimur.com per semester.

Keterkaitan proyek dengan perbaikan media dan keadilan sosial

Perbaikan media

LenteraTimur.com berharap dapat menjadi perangsang bagi seluruh media massa, baik kategori umum (berklaim nasional dan lokal) maupun tematik, untuk menggunakan paradigma pluralisme dan multikulturalisme dalam pemberitaan. Dengan demikian, perspektif dari pihak-pihak yang selama ini termarjinalkan dapat mengaktual dan turut memberi konteks dan warna dalam wacana publik yang dibangun media massa. Pada saat yang sama, media massa di tingkat lokal juga dapat menyadari kekuatan dan konteks wilayahnya tanpa harus tunduk pada perspektif yang dikeluarkan media massa berklaim nasional.

Keadilan sosial

LenteraTimur.com berharap gagasan multikulturalisme dapat mempengaruhi para pengambil keputusan, baik negara maupun swasta, agar tidak mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif. Dengan demikian, perspektif dari pihak-pihak yang selama ini termarjinalkan dapat turut mempengaruhi kebijakan sosial-politik di level lokal dan supralokal.

h. Durasi waktu aktifitas dilaksanakan:

Desember 2011 – November 2012.

i. Total kebutuhan dana untuk melakukan aktifitas:

Total dana: USD 40.464,71 ~ Rp. 343.950.000 (rincian terlampir).

Dana yang diminta dari Ford Foundation melalui Cipta Media Bersama: USD 35.294.15 ~ Rp. 300.000.000 (rincian terlampir).

Sumber dana lainnya (bila ada): Kas Perkumpulan LenteraTimur.com

j. Kontribusi organisasi:

1 (satu) situs LenteraTimur.com, 5 (lima) unit laptop, 1 (satu) unit televisi, 1 (satu) unit slide projector, 1 (satu) unit printer, 2 (dua) unit papan tulis, 1 (satu) set meja & kursi, 1 (satu) set rak buku, 1 (satu) unit pesawat telefon & fax, serta seluruh biaya iuran telefon, listrik, dan air.

k. Kontribusi dari kelompok target:

  • Fasilitas ruangan pelatihan dari kampus atau simpul komunitas yang berada di Jambi, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur.

  • 40 peserta pada tiap-tiap pelatihan

  • Karya jurnalistik terbaik dari peserta

  • Komentar atau perspektif masyarakat pembaca yang tampil di kolom komentar LenteraTimur.com.

  • Informasi atau masukan mengenai distorsi atau dinamika pluralisme dan multikulturalisme masyarakat di Jambi, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur.

Tags:



January 2012 | CC BY-SA 3.0