Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

Tidak Bermula Dan Tidak Berakhir Dengan Berita - Laporan Narasi Pertanggung Jawaban Hibah Termin II



Ucu Agustin

Wikimedia Indonesia

Instruksi untuk mengisi laporan penerimaan hibah

Wikimedia Indonesia mengharuskan seluruh penerima hibah melaporkan kegiatan mereka dalam bentuk laporan naratif dan laporan keuangan berdasarkan Perjanjian Penerima Hibah Cipta Media Bersama yang telah disepakati kedua belah pihak. Laporan naratif disarankan dalam bentuk lima hingga tujuh halaman.

Laporan dapat dikirimkan melalui surel atau dokumen asli

Penerima hibah : UCU AGUSTIN

Periode Laporan : 11 Oktober 2012 hingga 30 Juni 2013

Proyek : Tidak Bermula dan Tidak Berakhir dengan Berita / Di Balik Frekuensi

1. Pembelajaran

Silahkan tuliskan pembelajaran, acara-acara yang anda buat/ alami yang dapat membuat perubahan dalam satu tahun kedepan sebagai hasil dari upaya upaya yang anda buat dibawah hibah yang anda terima, perubahan-perubahan yang anda percaya dapat membatu organisasi/ komunitas anda mencapai tujuan-tujuannya dan/ atau kesulitan dan tantangan yang tidak anda perkirakan yang anda temukan dalam periode pelaporan hibah ini.

  • Musibah berupa kejadian tak terduga dari peristiwa alam seperti banjir Jakarta, bukan faktor yang kami pertimbangkan ketika melakukan penjadwalan untuk premier atau pemutaran perdana film dokumenter kami yang rencananya akan diakukan pada tanggal 17 Januari 2013. Kami tak memiliki back up planing. Ini membuat masalah teknis menjalar kemana-mana ketika kami secara spontan melakukan pemindahan jadwal premiere ke pekan selanjutnya yakni tanggal 24 Januari 2013 yang ternyata adalah hari libur nasional. Blitz Megaplex sebagai tempat launching acara memiliki prosedur harga berbeda untuk penggunaan ruang studio audi pada hari libur, sedangkan budget kami sudah over untuk booking studio audi karena panjangnya durasi film yang mengharuskan kami membook untuk 2 session (1 session, 2 jam). Dengan melakukan lobby berbagai pihak akhirnya Blitz sebagai pihak pemilik tempat untuk pemutaran perdana film, setuju untuk tidak menaikkan harga sewa meskipun acara launching tetap dilakukan pada hari libur. Kesepakatan melalui lobby tersebut bisa berhasil karena pembatalan acara sebelumnya (17 Januari) terjadi disebabkan musibah banjir (tak ada seorang pun yang menginginkannya) dan ketika kedua belah pihak sepakat untuk menjadwalkan ulang kembali tanggal peluncuran film, pihak blitz tidak melakukan complain atau pemberitahuan tentang hari libur tersebut kecuali 2 hari sebelum tgl 24 januari. Padahal pemilihan tanggal pengganti telah disepakati oleh kedua belah pihak di tanggal 18 Januari sehari setelah pembatalan acara launching karena musibah banjir Jakarta. Back up planing yang diperhitungkan sepenuhnya, ternyata sangat butuh dilakukan, dalam kondisi apapun.</br>

  • Durasi film yang lebih dari 2 jam ternyata mempengaruhi harga penyewaan studio audi. Kami terpaksa nombok dengan menggunakan budget dari pos lain untuk double price yang harus kami bayarkan di pos booking studio audio. Lain kali, korelasi antara budget dan durasi film ini akan sangat dipertimbangkan dari awal. </br>

  • Respon terhadap film yang begitu melimpah memang menjadi tujuan, dan alhamdulilah berhasil. Tapi ternyata tidak kami mempertimbangkan konsekuensi lain di urusan teknis distribusi. Setelah produksi serta post-produksi berakhir dan ditutup dengan launching film, hanya ada 2 orang anggota tim film yang tersisa dari tim besar yang sebenarnya cukup kecil untuk produksi sebuah film. 2 orang ini adalah Ursula Tumiwa, produser dan manajer roadshow serta Ucu Agustin, sutradara, inisiator project dan juga produser yang harus turut bertanggung jawab dalam distribusi. Meski kami sebenarnya telah tahu juga bahwa di akhir kami hanya akan tinggal berdua, tapi kenyataan ini ternyata cukup membuat kami kaget juga, terutama menyadari beban yang tak mungkin kami tanggung berdua. Roadhsow film yang merupakan bagian dari distribusi merupakan kerja besar dan menjadi elemen penting setelah film berhasil dibuat. Untuk membawa film hingga bisa diketahui dan dikenal orang serta ditonton oleh sebanyak mungkin penonton dengan cara distribusi independen yang tidak melalui jalur mainstream melalui pemutaran di bioskop adalah bagian yang tak mudah. Setidaknya, dibutuhkan 4 orang tim kecil untuk melakukan koordinasi, arrangement dll hal dari mulai menghubungi partner lokal untuk acara pemutaran dan melakukan kerjasama, pengaturan jadwal narasumber diskusi setelah pemutaran film, sampai mengurusi teknis di lapangan seperti sound-audio atau projector penyelenggara pemutaran yang tiba-tiba rusak di tengah jalan dll. Akhirnya kami merekrut seorang anggota tim lagi (bersifat semi voluntary) untuk mengatasi kendala kurangnya tenaga human resource dalam distribusi film ‘Di Balik Frekuensi’ semasa roadshow. </br>

  • Flkesibel di budget roadshow, menjadi kunci untuk distribusi yang lebih luas. Dari rencana 5 kota yang merupakan tempat pemutaran dan akan dikunjungi oleh film Di Balik Frekuensi (Jakarta - Bandung – Yogya – Sidoarjo – Denpasar), bertambah 4 Kota (Solo – Semarang – Malang – Surabaya) hingga total semua kota yang dikunjungi menjadi 9. Dengan total 62 pemutaran yang berbeda dalam kurun waktu antara setelah premiere tanggal 24 januari – 23 April dimana pemutaran penutup roadshow dilakukan di Salihara.</br>

  • Banyak peminat penyelenggara pemutaran yang karena antsusiasme dan rasa ingin tahu, memaksa untuk melakukan pemutaran dengan waktu yang sangat mepet. Misalnya baru mengirim email permintaan pemutaran 2 hari sebelum acara pemutaran dilakukan, bahkan ada yang baru memberitahu dan meminta materi film pada pagi hari nya untuk pemutaran di malam hari tersebut yang telah mereka jadwalkan tanpa memberitahu kami tim pembuat. Padahal kendala teknis distribusi seperti materi film yang dikirim via pos yang tidak sampai pada waktunya atau nyangkut di suatu tempat, terjadi beberapa kali – dimana sebenarnya hal ini sangat kami hindari. Alhasil, kami sempat memperketat prosedur kerjasama pemutaran terutama setelah jadwal roadshow selesai dan peminat penyelenggara pemutaran film masih sangat banyak. </br>

  • Pembuatan prosedur kerjasama pemutaran sangat berguna untuk mendapat data jumlah penonton dan feedback dari diskusi setelah pemutaran. Tapi meski telah membuat prosedur dan mengikat kesepakatan dengan para partner penyelenggara pemutaran untuk membuat laporan setelah kegiatan pemutaran dilakukan, ternyata tidak semua partner bisa memberikan laporan guna keperluan administratif seperti pencatatan jumlah penonton dan notulensi serta dokumentasi. Dari peristiwa ini kami belajar banyak tentang : ketika pemutaran tidak dihadiri langsung oleh tim dari pihak pembuat, maka rekaman dari diskusi setelah pemutaran tidak selalu bisa diandalkan untuk bisa memberi feedback kepada tim DBF, karena akan sulit untuk mendapatkannya sebab banyak dari penyelenggara pemutaran yang meski sudah ‘dikejar-kejar’ untuk membuat laporan setelah pemutaran, tetap tak mengirimkan laporan. Tapi biar bagaimanapun, kami sangat berterimakasih kepada semua para partner yang telah dengan sangat antusias menjadi agen untuk penyebar pengetahuan kritis di lokasinya masing-masing, terutama pemgetahuan kritis yang berfokus pada isu media.</br>

  • Inisiatif memegang peranan penting dalam distribusi. Setelah jadwal pemutaran keliling melalui roadshow selesai, ide #PekanMaydayBersama-DiBalikFrekuensi cukup berhasil menjaring dan mengumpulkan jumlah pemutaran dan jumlah penonton yang secara mengejutkan jauh lebih banyak dari hasil yang dilakukan melalui roadshow.

2. Aktivitas/ Isu yang Anda usung dan mencoba atasi

Berikut adalah aktivitas dan isu-isu yang anda masukkan pada permohonan hibah anda:

Melalui gambar-gambar yang tak dimanipulasi, memberikan gambaran tentang fakta-realita cara kerja pers di lapangan dalam melakukan peliputan sebagai contoh kerja yang baik, ataupun yang buruk. Alur cerita akan dibuat menarik, penuh emosi, dan bisa bercerita tentang pers indonesia secara utuh (meski tidak menyeluruh) film diharapkan dapat membuat pemirsa:

  • Memperhatikan isu independensi media, dimana berita yang ditayangkan memberitakan komersialisme, kepentingan pribadi/ golongan, juga perusahaan. Film diharapkan mampu membawa keluar permasalahan yang dihadapi pers di masa lalu, dan persiapan di masa mendatang supaya kegagalan jurnalisme dalam berpihak pada kebenaran dapat dihindarkan dan semangat independensi bisa tumbuh di dada para jurnalis generasi masa kini.

  • Mendapatkan informasi mengenai linimasa pers Indonesia bekerja dari waktu ke waktu hingga saat ini di era digital dengan harapan terjadi perbandingan kinerja pers Indonesia aneka jaman dan pergulatan permasalahan media di dalamnya, termasuk tentang bagaimana awal mula munculnya infotainment yang keberadaannya sampai sekarang masih menjadi kontroversi.

  • Mempertanyakan etika media, juga prinsip-prinsip utama jurnalisme di era digital yang kerap dikesampingkan dalam pemberitaan demi untuk persaingan dalam kecepatan dan komersialisme. Dimanakah akurasi dan verifikasi? kenapa rating begitu penting?

Film menjadi:

  • Sarana refleksi pekerja pers dalam meredefiniskan kembali apa arti media, jurnalisme, dan profesi mereka.

  • Sarana pemetaan posisi pers di antara banyaknya portal online independen dan berita yang dibuat oleh para citizen journalist yang bersungguh-sungguh ingin memberikan pelaporan yang baik, jujur dan akurat kepada sesama warga.

Aktifitas dan isu yang anda atasi

  1. Setelah berhasil melakukan pengambilan gambar tanpa dimanipulasi dengan mengikuti moment-moment atau peristiwa terkait isu pers dan media yang dihadapi para protagonist (tokoh utama) dalam film yang kemudian dirangkai menjadi cerita film dokumenter ‘Di Balik Frekuensi’, akhirnya untuk pertamakalinya di Indonesia, tersedia juga rekaman audio visual berupa feature length documentary tentang pers dan media yang diharapkan bisa menjadi sepenggal rekaman yang cukup penting untuk sejarah media serta cukup kuat untuk menjadi narasi tanding bagi cerita tentang pers dan media di Indonesia saat ini yang tak pernah muncul di televisi atau media mainstream dengan cerita tentang media yang tak pernah bisa diakses oleh publik.

  2. Setelah film selesai dan diputar di banyak tempat, kami mendapat banyak masukan termasuk tentang durasi film yang terlalu panjang, tapi di sisi lain juga banyak yang berpendapat bahwa film justru kurang panjang sehingga banyak penonton yang menyatakan bahwa film harus dibuat sekuelnya. Tentu saja dalam hal ini kami tak bisa membuat semua pihak senang. Sebagai sebuah produk, film ‘Di Balik Frekuensi’ sudah selesai dibuat dan sebagai tim pembuat kami tahu pasti apa yang kami lakukan serta konsekuensi-konsekuensinya termasuk konsekuensi dari durasi yang panjang. Merespon masukan tentang durasi tersebut, kami hanya menyatakan bahwa sedari awal tim pembuat telah sadar bahwa public Indonesia harus melihat fakta realita tentang pers dan media di negerinya ini, terutama menjelang PEMILU 2014 mendatang (yang ironisnya fakta tentang ini justru sering disembunyikan media dari public karena terkait kepentingan pemilik media itu sendiri). Durasi film harusnya tak menghilangkan substansi dari konten dalam film yang menurut hampir semua penonton yang memberi masukan setelah pemutaran film, berpendapat bahwa film ini penting dan wajib ditonton oleh orang Indonesia terutama yang memiliki konsern tentang pers dan media. Dari pengalaman roadshow serta pemutaran keliling yang sempat kami hadiri langsung ataupun dari laporan yang kami baca melalui notulensi yang dikirim pihak peyelenggara, kami yakin bila film dokumenter ‘Di Balik Frekuensi’ diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah fillm yakni ditonton di ruangan gelap dengan audio yang memadai dan projector yang memiliki kualitas gambar layak tonton, maka meski durasi film versi Indonesia lamanya sepanjang 2,25 jam, tapi kami tahu pasti bahwa penonton masih akan merasa betah diajak duduk sambil menikmati gambar dan berpikir tentang landscape media di Indonesia serta isu yang ada dalam film, dan tidak akan keluar ruangan sampai film selesai.

  3. Dalam proses post-produksi se-kreatif mungkin kami telah melakukan hal terbaik yang kami bisa lakukan. Meski tema yang diusung dalam film ‘Di Balik Frekuensi’ bercerita mengenai isu media yang menurut sebagian orang cukup ‘garing’ dan tidak ‘basah’ emosi serta memerlukan kreatifitas yang tinggi untuk mengolahnya hingga bisa menjadi tontonan yang menarik serta secara substansi penting untuk ditonton, dengan ketekunan tim produksi dalam mengikuti peristiwa yang terjadi pada tokoh dalam film serta seluruh drama juga emosi yang menyertainya, setelah film diluncurkan dan ditonton publik Indonesia, kami berhasil mendapat masukan yang menyatakan bahwa film telah membuat penonton:

  • Mampu memperhatikan isu independensi media ⇒ banyak respon melalui akun twitter kami @dbalikfrekuensi dan media social lainnya juga via email dimana mereka yang telah menonton film DBF menyatakan bahwa kini mereka mampu membedakan berita-berita yang penuh dengan bias kepentingan ekonomi-politik si pemilik media, serta mana yang sebenarnya berita penting untuk mereka. Bila ada tayangan di TV dimana pemilik media muncul atau iklan yang berhubungan dengan kepentingan ekonomi-politik pemilik media begitu banyak, banyak juga mention yang kami terima di akun twitter kami.

  • Membangkitkan solidaritas, kesadaran berserikat, dan integritas terhadap etika profesi di kalangan para jurnalis ⇒ Dari banyak obrolan dengan sesame teman jurnalis, di kalangan pers & media, film DBF telah menjadi perbincangan positif. Di lapangan ketika kami melakukan roadshow bersama tokoh dalam film, Luviana, kami melihat sendiri bahwa solidaritas dari teman-teman sesama wartawan baik yang terutamanya tergabung dengan AJI maupun tidak, ada dan terlihat. Ketika film diputar oleh IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), ramai-ramai para peserta nobar dan diskusi yang adalah jurnalis televisi, memberi dukungan pada Luviana dan curhat tentang kondisi di tempat kerja masing-masing setelah film usai. Di Surabaya dan Pekanbaru, para jurnalis mengakui bahwa masalah yang dihadapi tokoh dalam film kami, Luviana, adalah masalah seluruh jurnalis juga. Mereka menyatakan bahwa sampai saat ini, memang masih banyak media yang tidak membolehkan jurnalisnya membuat serikat pekerja padahal serikat pekerja adalah organisasi yang bisa membantu para jurnalis mendapat posisi tawar yang lebih baik serta membuat mereka bisa lebih independen dalam menjalankan profesi jurnalis di tempat usaha media mereka masing-masing. Para jurnalis ini melihat pentingnya apa yang diupayakan Luviana untuk juga diupayakan oleh mereka. Kesadaran berserikat harus terus digembar-gemborkan, dan integritas terhadap profesi jurnalis serta etikanya adalah perisai yang membuat jurnalis tetap bisa independen dalammenjalankan tugasnya.

  • Membangkitkan independensi di kalangan pekerja media ⇒ respon dari para pekerja pers yang telah melihat film DBF, rata-rata menyatakan salut atas etos serta keberanian jurnalis seperti Luviana yang mampu melawan ketidak-adilan dan mengkritisi banyak hal yang berkenaan dengan isu pers dan kesejahteraan wartawan di tempat kerjanya. Kami tidak tahu apakah memang sebuah film bisa membangkitkan semangat indepensi di kalangan para pekerja media? Kami hanya menyadari bahwa Inspirasi dari tokoh jurnalis yang memiliki intergritas seperti Luviana ini penting untuk ada, dalam upaya untuk memupuk inspirasi tumbuhnya independensi di kalangan para jurnalis, terutama di era dimana para jurnalis tampak terjepit dalam konglomerasi media. Semakin banyak jurnalis yang terinspirasi akan etos seperti yang dimiliki Luviana, maka akan semakin baik.

  • Penonton mampu mempertanyakan etika media & prinsip-prinsip utama jurnalisme ⇒ respon dan pendapat setelah film di launching ke publik dan ditonton, sepenuhnya kami serahkan pada publik sendiri untuk mengapresiasinya. Di kalangan diluar media, terjadi berbagai macam respon di antaranya dari kampus-kampus fakultas komunikasi dan atau jurusan jurnalistik yang juga menjadi sasaran utama target pemonton film DBF. Terjadi gelombang kegalauan besar di antara para mahasiswa yang rata-rata di masa depan, kelak mereka menginginkan untuk menjadi jurnalis atau bekerja di media. Melihat kenyataan yang terpampang dalam film, mereka menjadi resah dan mempertanyakan ulang keinginannya. Yang belum yakin rata-rata menyatakan ‘rasanya jadi tidak minat lagi untuk jadi jurnalis atau pekerja media’ setelah menonton film DBF. adapun mereka yang telah yakin dengan pilihannya untuk mejadi jurnalis, sangat membanggakan menyatakan tetap akan menjadi jurnalis tapi akan berusaha menjadi jurnalis atau pekerja media seperti luviana. Dengan sangat kritis para mahasiswa ini mampu melihat praktek kerja media dan prinsip-prinsip utama jurnalisme yang pada kenyataannya di lapangan sebagaimana yang berhasil terekam dalam film, tidak sama dengan apa yang mereka dapatkan di mata pelajaran tentang jurnalisme yang mereka dapat di bangku kuliahan.

Dengan melihat sebagian kecil respon-respon tersebut di atas, maka sejauh ini film DBF yang kami produksi di bawah hibah Cipta Media Bersama, bisa menjadi film untuk:

  • Sarana refleksi pekerja pers & media untuk mencoba mendefinisikan kembali arti media, jurnalisme, dan profesi jurnalis di masa 15 tahun setelah reformasi dan media bertransformasi ke era konglomerasi.

  • DBF bisa menjadi sarana pemetaan landscape media dan korporasi serta rekaman situasi dan keadaan para jurnalis Indonesia saat ini, yang digambarkan melalui medium audio-visual. Dimana cerita dan rekaman seputar kehidupan dan dunia pers dan media tersebut, bisa diakses oleh public yang selama ini seakan memiliki gap antara mereka-publik sebagai konsumen berita dengan mereka-media &pekerja pers sebagai pensuplai berita/informasi.

  1. Indikator sukses anda dalam permohonan hibah
  • Membuka ruang untuk kritik dan mempertanyakan cara kerja media dalam arti jurnalisme dan profesi jurnalis dalam pandangan public

  • Masukan dari jurnalis dan diskusi.

  • Pembicaraan dan pembahasan oleh jurnalis mengenai film

  • Pemutaran kembali film

  • Film menjadi materi lokakarya lembaga AJI, ISAI, LSPP dan lembaga sejenis

  • Respon dari mahasiswa dan perguruan tinggi dalam memutar film untuk umum.

Hasil aktual hingga laporan ini dibuat

  • Ruang kini telah terbuka. Banyak diskusi yang telah terjadi setelah film ini diluncurkan. Meski terbatas dalam diskusi seusai pemutaran film, publik yang ternyata sebenarnya telah mengendus juga beberapa situasi tak sehat di kalangan pekerja pers dan media, melalui kenytaan yang terekam dalam film dan dilihat oleh public, public menjadi lebih terbuka dan melek akan kondisi yang sebenarnya kini tengah terjadi : bahwa pers dan media serta pekerjanya yang memproduksi informasi untuk mereka, tidak selalu melulu bekerja untuk kepentingan public. Rata-rata mereka para penonton dari kalangan masyarakat umum menjadi lebih kritis dan sadar akan seting atau agenda media yang dibuat melalui kanal-kanal media terutama TV, yang setiap hari beritanya datang dan masuk silih berganti di rumah mereka.

  • Melalui diskusi dan masukan yang terjadi dengan para jurnalis seusai pemutaran, kami semakin menyadari bahwa apa yang terekam dalam film DBF memang hanya sebagian kecil saja dari peristiwa media atau pergolakan yang kini tengah terjadi di industry media di Indonesia. Cerita yang lebih besar tentang media di Indonesia masih sangat banyak dan masih perlu lebih banyak lagi untuk di-ekspos.

  • Para jurnalis kini membicarakan isu dalam film Di Balik Frekuensi. AJI-AJI Kota di Indonesia menggunakan film DBF sebagai materi dalam diskusi-diskusi media yang dilakukan mereka. Aliansi Melawan Topeng Restorasi (METRO) dan elemen-elemen organisasi yang tergabung di dalamnya – yang selama ini mendampingi kasus Luviana, bahkan berencana untuk melakukan gugatan public terhadap frekuensi public yang digunakan oleh stasiun-stasiun TV nasional yang menyelewengkan kegunaannya untuk kepentingan mereka.

  • Pemutaran kembali film telah dilakukan dimana-mana.

Sebagai data, sampai saat ini telah terjadi pemutaran :

  • Selama masa roadshow resmi : terjadi sebanyak 62 pemutaran (setelah premiere 24 Januari s/d 23 April) dengan total penonton yang tercatat sebanyak 6.103 orang *banyak yang tak tercatat. *data terlampir
  • Pekan Mayday Bersama Di Balik Frekuensi : terjadi 83 pemutaran secara serentak di seluruh Indonesia (pemutaran sepekan dilakukan antara tgl 27 April s/d 4 Mei 2013) dengan total penonton tercatat 8.258 pentononton *banyak yang tak tercatat. *data terlampir
  • Bulan Mei 2013 - setelah PekanMayday-DBF : terjadi 11 pemutaran, dengan jumlah penonton tercatat 1.313 orang (*banyak yang tak tercatat) data terlampir

Catatan : pada periode ini banyak pemutaran yang dilakukan mulai tanpa sepengetahuan tim DBF, salah satunya pemutaran yang terjadi di hotel Maya Kupang pada bulan Mei. Diketahui oleh tim DBF karena ada mention di twitter, tapi tak lama setelah dikonfirmasi via akun twitter tersebut, timeline tentang pemutaran hilang (dihapus) dan kami tak pernah mendapat mendapat kabar dari pihak penyelenggara pemutaran. Diasumsikan pemutaran tanpa pemberitahuan yang membuat kami tak bisa mencatat jumlah data penonton dan tak mendapat feedback dari diskusi setelah pemutaran ini terjadi karena kurang lebih telah tersebar sekitar 200-an copy film DBF yang telah beredar diluar untuk kepentingan partner pemutaran.

  • Bulan Juni 2013 : terjadi 6 pemutaran DBF dengan jumlah penonton kurang lebih sekitar 500 orang. *data terlampir

Dengan berbagai catatan dll hal tersebut di atas, termasuk pemberitahuan dari para partner di AJI-AJI Kota dan KPI-Daerah serta kampus yang sebelumnya telah melakukan pemutaran – dimana mereka menyatakan bahwa film DBF kembali diputar di kelas-kelas mata kuliah komunikasi/jurnalistik, kami mengasumsikan bahwa sampai saat ini film DBF telah ditonton oleh hampir sekitar 20.000 orang di seluruh Indonesia. Melihat angka pemutaran sampai bulan Juni 2013, kami sangat senang danantusias karena sampai saat ini berarti pemutaran film DBF masih terus terjadi dan diadakan oleh para partner penyelenggara pemutaran setiap minggunya.

  • Film DBF menjadi materi lokakarya lembaga media dan kajian media seperti AJI, KPI dan KPI Daerah, LSPP dan lembaga sejenis.

  • Respon dari mahasiswa dan perguruan tinggi dalam memutar film untuk kampus dan public umum sangat banyak. Mahasiswa dan lembaga kampus adalah para partner yang sejauh paling antusias dalam menyelenggarakan pemutaran film dan melakukan diskusi setelahnya.

Sampai saat laporan ini dibuat, permintaan pemutaran untuk bulan Juli dan Agustus belum masuk, tapi permintaan pemutaran untuk bulan September telah masuk melalui aku email kami : behindthefrequencyfilm@gmail.com. Hal ini sepertinya terkait erat dengan masa libur kampus.

4. Tujuan dan Sasaran

Silahkan anda jelaskan apa yang telah anda berhasil peroleh dengan hibah ini yang berkaitan dengan tujuan yang lebih besar yang anda harapkan dapat anda capai

Sasaran-sasaran yang diharapkan dapat dicapai

A. Tersedianya film dokumenter tentang media arus utama di Indonesia yang kritis dan mampu menggugah dan menginspirasi penontonnya untuk melakukan perubahan.

B. Tersosialisasinya film dokumenter tentang kinerja pers dan media ini pada 5 target pemirsa:

a. Untuk pekerja media: perubahan perilaku yang lebih membela kepentingan publik dibandingkan keuntungan perusahaan atau pemilik stasiun berita.

b. Untuk lembaga studi yang berkenaan dengan pers & media: menambah satu referensi untuk kajian mereka tentang media & pers indonesia.

c. Para mahasiswa di universitas-universitas yang memiliki Jurusan Jurnalistik dimana mereka adalah para calon pekerja media di masa depan: pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana media bekerja.

d. Untuk publik & komunitas penggiat film serta dokumenter: perubahan sikap dari tadinya menerima apa adanya penayangan-penayangan berita menjadi lebih awas dalam memilih informasi yang mereka terima. Memberi kontribusi untuk film-film dokumenter Indonesia dengan angle yang membidik para pekerja pers yang selama ini tidak dilirik oleh pembuat film dokumenter di Indonesia.

e. Untuk publik luar Indonesia, melalui festival dan sharing di jejaring maya (akan di share di portal2 media dan thread jalur distribusi online juga crowd sourcing seperti Engage Media /Youtube/Vimeo dll) : berbagi sudut pandang dan perspektif tentang pers dan media di Indonesia, yang diharapkan melalui komentar-komentar yang kontsruktif, bisa memberi feedback baik untuk kondisi media dan pers Indonesia maupun untuk filmnya sendiri.

Tujuan yang berhasil dicapai hingga saat ini

A. Untuk pertamakalinya di Indonesia, melalui hibah Cipta Media Bersama, tersedia dan akhirnya ada dibuat sebuah film documenter panjang yang membahas secara spesifik isu media dan pers di Indonesia di era konglomerasi media. Film ini telah diputar dibanyak tempat dan mendapat respon positif, sebuah indikasi bahwa film yang kami buat telah menginspirasi dan menggugah penonton untuk saling mengabarkan isu dan konten yang ada dalam film yang mengajak penonton untuk menjadi warga yang kritis. Kekritisan adalah awal sebuah perubahan. *semoga.

B. Film documenter yang dibuat selama 1,2 tahun dari awal riset sampai film ini diluncurkan pada bulan januai 2013 ini, telah disosialiasikan di 4 target pemirsa dari 5 jenis pemirsa yang menjadi target kami.

  1. Film telah disosialiasikan di antara para pekerja media : Inspirasi telah ditularkan dan perubahan telah terlihat meski pelan dan hanya terjadi di kalangan pers tertentu. Untuk menggapai target perubahan perilaku pekerja media secara keseluruhan, dibutuhkan lebih banyak lagi upaya, baik pembuatan film documenter serupa atau upaya lainnya. Tapi sebagai permulaan, sebuah langkah at least telah dibuat.

  2. Lembaga studi dan lembaga media kini telah memiliki satu tambahan lagi referensi yakni berupa media audio-visual : yang keberadaannya ternyata sangat dibutuhkan dan telah lama dinanti. Ignatius haryanto direkstur LSPP, Amir Effendi Siregar Ketua Dewan Pemimpin SPS Pusat, Nina Armando komisioner KPI pusat, adalah untuk menyebut sedikit dari mereka dan lembaganya yang merespon kehadiran film ini dengan antusias dan telah turut menjadi agen distribusi.

  3. Para mahasiswa di kampus dan universitas yang memiliki Fakultas Komunikasi / Jurusan Jurnalistik dimana mereka adalah para calon pekerja media di masa depan: adalah bukan hanya target penonton kami, tapi juga perespon dan peyelenggara pemutaran yang paling progresif. Dari 162 penyelenggaraan pemutaran yang telah tercatat, sekitar 70% permintaan pemutaran datang dari kampus. Hal ini mengindikasikan adanya keinginan untuk melakukan perubahan pemahaman di kalangan mahasiswa dan kampus mengenai isu pers dan media serta cara kerja media di lapangan yang sesungguhnya.

  4. Publik dan komunitas penggiat film documenter : adalah juga bagian yang merespon dengan antusias keberadaan film ini. Dalam tiap diskusi yang dilakukan setelah pemutaran, public dan komunitas mengaku mendapat gambaran lebih jelas tentang peta media dan landscape-nya di Indonesia, juga berbagai kepentingan yang terkait pemiliknya. Keberadaan film DBF menambah satu lagi list film documenter di Indonesia, khususnya yang bicara tentang media.

  5. Sosialisasi dan distribusi untuk publik luar Indonesia sampai saat ini belum dilakukan. Dalam moment #pekanmaydaybersama-DiBalikFrekuensi, Perkumpulan Pelajar Indonesia di Melbourne mengundang film ini untuk discreening di acara pemutaran film tahunan yang biasa mereka lakukan dan mendapat sambutan yang hangat. Pada pertengahan Juni, programmer dari International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) menyatakan tertarik untuk melihat film DBF, dan bila masuk dalam seleksi, maka film ini akan diputar di IDFA 2013 di Amsterdam dalam sesi Focus on South East Asia (*semoga). Untuk distribusi luar negeri, kami akan mengirimkan film ini ke beberapa festival film internasional baik yang sifatnya spesifik dokumenter maupun yang memiliki spesifikasi tema khusus seperti festival film yang berkenaan dengan isu-isu kemanusiaan juga festival film bertema general. Sebagai film membahas isu media, Di Balik Frekuensi juga telah menerima beberapa respon ketertarikan untuk memutar sebagi bahan kajian dari beberapa kampus di luar Indonesia seperti Australian National University (ANU) – Australia, dan University of Malaysia – Malaysia.

5. Perubahan Lingkup Organisasi/ Lingkungan Sekitar

Tolong jabarkan perubahan perubahan signifikan yang organisasi anda dapatkan yang memiliki dampak pada pekerjaan anda pada periode pelaporan yang anda lakukan untuk saat ini. Masukkan secara deskriptif bagaimana anda menangani perubahan perubahan tersebut dan bagaimana perencanaan anda berubah sebagai hasilnya.

Perubahan signifikan di lingkup penerima hibah : Penerima hibah CMB, sutradara Ucu Agustin yang dalam produksi film yang dia kerjakan sebelumnya lebih banyak melakukan pengarahan (directing) dengan pengalaman beberapa kali menjadi produser untuk project-project film independennya dan satu kali menjadi co-producer untuk project feature length film documenter pertamanya ‘Konspirasi Hening/ Conspiracy of Silence’ yang diproduseri Nia Dinata, kali ini untuk pertamakali benar-benar mendalami menjadi produser. Dari membuat anggaran, merekrut tim – termasuk mencari partner produser Ursula Tumiwa, melakukan distribusi, membuat inisiatif alternative untuk pemutaran berkelanjutan, dan mengurusi distribusi ke beberapa festival film internasional serta melakukan maintenance dengan para partner penyelenggara pemutaran sebelumnya, dilakukan oleh Ucu. Pada awalnya hal-hal tersebut membuat penerima hibah agak kewalahan karena terbiasa hanya melakukan urusan kreatif dan non - administrtaif, tapi mempelajarinya dengan cara langsung mengalami dan praktek lapangan bersama partner produser Ursula Tumiwa, membuat penerima hibah pelan tapi pasti mampu meng-handle situasi-situasi dihadapi terutama situasi yang berkenaan dengan urusan distribusi. Pengalaman tersebut membantu banyak perubahan sudut pandang dan membuat penerima hibah bisa meng-aplikasikan penglaman selama 1,5 tahun dalam menangani project TBDTBD yang berubah menjadi DBF ini - untuk project-project yang akan dikerjakan selanjutnya setelah project film Di Balik Frekuensi selesai. Dan pengalaman ini sangat berharga.

Tantangan/ masalah organisasi/ pengelolaan yang dihadapi

Isu-isu manajemen atau organisasi apakah yang anda hadapi pada saat anda menuliskan laporan ini (apakah ada perubahan signifikan pada komposisi staf/ dewan atau anggota tim anda. Apakah ada faktor-faktor lain yang dapat membatasi kemampuan organisasi/ komunitas anda untuk mengumpulkan data dan menerjemahkan data data keuangan atau aktifitas yang terkait dengan program dalam tujuan awal). Bila mungkin juga tuliskan dan tekankan kebutuhan yang belum terpenuhi/ teridentifikasi sebelumnya dalam menangani penguatan organisasi/ komunitas anda

Tantangan :

  • Distribusi ⇒ Ketika sebuah produk selesai dibuat, maka hal penting berikutnya yang akan membuat produk itu berguna dan dilihat oleh lebih banyak orang, adalah urusan distribusi. Bagi penerima hibah, distribusi merupakan hal baru. Tanpa bantuan promosi besar dan hanya melalui acara peluncuran/premiere dimana pihak pembuat film mengundang wartawan dan setelah itu menggunakan social media sebagai alat promosi, maka peresponpun datang. Yang menjadi masalah adalah ketika perespon yang berminat untuk melakukan pemutaran ternyata melebihi ekspektasi sedangkan di tim tinggal ber-dua saja. Maka perencanaan dan pembagian kerja lebih detail itu yang pertama dilakukan. Ucu menangani promo acara secara berkelanjutan melalui social media : facebook dan twitter. Ursula menangani kontrak dengan para partner local dan menangani administrasi serta pengaturan jadwal roadshow. 1 orang rekrutmen semi-volunteer, membuat database, melakukan pengelolaan permintaan pemutaran yang datang melalui email, dan mengurusi administrasi pasca pemutaran untuk para partner yang telah selesai melakukan pemutaran alias memintai laporan.

  • Lama waktu pengerjaan project yang menjadi lebih panjang (harusnya selesai desember 2013, namun jadwal pengerjaan program distribusi ternyata berakhir pada bulan Mei 2012, dan tuntas pada Juni 2013) membuat salah satu tim inti penerima hibah, Ursula, yang telah melakukan komitmen dengan project lain di tahun 2013, harus hengkang dari tim setelah berkomitmen untuk menyelesaikan semua kewajiban dan tugas di project DBF Cipta Media Bersama. Kehilangan partner utama ini, cukup terasa berat bagi Ucu sebagai Individu penerima hibah karena keberadaan partner Ursula selama ini sangat signifikan terutama dalam saling mengingatkan schedule kerja serta menjaga dinamika tim, dan urusan penanganan administrasi. Untuk mengatasi hal tersebut, kami melakukan pembagian kerja yang lebih terkonsentrasi sejak bulan April 2013. Seusai pemutaran penutup roadshow DBF dengan dilakukan pemutaran di Salihara bersama AJI Jakarta pada 23 April 2013, Ursula lebih focus untuk melakukan pelaporan administrasi. Sedangkan Ucu melanjutkan strategi distribusi lanjutan setelah roadshow dan menjalankannya bersama tim rekrutmen untuk #pekanmayaday-DBF.

  • Adapun untuk lanjutan distribusi international film DBF, penerima hibah akan melakukannya seorang diri dan akan merekrut staff lain bila diperlukan, dengan budget yang diatur sedemikian rupa karena untuk pos administrasi hanya ada 1 budget fee admin yang di dalamnya termasuk harus mengurusi dan merangkap kerja:

  1. admin distribusi internasional ke festival-festival film luar negeri.

  2. admin distribusi dalam negeri (karena permintaan pemutaran masih banyak dan harus dilayani)

  3. admin social media : facebook & twitter serta promo event.

  4. admin untuk urusan administrasi dan pelaporan aktivitas serta keuangan project distribusi film.

6. Keberagaman

Silahkan ditulis perubahan perubahan yang berpengaruh dalam keberagaman (contohnya apabila anggota komunitas, dewan, atau komposisi staf anda mulai beragam dari sisi jenis kelaminnya, suku, pendidikan, umur, budaya, agama, latar belakang asal lokasinya, bahasanya, dan lain sebagainya) dalam periode pelaporan ini. Apabila organisasi/ komunitas anda mengalami tantangan keberagaman, silahkan tuliskan juga pendapat anda.

Ada perubahan keberagaman pada proses distribusi seusai film diluncurkan. Setelah secara otomatis anggota tim DBF tinggal berdua, yaitu inisiator project dan co-inisiator project, tim DBF melakukan rekrutmen baru: Inisiator project & sutradara : perempuan. Produser : perempuan. Volunteer yang membantu manajemen roadshow : perempuan. Tim rekrutment untuk admin #pekanmayadaybersama-DBF : perempuan.

7. Laporan keuangan

Silahkan masukkan pranala laporan keuangan anda disini

http://ciptamedia.org/wiki/Templat:Ucu-Termin2

8. Pengesahan

Saya, sebagai penandatangan, menyatakan bahwa saya adalah individu yang berwenang untuk menyerahkan laporan ini atas nama komunitas/ organisasi saya sesuai dengan persyaratan yang dicantumkan pada Perjanjian Hibah Cipta Media Bersama yang telah ditandatangani sebelumnya dan seluruh dana yang dibelanjakan telah dibelanjakan sesuai dengan tujuan-tujuan yang tercantum dalam permohonan hibah.

Tertanda: Lokasi dan tanggal:

Utan Kayu, 30 Juni 2013

Ucu Agustin

Tags: