Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Beranda > Penerima Hibah CMB > JRKL > Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di Sekolah (Pesawaran)

Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di Sekolah (Pesawaran)

200px-Juli_13_JRKL_Sosialisasi_Pemantauan_dan_Pengkritisan_Tayangan_Televisi_di_Sekolah.JPG

Tujuan : Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di Sekolah (Pesawaran)

Lokasi : SDN 3 Hanura

Alamat : Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung

Jam : 08.00 - 10.45 WIB

Hadir :

  • Redyson Candra Jaya (JRKL)
  • 2 orang pegiat RGL FM
  • 3 orang pegiat Pantau TV Padang Cermin

Ringkasan :

Proses Kegiatan

  • Pada hari Jum’at, 13 Juli 2012, Redyson selaku staff JRKL, Agus Guntoro dan Susmiadi selaku pegiat RGL serta tiga orang dari ibu rumah tangga anggota Pantau TV Padang Cermin, yaitu Ibu Anggi, Ibu Mastini, Ibu Suryati bersama-sama berangkat ke Sekolah Dasar Negeri 3 Hanura yang disambut hangat oleh pihak sekolah pada pukul 08.00 WIB. Tim sosialisasi memperkenalkan diri kepada guru-guru lalu guru mengantarkan tim sosialisasi ke ruang belajar siswa-siswi.
  • Kegiatan sosialisasi dimulai pada pukul 08.25 WIB WIB yang dibuka oleh Ibu Nurhayanah, S.Pd selaku Kepala Sekolah Sekolah Dasar Negeri 3 Hanura. Dalam sambutannya, Ibu Nurhayanah, S.Pd menerangkan bahwa acara ini dilakukan untuk menyampaikan informasi tentang tayngan televisi serta dampak-dampak yang ditimbulkan. Ibu Nurhayanah, S.Pd juga mengucapkan terimakasih pada tim sosialisasi yang menyempatkan waktu bagi siswa-siswi dan berharap informasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi siswa-siswi.
  • Sesi selanjutnya dalah sambutan dari Agus Guntoro selaku pegiat RGL FM yang mengemukakan bahwa tim sosialisasi ingin berbagi pengetahuan tentang tayangan televisi. Agus menjelaskan bahwa televisi sangat akrab dengan siswa-siswi namun tidak semua tayangan televisi baik untuk ditonton. Agus menerangkan bahwa tim sosialisasi akan memberikan gambaran tentang dampak-dampak yang ditimbulkan dari tayangan televisi.
  • Ibu Anggi selaku Ibu-Ibu Pantau TV menggali kebiasaan menonton tayangan televisi dengan menanyakan aktivitas siswa-siswi dari pagi hingga pulang sekolah. Beragam pengakuan dari siswa-siswi mulai dari menonton sejak pagi, lupa mengerjakan pekerjakan rumah. Siswa-siswi mengaku suka menonton tayangan kartun karena dianggap lucu. Selain itu siswa-siswi juga mengaku senang menonton sinetron karena adegan percintaan, gisip dan ada pula yang mengaku senang nonton tom and jerry. Pengakuan siswa-siswi terkadang meniru adegan yang ditayangkan di televisi.
  • Ibu Anggi menanyakan manfaat dari televisi lalu siswa-siswi menjawab yaitu tayangan berita dan pendidikan seperti si bolang. Ibu Anggi menjelaskan bahwa tayangan televisi tidak semuanya baik untuk ditonton. Ibu Anggi mulai menjelaskan adegan yang tidak baik dari tayangan kesukaan siswa-siswi, Ibu Anggi menjelaskan bahwa tidak baik jika memanggil teman dengan kata kamseupay (kampung sekali udik payah), rakyat jelata, adegan percintaan yang ditonton oleh anak yang belum dewasa. Ibu Anggi mencontohkan tayangan yang baik untuk ditonton leh anak-anak seperti koki cilik dan si bolang.
  • Sesi selanjutnya Ibu Masti menjelaskan bahwa media televisi banyak dampak negatifnya. Ibu Masti mnegatakan bahwa tadi ada siswi yang mengaku senang nonton televisi karena adegan pacaran, Ibu Masti menjelaskan bahwa usia siswa-siswi masih dibawah umur, namun telah mengerti tentang pacaran, hal ini merupakan salah satu dampak dari tayangan televisi.
  • Ibu Masti kembali menggali kebiasaan menonton siswa-siswi lalu diberikan pengarahan tentang mana tyangan yang baik untuk ditonton dan mana yang tidak baik untuk ditonton. Ibu Masti mengingatkan siswa-siswi bahwa dampak negtif tayangan televisi yaitu mencontoh adegan yang tidak baik, sedangkan dampak positifnya dapat memperoleh informasi yang bermanfaat.
  • Sesi selanjutnya, Fasilitator melakukan sosialisasi dengan sesekali mengajak siswa-siswi berinteraksi tanya-jawab, harapannya agar suasana lebih cair sehingga informasi yang diberikan lebih mudah dipahami oleh siswa-siswi.
  • Fasilitator menyampaiakan bahwa diakhir acara diadakan kuiz yang diundi untuk mendapatkan hadiah berupa alat tulis. Lalu Redyson mulai menggali kebiasaan siswa-siswi dalam menonton televisi saat di rumah. Siswa-siswi berebut menjelaskan kebiasaan menonton mereka hingga larut malam. Redyson mencoba menyadarkan siswa-siswi dengan menjelaskan bahwa dalam mengejar cita-cita tidak dengan cara banyak-banyak menonton tayangan televisi. Redyson melanjutkan bahwa anak-anak Indonesia adalah anak yang cerdas-cerdas yang rajin belajar dan banyak membantu orang tua dan sedikit menonton tayangan televisi.
  • Fasilitator mulai menjelaskan dampak negatif tayngan televisi dengan mencjelaskan bahwa biasanya anak-anak mengikuti adegan dari tayangan televisi baik itu buruk ataupun baik. Contoh yang buruk seperti memangil temannya dengan rakyat jelata, mengikuti adegan kekerasan, berkata tidak sopan, merencanakan kejahatan, menekan teman sekolah agar memberikan contekan dan lain sebagainya. Redyson menegaskan bahwa banyak adegan televisi yang menjerumuskan siswa-siswi pada perilaku yang tidak baik oleh sebab itulah siswa-siswi harus bijak memilih tayangan televisi.
  • Fasilitator menggali pengetahuan siswa-siswi tentang kegiatan yang bermanfaat diluar dari menonton tyangan televisi. Siswa-siswi menjelaskan bahwa kegiatan yang bermanfaat yaitu membantu orang tua, mengerjakan pekerjaan rumah, mengaji.
  • Fasilitator mulai menggali pemahaman siswa-siswi tentang upaya apa saja yang dilakukan guna menghindari dampak negatif tayangn televisi. Siswa-siswi menjawab bahwa cara yang dilakukan agar terhindar dari tayangan televisi yaitu dengan cara mematikan televisi, mengganti ke tayangan yang lebih baik, tidak menonton larut malam, belajar terlebih dahulu dan ada yang mengatakan bahwa matikan saja televisinya.
  • Sesi selanjutnya, Ibu Anggi kembali menjelaskan pada siswa-siswi bahwa tayangan televisi yang baik untuk ditonton anak-anak adalah tayangan yang memiliki unsur pendidikan yang baik, hindari tontonan yang menayangkan adegan kekerasan, mistis, gosip, percintaan. Ibu Anggi menerangkan bahwa tayangan televisi menayangkan klasifikasi usia bagi masyarakat seperti BO yang artinya Bimbingan Orangtua, D yang artinya Dewasa, R-BO yang artinya Remaja-Bimbingan Orangtua dan SU yang artinya Semua Umur. Ibu anggi mengajak siswa-siswi agar menonton tayangan yang sesuai dengan usia. Jika belum dewasa maka hindari menonton tayangan yang dewasa.
  • Sesi selanjutnya tim sosialisasi mengadakan kuis bagi siswa-siswi. Ibu-ibu membuat pertanyaan kuis, yaitu menyebutkan acara televisi yang baik untuk ditonton oleh pelajar yang mengandung pendidikan, menyebutkan acara televisi yang tidak baik untuk ditonton oleh pelajar, dan memberitahu bagaimana cara menghindari tayangan yang tidak baik.
  • Jawaban ditulis di selembar kertas yang sebelumnya telah dibagikan pada masing-masing siswa-siswi. Waktu yang diberikan untuk menjawab pertanyaan kuis sekitar 20 menit.
  • Setelah jawaban dari masing-masing siswa-siswi dikumpulkan pada tim sosialisasi, maka tim sosialisasi mulai sibuk mengkoreksi jawaban dari masing-masing siswa-siswi. Setelah rembug beberapa menit, akhirnya tim diskusi memutuskan calon penerima hadiah. Pemenang dipanggil satu per satu dengan pembagian hadiah berupa alat tulis.
  • Selain itu siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 3 Hanura juga berfoto bersama dan membubuhkan tanda tangan di baner yang disediakan oleh JRKL sebagai bentuk dukungannya terhadap pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi. Kegiatan ini berakhir pukul 10.00 WIB.
  • Tim sosialisasi duduk bersama dewan guru di ruangan dewan guru lalu tim sosialisasi menyampaikan bahwa siswa-siswi menyerap baik informasi yang disampaikan. Tim sosialisasi berharap untuk seterusnya agar dewan guru turut melakukan sosialisasi dan pendidikan terhadap siswa-siswi terkait tayangan televisi agar siswa-siswi faham dan terhindar dari dampak negatif tayangan televisi. Dewan guru menyadari betapa pentingnnya pendidikan dalam menilai tayangan televisi. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa kegiatan sosialisasi pendidikan pengkritisan tayangan televisi sangat baik bagi para murid bahkan bagi guru-guru yang ada di Sekolah Dasar Negeri 3 Hanura. Kepala sekolah menyampaikan pada tim sosialisasi agar melakukan sosialisasi pada orang tua murid. Lalu tim sosialisasi dan dewan guru sepakat untuk melakukan sosialisasi pada wali murid diakhir bulan Agustus 2012.