Anda berada di mode pratinjau.
| |
Beranda > Penerima Hibah CMB > JRKL > Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

200px-Juni_17_2012_JRKL_Diskusi_Terarah_Kelompok_Pemantau_Tayangan_Televisi_di_RGL_FM.JPG

Tujuan : Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

Lokasi : RGL FM

Alamat : Desa Hurun, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung

Jam : 19.00 - 21.00 WIB

Hadir :

  • Redyson Candra Jaya (JRKL)
  • 3 orang Pegiat RGL FM
  • 25 orang ibu rumahtangga perdesaan

Ringkasan :

Proses Kegiatan

  • Peserta diskusi diwarnai oleh wajah-wajah baru yang kebetulan warga sekitar rumah Bapak Sanusi yang ingin terlibat dalam diskusi tentang pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi. Yang mengikuti diskusi tidak hanya ibu-ibu, ada juga anak-anak.
  • Acara ini dibuka oleh Agus Guntoro selaku pengurus radio sekaligus tokoh masyarakat di Desa Hurun. Agus menyatakan bahwa diskusi yang dilakukan boleh diikuti oleh anak-anak. Agus mengatakan bahwa media berupa internet, majalah, koran, radio maupun televisi. Diskusi yang dilakukan pada malam ini difokuskan untuk memantau tayangan televisi. Agus menerangkan bahwa disatu sisi tayanga televisi memberikan informasi yang baik namun disisi yang lain berdampak negatif.
  • Agus menjelaskan bahwa teknologi semakin canggih dan dunia usaha yang mencari untung melalui televisi. Agus mencontohkan tayangan film televisi seperti sinetron yang kejar tayang tanpa mengedepankan kualitas siaran, sifatnya mengedepankan kepentingan ekonomi dari pemilik stasiun televisiyang diperoleh dari tayangan iklan. Agus kembali mencontohkan tayangan reality show yang banyak rekayasa yang berarti membohongi masyarakat. Agus menegaskan bahwa masyarakat harus pandai memilih tayangan televisi.
  • Agus mengatakan bahwa biasanya yang rajin menonton tyangan elevisi adalah ibu-ibu. Agus menerangkan bahwa sasaran tayangan televisi biasanya kaum perempuan yang dipengaruhi untuk berperilaku konsumtif.
  • Agus mengaku bahwa di Desa Hurun memiliki budaya yang baik dan harus dijaga dan dilestarikan. Agus menerangkan bahwa RGL telah mengkampanyekan hal tersebut dengan bantuan CMB dan JRKL melalui radio. Agus mempersilahkan iu-ibu untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat dan pengalaman pada pemateri yaitu Fasilitator dari JRKL.
  • Diskusi terarah difasilitasi oleh Pegiat RGL FM. Fasilitator memulai dengan perkenalan karena ada peserta yang baru pertama kali bertemu muka.
  • Lalu Fasilitator menjelaskan tentang jenis-jenis media. Fasilitator memberikan penjelasan tentang radio komunitas baik itu fungsi radio komunitas, peran radio komunitas bagi warga dan peran warga terhadap radio komunitas.
  • Fasilitator mengatakan bahwa banyak media yang dapat memberikan pengaruh negatif pada masyarakat. Fasilitator menjelaskan pengaruh negatif tayangan televisi.
  • Fasilitator mengatakan bahwa hampir setiap rumah tangga memiliki televisi yang menayangkan adegan kekerasan, pembunuhan, merencanakan kejahatan, berpakaian dan berkata tidak sopan, memfitnah, membanci, berkelahi, berselingkuh dan sebagainya padahal yang menonton tayangan televisi itu adalah anggota keluarga termasuk anak-anak.
  • Fasilitator mengatakan bahwa tanpa disadari usia anak saat pertumbuhan begitu mudahnya mengikuti adegan yang sering ditontonnya. Fasilitator mencontohkan salah satu dampak tayangan televisi yaitu banyaknya anak yang tidak dapat menggunakan bahasa daerah karena biasanya mereka cenderung meniru bahasa gaul anak muda yang ditayangkan di televisi. Fasilitator mencontohkan seorang anak kecil yang latah saat kesandung sesuatu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Fasilitator kembali memberikan contoh iklan yang tidak baik seperti iklan motor Yamaha yang diperankan oleh Komeng yang mana baju komeng compang-camping sehabis mengendarai motor dengan kebut. Fasilitator menjelaskan bahwa iklan tersebut seakan mengajarkan masyarakat untuk kebut-kebutan dan sangat mungkin untuk ditiru oleh masyarakat khususnya kalangan remaja.
  • Fasilitator mengatakan bahwa sebenarnya banyak orang tua yang tau bahwa begitu banyaknya adegan buruk dari tayangan televisi. Fasilitator mengatakan bahwa banyak orang tua yang sibuk bekerja dan kurang memperhatikan anak tentang tayangan-tayangan televisi yang sering ditonton.
  • Fasilitator mengatakan bahwa orang tua harus melakukan pemantauan terhadap tayangan televisi agar terhindar dari dampak negatif tayangan televisi. Orang tua harus membuat peraturan-peraturan dalam menonton dalam keluarga.
  • Fasilitator menceritakan pengalamannya ketika melakukan diskusi bersama ibu-ibu pada Tanggal 20 April 2012 yang mana ada seorang ibu yang mengeluh karena anaknya tidak juga menuruti pesan orang tua agar anaknya menonton tayangan yang baik. Lalu Fasilitator bercerita tentang setiap manusia yang dilahirkan akan selalu diajari berkomunikasi hingga anak tersebut mampu berkomunikasi. Contohnya seorang ibu yang selalu mengajari anaknya untuk dapat mengucapkan kata “ibu”. Selama berbulan-bulan bahkan hitungan tahun ibu tersebut tentu tidak akan pernah merasa bosan dan mengeluh tentang lama dan seringnnya mengajari anaknya untuk dpat memanggil ibu. Biasanya seorang anak mampu memanggil ibu setelah bayi tersebut berusia lebih dari satu tahun. Betapa bahagianya seorang ibu ketika anaknya telah mampu mengucapkan kata ibu.
  • Fasilitator mengajak ibu-ibu membandingkan dengan pengakuan ibu peserta diskusi yang mengeluh bosan memberikan pemahaman kepada anaknya padahal baru hitungan jari atau baru beberapa minggu saja. Fasilitator mencoba memberikan pemahaman bahwa orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dan berfikir baik tentu tidak akan pernah merasa jenuh dan bosan untuk selalu memberikan pemahaman pada anaknya meski hitungan bulan bahkan tahun sebagaimana mengajari anak diwaktu bayi agar dapat mengucapkan sebuah kata hingga sebuah kalimat.
  • Fasilitator mengajak ibu-ibu berdiskusi dengan menanyakan bagaimana cara mengatasi dampak negatif tayangan televisi? Masing-masing peserta diskusi dibagikan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari dampak negatif tayangan televisi. Masing-masing peserta diberikan waktu selama 20 menit.
  • Jawaban peserta diskusi dikumpulkan pada Fasilitator lalu Fasilitator membacakan jawaban-jawaban dari peserta lalu mendiskusikan jawaban kepada seluruh peserta untuk menilai jawaban dari masing-masing peserta.
  • Beberapa jawaban peserta diskusi tentang cara menghindari tayangan televisi diantaranya yaitu mematikan televisi jika terdapat tayangan yang tidak baik, memindahkan chanel televisi ke chanel yang lebih baik jika jika terdapat tayangan yang tidak baik, menemani anak saat nonton, menasihati anak dan memberikan arahan yang baik pada anak jika terdapat tayangan yang tidak baik, televisinya ditinggal tidur, melarang anak untuk nonton pada saat jm belajar anak di rumah, memberikan kritik dan saran pada media.
  • Setelah peserta mendiskusikan pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi serta berbagi pengalaman dengan peserta lainnya, fasilitator menginformasikan dan mengajak peserta diskusi untuk menyampaikan keluhan-keluhan terhadap tayangan televisi ke Cipta Media dengan cara mengirimkan pesan dengan format sms JRKL LokasiPelapor Nama JudulTayangan StasiunTelevisi TanggalTayang Keluhan lalu dikirim ke 087788802262. Fasilitator menjelaskan bahwa dalam sekali pelaporan sms terdiri dari 160 huruf, jika lebih dari 160 huruf maka sms pelaporan dibagi menjadi beberapa sms dengan penandaan #1 untuk sms yang pertama pada bagian awal kalimat isi keluhan dengan contoh format laporan yaitu JRKL LokasiPelapor Nama JudulTayangan StasiunTelevisi TanggalTayang #1 IsiKeluhan lalu dikirim ke 087788802262 lalu sms keluhan yang belum selesai tadi dilanjutkan dengan format sms JRKL #2 Isi Keluhan lalu kirim ke 087788802262. Penandaan pagar dilakukan untuk sms pelaporan yang lebih dari 160 huruf.
  • Fasilitator juga membagikan selembaran tentang bagaimana cara melaporkan tayangan yang tidak baik dari tayangan televisi.
  • Fasilitator kembali mengingatkan peserta diskusi untuk tidak bosan mengingatkan dan mendidik anak dalam menonton tayangan televisi. Fasilitator mengilustrasikan orang tua yang tidak mungkin membiarkan anaknya memakan makanan beracun begitu pula jika anaknya menonton tayangan televisi yang berdampak negatif.
  • Untuk mengatasi keinginan warga yang tidak memiliki handphone namun ingin melaporkan tayangan televisi maka pegiat RGL menyediakan formulir pengaduan yang juga dapat dijadikan atensi. Formulir beratensi RGL tersebut dibagikan secara gratis dan jika ada warga yang masih menginginkan formulir beratensi maka dapat diminta di studio RGL.
  • Fasilitator menyampaikan bahwa JRKL menyediakan hadiah 2 buah hand phone bagi 2 orang pelapor tentang keluhan tayangan televisi yang diundi diakhir Tahun2012. Laporan yang diundi adalah laporan lewat sms dan vormulir keluhan tayangan televisi yang beratensi.
  • Acara diskusi ditutup oleh Agus yang berharap setelah melakukan diskusi maka ibu-ibu makin bijak menonton, mendampingi anak saat menonton.

Foto Kegiatan

  • Foto Terkait https://picasaweb.google.com/lh/sredir?uname=106181618311296291808&target=ALBUM&id=5769543648270316321&authkey=Gv1sRgCKi3wJyh3tTYQQ&feat=email