Anda berada di mode pratinjau.
| |
Beranda > Penerima Hibah CMB > JRKL > Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi

Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi

00px-Mei_29_2012_JRKL_Sosialisasi_Pemantauan_dan_Pengkritisan_Tayangan_Televisi_di_Madrasah_Sunan_Muria_Hurun_Pesawaran.jpg

Tujuan : Sosialisasi Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi

Lokasi : Madrasah Sunan Muria Hurun, Pesawaran

Alamat : Desa Hurun, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung

Jam : 10.00 - 13.00 WIB

Hadir :

  • Redyson Candra Jaya (JRKL)
  • 3 orang pegiat RGL FM
  • 4 orang ibu rumahtangga perdesaan pengurus Pantau TV Padang Cermin

Ringkasan :

Proses Kegiatan

  • Pada hari sabtu, 29 Mei 2012, seorang staff JRKL dan tiga orang pegiat RGL serta empat orang dari ibu rumah tangga yang telah mendapatkan pendidikan pelatihan pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi pada 3-5 Februari 2012 dan 11-13 Februari 2012 bersama-sama berangkat ke Madrasah Sunan Muria yang disambut hangat oleh pihak sekolah. Tim sosialisasi memperkenalkan diri kepada guru-guru lalu usai guru mengantarkan tim sosialisasi ke salah satu ruangan belajar siswa-siswi.
  • Kegiatan sosialisasi dimulai pada pukul 10.10 WIB yang dihadiri pula oleh Bapak Hi. Saudi selaku Kepala Sekolah Madrasah Sunan Muria, dan bapak Jaelani serta Bapak Saputra selaku guru Madrasah Sunan Muria. Kegiatan ini dibuka oleh Agus Guntoro selaku pegiat RGL FM yang juga pembawa acara dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya, Agus menerangkan bahwa acara ini dilakukan untuk menyampaikan informasi terkait tayangan televisi. Agus mengharapkan kelak setelah sosialisasi siswa-siswi yang hadir saat sosialisasi dapat memilah dan memilih tayangan televisi yang baik untuk ditonton.
  • Sesi selanjutnya dalah sambutan dari Bapak Hi. Saudi yang mengemukakan bahwa pihak sekolah bersyukur mendapatkan pendidikan tentang literasi media dan mengharapkan memberikan banyak manfaat bagi guru serta siswa-siswi Madrasah Sunan Muria juga masyarakat pada umumnya.
  • Penjelasan tentang literasi media dimulai oleh Redyson Candra Jaya dari JRKL. Usai memperkenalkan diri dan memberikan penjelasan singkat tentang Cipta Media Bersama, JRKL dan Radio Komunitas Gema Lestari, Redyson mulai mengabarkan bahwa pada 24 Maret 2012 tim sosialisasi telah mensosialisasikan literasi media di Sekolah Dasar Negeri 1 Hurun.
  • Redyson melakukan sosialisasi dengan sesekali mengajak siswa-siswi berinteraksi tanya-jawab, harapannya agar suasana lebih cair sehingga informasi yang diberikan lebih mudah dipahami oleh siswa-siswi. Redyson menanyakan tayangan-tayangan yang dianggap baik bagi siswa-siswi, lalu Redyson membeberkan keburukan - keburukan dari tayangan-tayangan yang dianggap baik sebagaimana yang disebutkan oleh siswa-siswi.
  • Redyson juga menggali informasi tentang kebiasaan menonton dari siswa-siswi. Redyson menanyakan nama-nama acara televisi dari sepulang sekolah. Sungguh mengejutkan, pengakuan dari siswa-siswi yaitu mereka mampu menyebutkan nama-nama acara televisi dari sepulang sekolah hingga fajar menyingsing. Lalu Redyson menanyakan pada siswa-siswi tentang kapan waktu yang mereka gunakan untuk aktivitas yang lebih bermanfaat seperti belajar, membantu orang tua, mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Siswa-siswi menjawab pertanyaan dengan saling menoleh dibarengi dengan tawa yang sedikit malu.
  • Redyson menjelaskan bahwa banyak tayangan televisi yang menanyangkan adegan kekerasan, sikap tidak sopan, kriminal, merencanakan kejahatan, mencuri, menghasut, dendam, saling mencelakai, saling membenci dan masih banyak lagi yang lainnya. Redyson menambahkan bahwa kini banyak anak-anak Indonesia yang tidak dapat berbahasa daerah karena terbiasa menggunakan bahasa gaul persis sebagaimana yang ditayangkan dalam adegan sinetron di televisi-televisi Indonesia sehingga kebiasaan tersebut tidak diimbangi dengan mengamalakan pula bahasa daerah. Redyson menerangkan bahwa jika hal ini tidak segera dicegah maka bahasa daerah di Indonesia terancam punah, padahal bahasa derah merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia.
  • Redyson mengajak siswa-siswi agar tidak terobsesi mengikuti adegan baik tutrur kata, tingkah laku yang tidak baik maupun cara berpakaian yang bertentangan dengan norma kesopanan di Indonesia. Redyson mengingatkan bahwa maju-mundurnya suatu bangsa tergantung dari pemudanya dan siswa-siswi adalah harapan bangsa.
  • Redyson memotivasi siswa-siswi dengan mengatakan bahwa anak Indonesia adalah anak yang cerdas, namun karena terlalu sering menonton tayangan televisi yang tidak baik berakibat pada sikap yang cenderung malas untuk belajar, malas membaca.
  • Sesi selanjutnya, Ibu Masti memberikan penjelasan tentang tayangan televisi. Ibu Masti menerangkan bahwa sisi positif dari tayangan televisi sangatlah sedikit, jika berlebihan menonton tayangan televisi maka banyak kegiatan positif yang terabaikan seperti mempelajari ulang hasil pendidikan yang didapat disekolah dan juga mengerjakan tugas dari guru serta pekerjaan rumah. Ibu Masti mengajak siswa-siswi untuk membatasi waktu untuk nonton tayangan televisi. Ibu Masti mengajak siswa-siswi untuk menonton tayangan yang bermanfaat.
  • Sesi selanjutnya Redyson kembali memperjelas informasi nyang telah disampaikan oleh Ibu Masti kepada siswa-siswi dengan mengatakan bahwa memang tidak semua tayangan televisi dinilai baik dan tidak semua tayangan dinilai buruk, namun siswa-siswi ingin masa depan yang cerah dengan sedikitnya pengaruh negatif dari tayangan televisi maka Redyson menyarankan agar menonton tayangan yang dinilai baik dan tidak menonton tayangan yang dinilai buruk seperti tayangan mistis.
  • Redyson menggambarkan pada siswa-siswi contoh acara realityshow Jika Aku Menjadi yang menyoroti kemiskinan suatu keluarga tertentu lalu perusahaan televisi mendapatkan banyak laba dari iklan, sedangkan hanya sedikit materi yang diberikan pada suatu rumah tangga yang menjadi objek acara. Acara seperi yang disebutkan tadi adalah acara yang mengambil keuntungan dari miskinnya suatu rumah rangga tertentu yang dikemas seakan-akan pihak televisi turut menolong dengan memberikan materi pada keluarga tersebut.
  • Redyson juga mencontohkan salah satu tayangan realityshow Termehek-mehek yang mana ditayangkan penusukan pada salah satu ktu televisi. Redyson mengatakan bahwa jika memang hal tersebut nyata maka seharusnya orang yang menusuk tersebut dijerat hukum, kejadian tersebut diberitakan di televisi, namun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah terjadi yang artinya bahwa penusukan tersebut adalah rekayasa, padahal tayangan tersebut dikategorikan oleh pihak televisi sebagai tayangan realityshow. Redyson menegaskan bahwa masyarakat telah ditipu oleh pihak pertelevisian sehingga masyarakat dirugikan, apalagi saat penusukan berlangsung ditayangkan yang dikategorikan tayangan kekerasan bahkan kriminal.
  • Redyson mengajak siswa-siswi agar jangan mau untuk dibodohi oleh tayangn televisi. Redyson menegaskan bahwa siswa-siswi harus berhati-hati dalam memilih tayangan televisi. Redyson melanjutkan dengan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak membutuhkan tayangan kekerasan, mistis dan tayangan negatif yang lainnya tetapi tayangan yang mendidik adalah tayangan yang diharapkan bagi masyarakat Indonesia.
  • Sesi selanjutnya Ibu Anggi menanyakan tujuan siswa-siswi saat menonton tayangan gosip, lalu siswa-siswi menjawab bahwa mereka ingin tahu kegiatan selebritis. Selanjtnya Ibu anggi kembali bertanya tentang tujuan dari menonton tayangan sinetron, lalu siswa-siswi menjawab bahwa mereka ingin melihat percintaan. Selanjutnya Ibu Anggi kembali menanyakan tentang adegan tayangan televisi yang pernah dipraktekkan oleh siswa-siswi, dan siswa-siswi mengakui bahwa ada panggilan kamseupay (kampung sekali udik payah) dan rakyat jelata pada teman-temannya. Ibu Anggi mengajak aar siswa-siswi tidak kembali melakukan hal-hal negatis sebagaimana yang telah diakui oleh siswa-siswi tadi.
  • Ibu Anggi menerangkan bahwa tayangan televisi menayangkan klasifikasi usia bagi masyarakat seperti BO yang artinya Bimbingan Orangtua, D yang artinya Dewasa, R-BO yang artinya Remaja-Bimbingan Orangtua dan SU yang artinya Semua Umur. Ibu anggi mengajak siswa-siswi agar menonton tayangan yang sesuai dengan usia. Jika belum dewasa maka hindari menonton tayangan yang dewasa.
  • Sesi selanjutnya tim sosialisasi mengadakan kuis bagi siswa-siswi. Ibu-ibu membuat pertanyaan kuis, yaitu sebutkan dampak yang buruk dan dampak yang baik dari tayangan televisi!
  • Jawaban ditulis di selembar kertas yang sebelumnya telah dibagikan pada masing-masing siswa-siswi. Waktu yang diberikan untuk menjawab pertanyaan kuis sekitar 30 menit.
  • Setelah jawaban dari masing-masing siswa-siswi dikumpulkan pada tim sosialisasi, maka tim sosialisasi mulai sibuk mengkoreksi jawaban dari masing-masing siswa-siswi. Tim sosialisasi kesulitan menilai jawaban terbaik karena masing-masing siswa-siswi rata-rata dinilai baik dalam menjawab pertanyaan kuis dari tim sosialisasi. Setelah rembug beberapa menit, akhirnya tim diskusi memutuskan calon penerima hadiah. Pemenang dipanggil satu per satu dengan pembagian hadiah berupa alat tulis.
  • Sosialisasi ditutup dengan membagikan pada siswa-siswi lembaran rangkuman pengkritisan tayangan televisi serta cara mengkritisi tayangan televisi melalui sms ke Cipta Media Bersama. Lembaran ini dimaksudkan pula agar siswa-siswi dapat menyampaikan materi sosialisasi dan informasi tentang pengkritisan tayangan televisi kepada orang tua siswa-siswi di rumah mereka masing-masing.
  • Selain itu siswa-siswi Madrasah Sunan Muria juga berfoto bersama dan membubuhkan tanda tangan di baner yang disediakan oleh JRKL sebagai bentuk dukungannya terhadap pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi. Kegiatan ini berakhir pukul 11.55 WIB.
  • Akhirnya tim sosialisasi berpamitan pada guru-guru di Madrasah Sunan Muria. Kepala sekolah dan para guru berharap tim sosialisasi kembali melakukan kegiatan yang sama di Madrasah Sunan Muria. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa kegiatan sosialisasi pendidikan pengkritisan tayangan televisi sangat baik bagi para murid bahkan bagi guru-guru yang ada di Madrasah Sunan Muria. Kepala sekolah menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah, waktu belajar sebenarnya lebih banyak di luar sekolah, jadi pendidikan pengritisan tayangan televisi tentu sangat bermanfaat bagi para murid. Akhirnya tim sosialisasi pamit pada pukul 12.20 WIB dengan wajah berseri karena merasa puas dengan kegaiatan sosialisasi yang telah dilakukan.