Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Beranda > Penerima Hibah CMB > JRKL > Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

200px-April_20_2012_JRKL_Diskusi_Terarah_Kelompok_Pemantau_Tayangan_Televisi_di_RGL_FM.JPG

Tujuan : Diskusi Terarah Pemantauan dan Pengkritisan Tayangan Televisi di RGL FM

Lokasi : RGL FM

Alamat : Desa Hurun, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung

Jam : 19.00 - 21.00 WIB

Hadir :

  • Redyson Candra Jaya (JRKL)
  • 3 orang Pegiat RGL FM
  • 23 orang ibu rumahtangga perdesaan

Ringkasan :

  • Proses Kegiatan
  • Acara ini dibuka oleh Agus Guntoro selaku pengurus RGL FM sekaligus tokoh masyarakat di Desa Hanura. Agus menyatakan bahwa Tayangan televisi tidak ada akhirnya karena selalu menayangkan hal yang baru dan tidak semuanya baik. Agus menerangkan bahwa disatu sisi tayanga televisi memberikan informasi yang baik namun disisi yang lain berdampak negatif.
  • Agus menjelaskan bahwa teknologi semakin canggih dan dunia usaha yang mencari untung melalui televisi. Agus mencontohkan tayangan film televisi seperti sinetron yang kejar tayang tanpa mengedepankan kualitas siaran, sifatnya mengedepankan kepentingan ekonomi dari pemilik stasiun televisiyang diperoleh dari tayangan iklan. Agus kembali mencontohkan tayangan reality show yang banyak rekayasa yang berarti membohongi masyarakat. Agus menegaskan bahwa masyarakat harus pandai memilih tayangan televisi.
  • Agus mengatakan bahwa biasanya yang rajin menonton tyangan elevisi adalah ibu-ibu. Agus menerangkan bahwa sasaran tayangan televisi biasanya kaum perempuan yang dipengaruhi untuk berperilaku konsumtif.
  • Agus mengaku bahwa di Desa Hurun memiliki budaya yang baik dan harus dijaga dan dilestarikan. Agus menerangkan bahwa RGL telah mengkampanyekan hal tersebut dengan bantuan CMB dan JRKL melalui radio. Agus mempersilahkan iu-ibu untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat dan pengalaman dalam forum diskusi.
  • Fasilitator mengatakan bahwa hampir setiap rumah tangga memiliki televisi yang menayangkan adegan kekerasan, pembunuhan, merencanakan kejahatan, berpakaian dan berkata tidak sopan, memfitnah, membanci, berkelahi, berselingkuh dan sebagainya padahal yang menonton tayangan televisi itu adalah anggota keluarga termasuk anak-anak.
  • Fasilitator bertanya tentang apa saja tayangan televisi yang sering ditonton oleh Bayu (6 tahun), anak salah seorang warga yang kebetulan mengajak anaknya saat diskusi. Bayu mengaku sering menonton shaun the sheep, upin-ipin, spongebob squarepants, dan yang terakhir tutur tinular yang sebenarnya adalah tayangan bagi orang dewasa. Bayu juga mengaku suka menonton tayangan tom and jerry yang penuh dengan adegan kekerasan.
  • Fasilitator mengatakan bahwa tanpa disadari usia anak saat pertumbuhan begitu mudahnya mengikuti adegan yang sering ditontonnya. Redyson mencontohkan salah satu dampak tayangan televisi yaitu banyaknya anak yang tidak dapat menggunakan bahasa daerah karena biasanya mereka cenderung meniru bahasa gaul anak muda yang ditayangkan di televisi. Fasilitator mencontohkan seorang anak kecil yang latah saat kesandung sesuatu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Fasilitator kembali memberikan contoh seorang anak yang diminta untuk membantu orang tuanya namun anak tersebut menjawab dengan kata melawan seperti males lah mak, ntar ja lah mak, apa sih mamak ni orang lagi asik nonton kok.
  • Fasilitator mengatakan bahwa sebenarnya banyak orang tua yang tau bahwa begitu banyaknya adegan buruk dari tayangan televisi. Redyson mengatakan bahwa banyak orang tua yang sibuk bekerja dan kurang memperhatikan anak tentang tayangan-tayangan televisi yang sering ditonton.
  • Fasilitator bercerita saat sosialisasi di SDN 1 Hurun yaitu bahwa siswa-siswi mengaku tau tayangan-tayangan televisi hingga pukul 23.00 WIB dan sedikit sekali waktu yang mereka gunakan untuk beraktivitas membantu orang tua, belajar bahkan beribadah.
  • Pada saat fasilitator bercerita, ada peserta ibu-ibu mengaku bahwa mereka bosan mengingatkan anak mereka untuk menonton tayangan yang baik, karena anak mereka tetap saja tidak mau mengerti. Menanggapi hal tersebut, Redyson bercerita tentang setiap manusia yang dilahirkan akan selalu diajari berkomunikasi hingga anak tersebut mampu berkomunikasi. Contohnya seorang ibu yang selalu mengajari anaknya untuk dapat mengucapkan kata “ibu”. Selama berbulan-bulan bahkan hitungan tahun ibu tersebut tentu tidak akan pernah merasa bosan dan mengeluh tentang lama dan seringnnya mengajari anaknya untuk dpat memanggil ibu. Biasanya seorang anak mampu memanggil ibu setelah bayi tersebut berusia lebih dari satu tahun. Betapa bahagianya seorang ibu ketika anaknya telah mampu mengucapkan kata ibu.
  • Fasilitator mengajak ibu-ibu membandingkan dengan pengakuan ibu peserta diskusi yang mengeluh bosan memberikan pemahaman kepada anaknya padahal baru hitungan jari atau baru beberapa minggu saja. Fasilitator mencoba memberikan pemahaman bahwa orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dan berfikir baik tentu tidak akan pernah merasa jenuh dan bosan untuk selalu memberikan pemahaman pada anaknya meski hitungan bulan bahkan tahun sebagaimana mengajari anak diwaktu bayi agar dapat mengucapkan sebuah kata hingga sebuah kalimat.
  • Fasilitator mengajak ibu-ibu untuk berdiskusi yang dibagi dalam tiga dalam kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan tentang tayangan yang sering ditonton, adegan buruk yang ditayangkan televisi, cara mengatasi dampak negatif tayangan televisi.
  • Saat diskusi berlangsung, ibu-ibu turut melibatkan anak-anak mereka. Setelah diskusi selesai yang berlangsung selama 30 menit, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok.
  • Kelompok 3 mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang menjelaskan menjelaskan tayangan yang sering ditonton yaitu shaun the sheep, tutur tinular, putih abu-abu dan tendangan si madun. Kelompok 3 menjelaskan bahwa terdapat tayangan yang tidak baik untuk ditonton seperti adegan kekerasan, gosip, melawan orang tua, fitnah, perselingkuhan dan pakaian yang tidak sopan. Menurut kelompok 3 cara mengatasi dampak buruk dari tayangan televisi yaitu dengan cara tidak meniru adegan yang buruk, memindahkan ke chanel tayangan televisi yang baik, memberikan pengarahan yang baik pada keluarga dan saling mengingatkan dan yang terakhir mematikan televisi.
  • Kelompok 2 mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang menjelaskan menjelaskan tayangan yang sering ditonton yaitu mama dedeh, spongebob, was-was, yusra dan yumna, seratus persen ampuh. Kelompok 2 menjelaskan bahwa terdapat tayangan yang tidak baik untuk ditonton seperti adegan fitnah, kekerasan, berpakaian tidak sopan, berbohong. Menurut kelompok 2 cara mengatasi dampak buruk dari tayangan televisi yaitu dengan cara Menemani anak saat nonton televisi dan memberikan pengarahan jika terdapat tayangan yang tidak baik, pindahkan ke tayangan yang baik atau matikan televisi, memberikan batasan waktu pada anak saat menonton tayangan televisi seperti tidak boleh menonton diatas jam 10 malam, memberikan aktivitas lain yang bermanfaat seperti menggambar, membaca buku.
  • Kelompok 1 mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang menjelaskan menjelaskan tayangan yang sering ditonton yaitu spongebob, shaun the sheep, inbox, ovj, ftv, tendangan si madun dan pas mantab. Kelompok 1 menjelaskan bahwa terdapat tayangan yang tidak baik untuk ditonton seperti pembunuhan, kekerasan, cara berpakaian tidak sopan yang tidak baik ditonton anak kecil. Menurut kelompok 1 cara mengatasi dampak buruk dari tayangan televisi yaitu dengan cara memberikan pengarahan agar tidak meniru adegan yang tidak baik, pindahkan chanel ke tayangan yang lebih baik, membatasi waktu untuk menonton seperti mengatur jadual menonton bagi anak agar tidak mengganggu aktivitas anak yang lainnya seperti watu belajar, waktu tidur siang, waktu mengaji dan yang terakhir matikan televisi.
  • Setelah peserta mendiskusikan pemantauan dan pengkritisan tayangan televisi serta berbagi pengalaman dengan peserta lainnya, fasilitator menginformasikan dan mengajak peserta diskusi untuk menyampaikan keluhan-keluhan terhadap tayangan televisi ke Cipta Media dengan cara mengirimkan pesan dengan format sms JRKL(spasi)isipesan lalu dikirimkan ke JRKL dan Cipta Media Bersama dengan nomor tujuan 0877-8880-2262. Fasilitator juga membagikan selembaran tentang bagaimana cara melaporkan tayangan yang tidak baik dari tayangan televisi.
  • Untuk mengatasi keinginan warga yang tidak memiliki namun ingin melaporkan tayangan televisi maka pegiat RGL menyediakan formulir pengaduan yang juga dapat dijadikan atensi. Formulir beratensi RGL tersebut dibagikan secara gratis dan jika ada warga yang masih menginginkan formulir beratensi maka dapat diminta di studio RGL.
  • Acara ini diskusi ini ditutup oleh Agus yang berharap setelah melakukan diskusi maka ibu-ibu makin bijak menonton, mendampingi anak saat menonton.

Foto Kegiatan

  • Foto Terkait https://get.google.com/albumarchive/106181618311296291808/album/AF1QipN-boszXuWoNUPkZJuURHpQmRkTWrzlJ0eYvjbN?source=pwa&authKey=CKK5uITdnbnylwE