Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Beranda > Penerima Hibah CMB > JRKL > Pendidikan Instrumen Pemantauan Tayangan TV Tahap II di RKSP FM

Pendidikan Instrumen Pemantauan Tayangan TV Tahap II di RKSP FM

200px-Februari_17-19_2012_JRKL_Pendidikan_Instrumen_Pemantauan_Tayangan_TV_-_Tahap_I_-_RKSP_01_ (1).JPG

Tujuan : Pendidikan Instrumen Pemantauan Tayangan TV Tahap II di RKSP FM

Lokasi : RKSP FM

Alamat : Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung Barat, Lampung

Jam : 09.00 - 16.00 WIB (27-29 Februari 2012)

Hadir :

  • Redyson Candra Jaya (JRKL)
  • Guwarman (Lampung Ikhlas, Mitra Bentala)
  • 6 orang pegiat RKSP FM
  • 25 ibu rumahtangga perdesaan

Ringkasan :

Hari Pertama

  • Hari pertama pelatihan tahap dua dilakukan dari pukul 09.00 hingga pukul 16.00 Wib pada tanggal 27 Februari 2012 di salah satu rumah warga yang disewa bernama Datuk Ali. Peserta pelatihan hadir sebelum acara dimulai yang diawali dengan pengisian daftar hadir dan pembagian alat tulis sebagai perlengkapan pelatihan. Pelatihan ini diikuti oleh 25 perempuan dari Desa Pahmungan. Pelatihan resmi dibuka oleh Effendi selaku Dewan Penyiaran Komunitas Radio Komunitas Radio Komunitas Suara Petani 107.7 FM.
  • Dalam sambutannya Effendi mengatakan bahwa pelatihan akan dilakukan selama tiga hari. Effendi menambahkan bahwa pelatihan ini memberikan pemahaman tentang media sekaligus menilai tayangan media televisi, sehingga peserta dapat bijaksana dalam menonton tayangan televisi.
  • Hari pertama pelatihan tanggal 27 Februari 2012, fasilitator Guswarman, Anggota LSM Mitra Bentala dan Sekretaris Dewan Pengarah Organisasi Penanganan Bencana Lampung Ikhlas memulai dengan perkenalan kepada peserta pelatihan. Fasilitator juga mengajak peserta bernyanyi bersama untuk mencairkan suasana. Setelah itu fasilitator mengajak masing-masing peserta untuk bercerita dalam forum tentang harapan selama mengikuti pelatihan.
  • Sesi pertama, fasilitator memberikan materi tentang bagaimana memahami bentuk dan fungsi media serta hak masyarakat dalam media. Fasilitator juga menjelaskan prinsip-prinsip memilih media pembelajaran. Fasilitator menjelaskan bentuk media seperti gambar diam, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyektor, rekaman bersuara baik dalam kaset maupun CD, radio, televisi juga internet. Sesi pertama ini ditutup dengan istirahat, sholat dan makan.
  • Pada sesi ke-dua, fasilitator memberikan materi tentang pengaruh tayangan televisi bagi masyarakat penonton tayangan televisi. Fasilitator membagi peserta pelatihan ke dalam lima kelompok. Masing - masing kelompok melakukan diskusi selama 30 menit untuk mengidentifikasi pengaruh negatif dan positif siaran televisi, serta menyebutkan contoh tayangan yang berpengaruh negatif maupun positif.
  • Identifikasi pengaruh negatif dilakukan dengan membuat deret kata yang sering diucapkan oleh anak-anak padahal kata-kata tersebut sesungguhnya milik orang dewasa, seperti porno, perkosaaan, kondum, bunuh dan lain-lain. Pengaruh dalam bentuk tindakan diidentifikasi dengan menyebutkan gerakan apa yang sering dilakukan anak sebagai hasil tiruan dari menonton televisi. Pengidentifikasian pengaruh seperti konsumeris-me, pola penggunaan waktu sehari-hari, seberapa lama anak/ remaja/ orang dewasa menghabiskan waktu untuk menonton televisi dan lain-lain.
  • Setelah selesai diskusi kelompok, masing-masing kelompok mem-presentasikan hasil diskusinya. Anggota kelompok lain diminta untuk menambahi atau memerkaya hasil diskusi kelompok lainnya.
  • Fasilitator menutup pelatihan di hari pertama dengan mengajak peserta pelatihan untuk membuat kesimpulan hasil diskusi. Dari hasil diskusi kelompok, peserta pelatihan mampu memahami pengaruh tayangan negatif dan tayangan positif televisi terhadap perilaku anak. Peserta juga dapat menyebutkan acara siaran televisi yang berpengaruh negatif dan pengaruh positif bagi anak-anak dan remaja.

Hari Ke Dua

  • Disesi pertama hari ke-dua pelatihan tanggal 28 Februari 2012, Fasilitator memberikan materi tentang memetakan fiksi dan fakta dalam tayangan televisi. Fasilitator memberikan pertanyaan kepada peserta tentang acara yang sering ibu tonton. Fasilitator mencatat daftar acara yang ditonton dalam kertas plano. Setelah tersusun daftar acara yang ditonton fasilitator menanyakan kepada ibu-ibu tentang acara apa saja yang masuk katergori faktual dan fiksi.
  • Fasilitator mencatat di lembar plano berdasarkan hasil identifikasi peserta. Fasilitator membagi kelompok menjadi empat. Dua kelompok mengidentifikasikan ciri-ciri acara atau program televisi yang sifatnya faktual dan 2 kelompok lainnya mengidentifikasikan ciri-ciri acara atau program televisi yang sifatnya fiksi.
  • Diskusi kelompok dilaksanakan selama 20 menit. Hasil diskusi dituliskan di kertas metaplan yang kemudian dipresentasikan dan ditanggapi kelompok lain. Setelah itu fasilitator menjelaskan lebih terperinci tentang pengertain program fiksi dan program faktual. Sesi pertama ini ditutup dengan istirahat, sholat dan makan.
  • Pada sesi ke-dua, fasilitator memberikan materi tentang bagaimana Memetakan dan Memahami Sinetron di Indonesia. Peserta diajak menonton kutipan tayangan sinetron, infotainment, realityshow, iklan dan kartun.
  • Fasilitator menggali ingatan peserta dengan cara menunjuk setiap peserta untuk menyebutkan judul sinetron yang dianggap baik pada era TVRI (tahun 90-an), seperti Rumah Masa Depan, Serial Losmen, ACI (Aku Cita Indonesia), Sayekti dan Hanafi, Siti Nurbaya. Sedangkan sinetron era televisi swasta seperti Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, Kiamat Sudah Dekat.
  • Fasilitator membagi peserta menjadi lima kelompok dan meminta setiap kelompok mendiskusikan tentang apa yang dingat dari sinetron-sinetron tersebut dan mengapa dianggap baik. Diskusi kelompok dilakukan selama 20 menit.
  • Setelah proses diskusi, fasilitator meminta setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok masing-masing. Fasilitator kembali bertanya pada peserta tentang judul sinetron yang ditayangkan oleh televisi swasta sejak tahun 2000-an. Setiap orang diminta untuk menulis dalam kertas metaplan 1 judul sinetron yang pernah ditonton dan atau diketahuinya. Fasilitator menempel judul-judul sinetron tersebut di papan tulis/flipchart, disandingkan dengan judul sinetron yang dianggap baik.
  • Fasilitator mengajak peserta memberikan pendapat tentang apa saja yang yang membedakan antara sinetron TVRI pada jaman dahulu dengan sinetron yang ditayangkan oleh swasta. Contoh perbedaannya dinilai dari kostum, dialog, adegan, setting, bahasa, durasi dan lain-lain.
  • Setelah mempresentasikan hasil diskusi kelompok, fasilitator menjelaskan tentang proses pembuatan sinetron. Sinetron sekarang adalah komoditas televisi swasta untuk mendapatkan income/pendapatan buat televisi, dengan mengindahkan nilai/norma. Fasilitator mengajak peserta untuk mengusulkan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong sinetron televisi dapat berkualitas.
  • Sebelum pelatihan ditutup, peserta pelatihan kembali dipoles pemahamannya oleh fasilitator tentang bagaimana menilai dan bersikap terhadap tayangan televisi. Fasilitator juga memberikan pekerjaan rumah kepada masing-masing peserta tentang sikap apa saja yang harus dilakukan terkait menonton tayangan televisi yang akan dibuat oleh ibu rumah tangga didalam lingkungan keluarga di rumah masing-masing. Pekerjaan rumah ini sebagai bahan diskusi pada pelatihan dihari ketiga tanggal 29 Februari 2012.

Hari Ke Tiga

  • Hari ketiga pelatihan pada tanggal 29 Februari 2012 diawali dengan mengumpulkan pekerjaan rumah yang dihari sebelumnya telah diberikan kepada masing-masing peserta. Pekerjaan rumah yang telah dikumpulkan lalu didiskusikan kepada seluruh peserta pelatihan yang menjadi gambaran perubahan sikap dan pandangan peserta pelatihan dalam menyikapi tayangan-tayangan televisi.
  • Pada sesi pertama, fasilitator memberikan materi tentang bagaimana memahami proses produksi sinetron di Indonesia. Fasilitator mereview materi sebelumnya tentang jenis-jenis sinetron.
  • Fasilitator membagi peserta menjadi lima kelompok. Fasilitator membagikan kertas plano dan gambar-gambar. Ada kelompok yang menerima gambar-gambar yang penuh kemewahan, ada kelompok yang menerima gambar-gambar yang penuh kemiskinan.
  • Fasilitator meminta peserta untuk menyusun sebuah cerita dari gambar yang ada, dengan cara menempelkan gambar sesuai urutan cerita di kertas plano yang telah disediakan. Waktu menyusun gambar dan cerita sekitar 30 menit.
  • Fasilitator meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja masing-masing. Kertas plano peserta ditempelkan di ruang pelatihan. Dalam tiap presentasi, fasilitator meminta anggota kelompok lain untuk mengomentari atau bertanya. Fasilitator juga bertanya atau berkomentar untuk mengarahkan pembicaraan pada materi, yaitu tentang proses produksi sinetron.
  • Fasilitator mereview hasil diskusi peserta, mengaitkannya dengan proses produksi sinetron seperti waktu yang sangat pendek yang diberikan untuk menyusun gambar dan cerita yang identik dengan waktu yang sangat pendek dalam proses produksi sinetron. Besok tayang, hari ini proses produksi. Model kejar tayang ini jelas membuat kualitas sinetron seadanya, yang penting jadi, yang penting dramatis.
  • Fasilitator juga menjelaskan jenis-jenis gambar yang penuh kemewahan, sebaliknya ada juga yang penuh kemiskinan, serupa dengan gaya sinetron yang berbicara tentang orang-orang yang bergelimang kemewahan, sangat jauh dari realitas masyarakat. Sebaliknya, jika sinetron berbicara mengenai orang miskin, sering dicitrakan sangat sengsara. Jadi, jika kaya, maka teramat kaya, sebaliknya jika miskin maka teramat miskin. Hal ini dilakukan untuk memunculkan dramatisasi, namun sebenarnya tidak sesuai kondisi masyarakat kebanyakan.
  • Lalu fasilitator menerangkan cerita sinetron yang mirip satu sama lainnya, karena yang penting mengikuti tren yang ada, mengikuti model sinetron yang ratingnya tengah naik. Cara seperti itu, produsen dapat menarik banyak pengiklan, pada akhirnya keuntungan juga banyak.
  • Fasilitator menutup sesi pertama dengan beberapa penegasan bahwa sinetron diproduksi dengan motivasi meraup keuntungan. Selain itu sinetron juga diproduksi dengan model kejar tayang yang tidak memperhatikan kualitas, yang penting dramatis dan mempermainkan emosi penonton. Fasilitator menerangkan sesungguhnya memproduksi sinetron yang berkualitas sangat mungkin, buktinya ada beberapa sinetron yang berkualitas seperti Keluarga Cemara, Si Doel Anak Betawi, Si Doel Anak Sekolahan, Para Pencari Tuhan, dan lainnya.
  • Memasuki sesi kedua setelah istirahat, sholat dan makan, fasilitator memberikan materi tentang bagaimana memahami proses pembuatan realityshow di indonesia. Fasilitator mereview materi-materi sebelumnya, serta berbincang santai dengan peserta sekitar 5 menit.
  • Peserta diberikan pertanyaan tentang pemahaman peserta mengenai reality show seperti pengertian reality show, penilaian kritis terhadap reality show, muatan positif dan negatif serta enis-jenis reality show. Fasilitator meminta jawaban peserta yang dibagi dalam lima kelompok, lalu menuliskannya di kertas plano. Diskusi dilakukan selama 30 menit.
  • Pembahasan jawaban yang mengarah pada jenis-jenis reality show diantaranya seperti Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi, Tolong, Masih Dunia Lain, Realigi, Penghuni Terakhir, Big Brother. Fasilitator menjelaskan bahwa seperti halnya sinetron, reality show di Indonesia juga menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu judulnya bermacam-macam tapi isinya sama saja. Hal ini disebabkan model rating dalam industri televisi. Jika satu tayangan bertema baru ratingnya tinggi, maka akan segera diikuti maraknya tayangan-tayangan serupa di televisi lainnya.
  • Pembahasan jawaban yang mengarah pada pengaruh negatif reality show diantaranya yaitu membuat orang miskin lebih suka bermimpi mendapatkan pertolongan seperti yang ditayangkan reality show, membuat penonton susah membedakan mana yang fakta dan fiksi dalam tayangan televisi.
  • Hasil diskusi kelompok dibahas bersama. Pembahasan jawaban yang mengarah pada pengertian reality show disimpulkan bahwa reality show yang ideal yaitu sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak ada skenario atau cerita sesuai dengan alur peristiwa yang terjadi, pemain adalah pelaku sosial yang sesungghnya. Sedangakan reality show yang ada di Indonesia ceritanya didramatisasi atau dilebih-lebihkan, alur cerita diarahkan oleh skenario dan pemain adalah aktor yang sengaja dibayar.
  • Pelatihan ini ditutup dengan presentasi dari peserta pelatihan tentang materi yang telah didapat selama pelatihan. Presentasi ini dimaksudkan untuk menguji pemahaman ibu-ibu rumah tangga tentang jenis media, pemetaan tayangan televisi, membedakan fiksi dan fakta dalam tayangan, membangun aturan menonton dalam keluarga, dan teknik perincian pemantauan media. Dari presentasi yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga dinilai telah faham bagaimana menonton tayangan televisi secara bertanggung-jawab.
  • Pasca pelatihan tahap dua ini, ibu-ibu rumah tangga peserta pelatihan akan melakukan diskusi rutin terkait tayangan televisi lalu melakukan pemantauan tayangan televisi. Hal ini merupakan bagain dari tindak lanjut pelatihan dalam pemantauan tayangan televisi.


27 Feb 2012