Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Beranda > Penerima Hibah CMB > Bhinneka > Pelatihan untuk mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mendorong mereka menjadi kader keberagaman

Pelatihan untuk mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mendorong mereka menjadi kader keberagaman

200px-Oktober_21_2012_Bhinneka_pelatihan_multikutural.JPG 200px-Oktober_21_2012_Bhinneka_pelatihan_multikutural_1.JPG 200px-Oktober_21_2012_Bhinneka_pelatihan_multikutural_2.JPG 200px-Oktober_21_2012_Bhinneka_pelatihan_multikutural_3.JPG

Tujuan : Pelatihan untuk mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mendorong mereka menjadi kader keberagaman.

Lokasi : Surabaya

Alamat : Sekolah Mandala, jl Putro Agung II

Jam : 14.00 - 16.30

Hadir :

Dr. Soe Tjen Marching (Fasilitator)

  • Dr. Soe Tjen Marching memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa. Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia.

Kristianto Batuadji (Fasilitator)

  • Menyelesaikan studi psikologi di UGM dan mendapatkan gelar M.A dari UGM juga. Mengajar di UBAYA jurusan psikologi, dan sering memberi seminar dan pelatihan tentang multikulturalisme dan kepemimpinan kepada remaja dan mahasiswa. Kristianto Batuadji telah aktif di Lembaga Bhinneka sejak tahun 2010.

  • 20 peserta

Ringkasan :

Bertujuan untuk menjadikan para peserta kader-kader keberagaman dalam kehidupan sehari-hari dengan permainan

Ringkasan permainan Multikultural :

  • Mula-mula, 2 fasilitator membagi peserta menjadi dua kelompok, masing-masing bernama Suku Alpha dan Suku Victoria.
  • Fasilitator memilih dua orang sebagai Kepala Suku untuk masing-masing suku.
  • Fasilitator menyerahkan instruksi permainan berupa naskah “The Ten Comandments” (dalam dua versi yang sangat berbeda) kepada kedua kepala suku untuk dibacakan di hadapan seluruh anggota sukunya. Naskah tersebut harus dibacakan dengan penggunaan kata, ekspresi, dan bahasa tubuh yang sesuai dengan perintah yang tertuang dalam masing-masing isi naskah.
  • Kedua fasilitator memastikan semua peserta dalam grup yang berbeda mematuhi instruksi.
  • Setelah semua isi instruksi selesai dilakukan, fasilitator meminta seorang peserta dari masing-masing suku untuk bertandang sebagai duta ke suku lain, sementara teman-teman sesukunya diminta untuk menyambut duta dari suku lain. Terjadilah semacam “kejutan” bahkan “konflik” karena “Ten Commandments” yang sangat berbeda dari kedua suku.
  • Fasilitator mempersilakan duta untuk pulang, kemudian mengulangi proses saling bertandang ini dengan jumlah duta dua orang, kemudian tiga orang, dan seterusnya, sampai semua peserta mendapatkan kesempatan untuk bertandang.
  • Setelah semua peserta berkesempatan bertandang, masing-masing suku diminta berdiskusi untuk memberikan komentar mengenai suku lain. Laporan kedua suku cukup negatif terhadap suku lainnya, karena “Ten Commandments” yang berlawanan itu.
  • Hasil diskusi dipresentasikan dalam kelompok besar.
  • Fasilitator menggiring diskusi kelompok besar pada poin-poin pembelajaran berikut: rasisme dalam masyarakat, stereotype, stigma, diskriminasi, perlakuan tidak adil kepada kelompok yang berbeda (seperti homoseksual, Ahmadiyah, dll.).