Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Cipta Media

Laporan Aktivitas Pasar Tari Dua Ribu Lima Ratus

Oleh: Wawa Saptarini

Laboran gerak dan Open lab

Tanggal 25 Dec 2018
proses laboran gerak
presentasi open lab, di tengah adalah partitur gerak
Jam 20.00-21.25
Lokasi Nuart Sculture Park
Alamat Jl.Setraduta Raya Blok L 6, Ciwaruga, Parongpong, Bandung barat
Daftar Hadir L.Pamungkas
Bude Ratna
Yara
Keni
Agni
Inashifa
Semy Ikra
Kenny
Galih Mahara
Romy Jaya
Pian G-henk
Adam Panji
Junaida
Tazkia Hariny
John Heryanto
Dendi Madya
Yudi A Tajudin
Titis Embun
Nurul Aulia
Paris Islam
Aiko Hashizume

Tujuan untuk mencari kesimpulan bentuk gerak yang diekstraksi dari hasil transaksi gerak bersumber dari repertoar tari yang di bawa oleh masing-masing koreografer bandung(Shinta), jogja(karonsih), surabaya(modern dance).
Ringkasan
Hasil Laboran gerak dilakukan selama 3 hari di Nuart Park. Di hari pertama, masing-masing mengumpulkan, meringkas data dan mengelompokan gerak sesuai kuantitas gerak yang diambil secara sampling saat kegiatan transaksi gerak di Pasar Balubur. Hari kedua, melakukan diskusi bagaimana menemukan metode merepresentasikan gerak dengan autentikasinya masing-masing. Hari kedua ini kami menemukan masalah yaitu ketukan(tempo), hal dasar yang berpengaruh terhadap proses autentikasi, karna masing-masing memiliki tempo yang berbeda. Hari ketiga dimulai dengan masing-masing kolaborator meng-eksplorasi data gerak yang sudah memiliki progress. Diskusi kontinuitas sampai kepada membahas konteks sajian yang akan dipresentasikan pada Open Lab.
Open Lab adalah hasil dari Laboran Gerak yang telah dilaksanakan sebelumnya di tempat yang sama. Segala aspek mulai dari pencahayaan, tata letak partitur gerak, dan penempatan metronome sebagai barometer ketukan secara audio tiap-tiap penyaji gerak. Diawali dengan bunyi ketukan yang dihasilkan dari metronome, para kolaborator menari dengan sistematika yang telah dirancang sebelumnya, yaitu; 1) Pola satu, kolaborator menggerakan 10 pesanan dengan ketukan masing-masing yang sudah ada dalam penyajian tari bentuk orisinilnya, 2) Pola dua, antar kolaborator melakukan pesanan gerak dengan tukar ketukan dan variasi gerak dari kolaborator lain. Gerak transisi menjadi penting di lab ini bukan hanya sebagai penyambung, tetapi menemukan bentuk baru dari kamus gerak masing-masing penari.
Evaluasi Laboran gerak ini sifatnya eksperimental, dalam perjalanannya para penari menemukan banyak hal seperti,menemukan gerak transisi dari membaca satu pola gerak yang sudah di scaning untuk menjadi satu pola gerak. Lalu menemukan ide tentang pertukaran gerak, gerak mereka yang berpatok pada partiture gerak transaksi kepada penari lain, dengan cara masing-masing kolaborator menggerakkan gerakan-pergerakan dan di ikuti oleh dua kolaborator lainya.Temuan lainnya adalah merumuskan nilai gerak yang terbanyak dipesan saat melakukan riset transaksi di pasar tradisional sampai akhirnya bersepakat untuk hanya memilih 9 gerak dari pilihan gerakan yang terbanyak dipesan, yang disebut temuan modus gerak repitisi. Beberapa catatan yang di dapat dari diskusi hari sebelumnya ini adalah kerja mengkodefikasi temuan ide dan gerak. Sejauh ini ada 4 kode untuk setiap temuan gerak, nantinya akan digunakan sebagai alur pada open lab.
Act 1 : nomor gerak yang di bacakan periset
Act 2 : scaning gerak pesan masing-masing
Act 3 : pilihan gerak terbanyak/repetisi
Act 4 : exchange gerak terbanyak

Sempat terfikir untuk menampilkan satu repertoar dari lab untuk di presentasikan di openlab, tapi hal ini segera di sadari kembali bahwa kerja pengkodefikasian ini bukan mencoba membuat struktur alur presentasi. Penari di upayakan untuk menemukan lagi modus praktik gerak dalam menghadapi data gerak dari hasil transaksi.Berikut beberapa catatan notulensi atas apa yang dibicarakan di diskusi setelah pertunjukan:

Keni K .Soeriaatmadja (Saskirana Dance Camp, NuArt Sculpure Park)
Persoalannya adalah nabeuh dan tari kontemporer, sebenarnya pertanyaan risetnya apa sih? Kalau yang saya tangkap dari cerita Wawa tadi itu bahwa: Bagaimana karya nabeuh kebiasaan ‘nabeh’ itu bisa menghasilkan karya kontemporer? Jika betul itu pertanyaannya. Apakah riset ini mencoba menjawab
Yang kedua mungkin lebih kepada tangapan saya, terhadap apa yang saya lihat. Riset mungkin sudah lama, tapi lab gerak mungkin baru tiga hari. Kalau saya meng-analogikaan mungkin. Ini ada tiga ibaratnya: salam, serah dan raja. Gitu, ya kalau masak, ibaratnya. Sepertinya kalau tadinya salam, sereh, raja ini biasa dibikin bacem. Kalau wawa mungkin ingin membuatnya menjadi makanan yang bukan bacem, tapi kayak pindang atau makan yang bukan bacem tapi yang lain. Cuman yang masih saya tangkap disitu masih berupa permainan matematis. Bahkan yang matematis itu, saya masih belum bisa menangkap logikanya ketida ada angka-angka tadi yang disebutkan. Saya belum bisa menangkap antara hubungan antara angka-angka dengan gerak itu. Jadi si salam, sereh, raja masih berupa salam, sereh dan raja. Belum sebuah peknaan yang baru, saya kira itu menjadi masuk dalam kriteria ini.Inikan banyak sekali layer yang harus dibersihkan, diklarifikasi. Kalau misalkan, persoalannya pada nabeh dan kontemporer. Berarti mungkinkah persoalan gender dan lain sebagainya. Ini sangat menarik tapi mungkin perlu riset yang lebih panjang aja. Kalau mau ditajamkan apa yang menjadi statmen dari Wawa. Karena banyak banget. Aku sangat tertarik dengan proses transaksinya. Karena itukan proses gerak yang sebenarnya. Mau memilah yang mana, gerak yang mana. Sebenarnya kami juga inngin melihat si foto-foto itu kayak gimana sih. Membuat karya menggairahkan begini.

Yudi Ahmad Tajudin ( Teater Garasi / Garasi Performance Institute)
Aku kira diskusinya akan problematis kalau kita tidak sadar, tidak terbuka atas pemilahan yang kita bikin diam-diam, yaitu mengkatagorikan kontemporer dengan yang bukan kontemporer. Dalam hal ini misalkan peye, dan di pembicaraan ini kita melihat kontemporer sebagai satu style. Jadi jargon sebagai satu gaya, suatu bentuk. Kalau misalkan seni tradisi kan kita bisa lihat hasilnya. Misalkan tradisi Jawa, kita bisa lihat terus repetoarnya, ada judul-judulnya. Kalau refresentasi dari karya kontemporer mana? Kan susah yah? Karena, paling tidak saya melihat bahwa kontemporer itu kan bukan style, bukan gaya, bukan bentuk.
Beberapa identitas tar0 atau seni pertunjukam kontemporer yang dimunculkan oleh Puri. Misalkan bahwa critical thinking dalam proses penciptaan. Berpikir kritsis. Jadi dia bukan bentuk. Cara ngelihat tari, cara melihat persentasi tari. Juga mungkin intensi, ingatan-ingatan penciptaan. Karena kontemporer bisa mengguankan vocabulari tradisi. Orang bisa mengangkat, seperti Panti Swara, orang juga gak bisa melihat dia sebagai seni tradisi toh. Saya pernah melihat Komaruti menapilkan nomer lawasnya, duet dengansiapa suaminya. Buatku dia itu kontemporer bange, meskipun seluruh vocabularinya tradisi. Karena sebagai penonton aku mendapatkan proses yang tidak berhenti dari afeksi, menikmati. Oh, ya bagus. Oh, ya seneng. Oh, ya begini. Konfirmasinya bukan ditingkatan itu, artinya dia juga merangsang aku untuk berpikir. Nah dengan rancangan itu.
Kalau boleh saya mengunakannya, saya melihatnya bahwa proses ini tadi, persentasi ini tadi sudah kontemporer toh. Persentasi di luar tadi dan di sini. Begitu dibuka diskusinya, tiba-tiba banyak yang dibukakan. Tiba tida ada banyak yang disampingkan dan sejalan peye dan kontemporer. Tapi tadi misalkan tiba-tiba ada Adam Panji ngomongin kalau di pasar banyak hal kemudian. Ada seksi, ada laki-laki. Aku sih tadi melihat ada, projek ini mungkin tidak diniatkan membuka ruang yang cukup besar dan menarik sesungguhnya dalam konteks tari dan non tari. Karena misalkan ada relasi kuasa antara yang menatap dan siapa yang ditatap, siapa yang membeli. Inikan tiba-tiba, mungkin gak senaja jadi mengungkap banyak hal. Karena yang menjadi titik berangkatnya adalah peye, transaksi ekonomi yang terus mengalami pertumbuhan.Siapa sebenarnya yang memberi atau institusi pemberi nilai dari peye ini. Inikan memang di sini tidak kelihatan. Tiba-tiba jadi peye. Peyekan istilah yang khas dikalangan temen-temen tari. Peye atau nabeh. Yang sebenarnyakan bukan pasar yang itu, toh. Apa, tanggapan kawinan, di hotel. Aku tidak tahu tiba-tiba ke pasar yang itu. Menurutku ada lompatan yang belum terjelaskan. Jadi investigasi atas peye yang di dunia tari itu gak kelihatan di sini. Tapi yang disodorkan ke kita ialah transaksi ekonomi ketubuhannya yang itu, jual beli. Apakah itu yang sedang di soal oleh Wawa? Peye yang itu, atau peye yang dipasar yang kita lihat tadi itu? Karenakan itu narasinya langsung, gak ada pihak penyelenggara. Kalau di peye-peye itukan ada agen. Tapi paling tidak itu dibuka. Dan memang sebagai satu tawaran persentasi tari yang coba menyingkap, membuka satu diskusi tertentu. Memang jadi tidak kelihatan fokusnya dimana nih. Pertanyaan Jeng Keni kan tadi: pertanyaannya apa. Karena sebenarnya diam-diam gak sengaja saya sebagai seorang yang terlibat dalam seni pertunjukan juga tertarik untuk memeriksa relasi kuasa yang berada disana. Apakah yang disebut kontemporer juga tidak ada praktik ekonomi. Juga ada kan, peye juga dalam pengertian yang lain.Menurutku presentasI ini sudah karya. Persentasi dari depan ke sini itu sudah karya tari. Dan bukan karya tari yang dipentaskan di panggung seperti biasanya. Sudah koreografi sebenernya. Koreografi kursi-kursi diatur, tempat duduk di siapkan. Ini di mana, itu di mana. Kan sudah koreografi semua. Tadi semuakan bukan spontan terus masuk ke sini, kedlam ruangan ini. Cuman memang sebagai koreografi, itu kurang ketat. Memangkan sekarang tari sudah mulai mengkoreografi persentasi. Mestinya ia juga koreografi, dirancang. Dan itu juga lecture performance. Ada satu koreogfer dari Prancis. Pertunjukannya apa? Pertunjukannya ceramah, itu pertunjukan tari. Ceramah cerita tentang sejarah pertemuan dia dengan tari. Dan semuanya, pertunjukan dimana. Dia akan mengunakan beberapa penanda. Ada podium, dan pasti setelah ngomong ini ia akan bergerak ke mana. Semuanya, setruktur ceramahnya sudah distrukturkan. Dan itu dilihat sebagai sebuah karya tari yang dihadirkan dan disikusikan dalam sebuah koreografi. Ketika Hibah Cipta Media masih tidak melihat ini sebuah karya, menurutku perlu pula dipertayakan.
Aku melihat disini seperti ada sebuah konfilik tapi bukan sebuah konflik yang gimana atau problem. Dimana Wawa melihat koreorafi yang itu, maksudnya yang di panggung dan yang ada penonton. Maka yang dibayangkan Wawa akan menghasilkan itu. Kemudian mengundang periset yang menghadirkan isu, pemilahan peye dan kontemporer. Dan out put nya yang dibayangkan Wawa sebuah pertunjukan. Begitu menundan periset, nah periset membuka ruang-ruang sendiri. Kalau dengan diatan itu, aku baru ngeeh ketika John misalkan persentasi membuka segala struktur kuasa, struktur sosial. Mungkinkah gak relevan dengan niatan awal Wawa.

Adam panji (Dosen Prodi Film ISBI Bandung)
Jadi munkin pandangan-pandangan menagapnya gini, nabeh itu kan tarian yang sudah jadi. Tarian yang berulang-ulang selalu itu-itu juga. Dalam bayangan saya bahwa kontemporer itu sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru. Mungkin begitu ya wa? Tapi memang, kesulitannya tidak langsung masuk kepada wilayah gerak. Saya pikir ketika melihat pasar tari dan ada di pasar. Saya kira mereka para pembeli di pasar tidak paham tentang tarian. Intinya mereka hanya melihat foto. Mungkin kalau laki-laki pasti banyak yang milihnya yang seksi. Fotonya seksi dan kostumnya jug seksi pasti yang terseksi yang paling banyak.
Kenapa hal ini saya tanyakan di awal. Karena ini sangat berkaitan dengan karya anda selanjutnya. Karena persoalannya ketika yan dijaring hanya gerak yang disuka saja oleh pembeli dan karena mereka juga tidak tahu. Dan tahunya dari foto. Nah apabila ini digabungkan. Apakah ini menjadi sesuatu yang baru tau tidak? Kalau misalkan menjadi sesuatu yang baru. Apakah itu perlu menawarkan lagi ke pasar atau tidak? Atau Pasar itu hanya menjadi sebuah penjaring aja. Misalkan seperti quisinoner yang disebar secara acak. Ini dapatnya ini dan ini. Oke, kita bikin. Ada hal-hal, yang mungkin menurut saya sangat menarik. Kita melemparkan yang ini dan dapat yang ini. Cuman mungkin perlu waktu yang agak panjang lagi. Karena untuk menyatukan tiga tubuh, tiga rasa dan ini kelihatannya harus perlu untuk bergelut lebih dalam. Karena saya lihat. Kenapa pilihannya karonsih? Kenapa pilihannya Jaipong? Kenapa pilihannya zumba? Kenapa pilihan penarinya ini? Kenapa pilihannya itu? Ini juga menjadi sesuatu yang menurut saya dapat melahirkan ide-ide baru dari sebuah dunia tari. Dan tingkatan kontemporer yang lebih tinggi, semakin lama. Kita semua dapat membuka ide di sini dan itu dapat mengencangkan titik kelamahan. Itu yang dimaksud sama Bude. Statmennya itu. Ketika kita menerucuk, semakin lama maka semakin tingggi dan ketemu nantinya. Mungkin itu aja. Terus terang saya salut. Kalau persoalan seperti ini. Aneh dan kepikir aja.

Keni (Teater Lakon UPI Bandung)
Saya biasanya main teater, jadi ketika masuk ke sini yang saya lihat itu peristiwa. Kalau di sini kan kuncian peristiwanya itu ada di Pasar. 2500. Jadi saya mencari ke-pasaran dalam pertunjukan ini. Jadi saya lansung mencari makna dalam pertunjukan.
Ketika melihat, ada sebuah partitur. Tapi lama kelamaan. Saya pendekatanya imejiner, jadi langsung mencari gambaran dan peristiwanya. Itu maknanya apa sih? Nah ternyata, saya melihat seperti sebuah menu. Yang dia mempersiapkan dan berartia ada produk. Mungkin dia sedang mempersiapkan produknya untuk di jual.
Saya terus membanyangkan sebuah jongko, ini pisaunya di sini dan ini tepung. Seperti sesorang yang sedang menyiapkan menu. Saya tidak tahu, mungkin saya saja yang berpikirnya begitu sebagai penonton.
Setelah itu ke peristiwa selanjutnya. Tiba-tiba menari begitu. Memang dulu saya kalau di teater itu selalu selalu dituntut untuk fokus ke adegan. Tapi kalau di sini, di tabrak area tersebut. Inikan semuanya memiliki gerak dan eksplorasinya masing-masing. Makin lama, makin lama. Karena pertunjukan ini dibantu dengan gerakan yang refetitif maka saya jadi merasa ini seperti berada di pasar banget. Bukankan di pasar memilikifokus yang banyak? Dimana setiap orang punya objeknya masing-masing. Geakan-gerakan itu, saya melihatnya sebagai produknya masing-masing. Dan memang begitulah keadaan di pasar. Ada beras, ada pisang, ada sunlik. Oh, begitu. Ini memang pasar banget.


Rekomendasi Pada awalnya mengajukan 4 kolaborator, namun di perjalannya salah satu kolaborator tidak bisa hadir dan mengikuti proses perkembangan projek sampai akhir karena harus mempersiapkan untuk ujian program magister. Mungkin jika formasi tetap utuh, secara data gerak akan lebih kaya proses transaksi di pasar akan lebih menarik dan menantang, karena masing-masing membawa repertoar tari yang berbeda. bisa melihat kemungkinan ada tatapan lain atau berbeda untuk perkembangan projek ini. Tiga hari untuk laboran gerak itu sebenarnya cukup sempit, proses mengurai data, mengolah data gerak dibuat menjadi matematis perlu penyesuaian yang cukup lama.
Mendengar komentar dan melihat antusiasme dari pennonton saya merasa tertantang dan berfikir untuk melanjutkan projek ini kedepannya, tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi karya utuh dan pentas di suatu tempat. Bagi saya ini adalah pengalam pertama berkarya di luar menari tradisi, saya belajar banyak hal tentang kerja koreografer, kerja tim, bekerja melibatkan orang lain, biasanya saya hanya menerima orderan. Melalui ini saya bisa lebih mengenal tari dari sisi ekonomi, sekaligus itu juga yang membuat saya hidup. Meskipun belum tahu waktunya kapan, karena saya sekarang sudah berkeluarga dan memiliki anak.