Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)
Cipta Media

Laporan Aktivitas Suara Sinden “Ginonjing”

Oleh: Joko Suyanto

Pertunjukan Musik Orkestra Sindhenan

Tanggal 10 Jun 2018
Pose Komposer dan Pembantu karya Orkestra Sindhenan
Nur Handayani menyajikan karya dengan judul Suara Cahaya
Jam 20:00-22:00
Lokasi Gedung Teater Besar ISI Surakarta
Alamat Jl. Ki Hadjar Dewantara no 19, Kentingan, Jebres, Surakarta
Daftar Hadir Aris Setiawan
Prof. Dr. Soetarno,DEA.
Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si.
Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Sn.
Prof. Dr. Sarwanto, S.Kar., M.Hum.
Tujuan Karya ini berorientasi pada nilai tawar artistik dan feminisme. Artistik terdapat pada upaya menawarkan model penciptaan karya seni musik orchestra sindhenan bersumber dari konsep musikal, bukan non musikal. Tawaran itu memberikan paradigma, bahwa bunyi adalah unit terkecil dari susunan musik. Kumpulan bunyi yang diorganisasi itu, adalah kronologi logis terciptanya sebuah musik.
Ringkasan
Hasil Pasca Karya Ginojing ini dihelat, dalam hal ini Nur Handayani sering diundang sebagai narasumber untuk berbicara tentang feminisme dan gender equality diberbagai diskusi. Dampak kongkret dari isu feminisme di wilayah seni pertunjukan khususnya sindhen adalah: Memupuk rasa percaya diri di antara sesama pesinden bahwa stigma negatif itu mampu dijawab dengan kreativitas yang baik. Dampak lain setelah isu tersebut dilontrakan melalui karya Ginonjing, hari ini mulai muncul karya-karya seni selain musik yang juga mengangkat tema tentang keperempuanan. Melihat hal itu, artinya karya ini berhasil menjadi stimulan kepada seniman lain untuk tetap gencar menyarakan konsep feminisme di tengah masifnya konsep patriarki.
Evaluasi Karya ini semula direncanakan oleh tim inti yang terdiri dari beberapa orang. Dalam perjalanan terbentuk tim sekitar 60 orang. Orang-orang yang terlibat dalam proses karya ini, merupakan kolega seniman dan sebagian terdapat beberapa mahasiswa ISI. Tentu dengan SDM yang memiliki latarbelakang seni, memudahkan dalam penyatuan gagasan dalam menjalankan program. Tidak ada motivasi khusus untuk membangunkan semangat mereka, karena kami sebelum menjalankan program ini, sudah sering bertemu di berbagai acara sebagai patner berkesenian dan sebagai teman. Konsep yang kami tanamankan dalam bekerja adalah sama rata sama rasa yang dibalut dengan kekeluargaan.
Secara konsep, karya ini tidak jauh berubah dari apa yang telah diajukan dalam proposal, namun secara teknis, mengalami perubahan yang cukup drastis dari banyangan semula. Kendala yang dihadapai adalah, karena yang terlibat mayoritas kreator seni, dalam latihan acap terjadi diskusi dan perdebatan mengenai teknis artistik yang akan dibangun. Selama latihan, juga sering dihadirkan kritikus seni, untuk menyampaikan opininya tentang karya ini. Namun perdebatan itu hal yang biasa, semua bisa terkendali berkat otoritas sang pengkarya, yang mampu mengakomodir masukan yang diberikan.
Rekomendasi Kami baru pertama kali meraih program hibah, tentu sangat awam dengan persolan yang melingkupinya. Menurut kami, hibah yang diberikan Cipta Media Ekspresi cukup besar. Bagi kami, Cipta Media Ekspresi merupakan angin segar bagi para seniman, khususnya seniman tradisi. Selama ini seniman butuh fasilitas untuk mendukung produktifitasnya dalam berkarya. Mengapa demikian, selama ini seniman tradisi sangat sulit menembus funders, berbeda dengan seniman populis yang agaknya lebih mudah. Adanya Cipta Media Ekspresi ini, menjadi tempat berteduh yang recommended bagi seniman tradisi. Meskipun harus berkompetisi dengan competitor yang lain dalam pengajuan hibah, setidaknya porses tersebut membuat seniman tidak main-main dalam menyusun karya. Terimakasih kepada Cipta Media Ekspresi, sudah memfasilitasi kami dengan baik. Semoga bertemu kembali di program-program Cipta Media Ekspresi yang lainnya.