Anda berada di mode pratinjau.
| | |

Trans-Traffic

257

257 - Trans-Traffic

Penggunaan lampu lalu lintas juga belum dianggap optimal dalam mengatasi kemacetan, untuk itu perlunya edukasi serta tindakan pemberian hukuman (sanksi) terhadap pengguna jalan yang “nakal” secara langsung atau memberikan peringatan awal bagi mereka yang melanggar.Tentunya pemerintah juga ambil alih dalam kegiatan ini. Proyek ini memberikan simulasi tiga dimensi yang memperagakan kendaraan yang sedang melewati jalan raya. Setiap simpang dan jalan akan dibuat semirip mungkin dengan jalan aslinya sehingga membuat simulasi lebih nyata. Mobil akan digantikan oleh robot line follower yang mengikuti jalur jalan yang akan dibuat sebagai miniature jalan raya. Robot line follower nantinya akan dapat di drive pada perangkat seluler, melalui komunikasi Bluetooth. User akan ‘berlatih’ mengendarai ‘mobil’ yang nantinya akan di atur oleh sistem lalu lintas. Ketika lampu hijau menyala maka mereka boleh melewati persimpangan untuk mengarahkan mobil mereka ke tujuan nya masing-masing. Namun ketika lampu merah , mereka wajib berhenti dibelakang garis dan dilarang melintas. Jika terdapat user yang melintas, sistem akan mengetahui nomor identitas kendaraan dan mengirimnya ke server, melalui data ini nantinya server mengetahui identitas user dan kemudian akan memberi peringatan awal berupa sms/toast mobile.

Nomor:
257

Nama Lengkap Inisiator:
Saddam Husein S

Lokasi:
NA

Judul Proyek:
Trans-Traffic

Lama Aktivitas:
12 Bulan

Target Pengguna / Penerima Manfaat:
pengguna jalan Usia > 19 Tahun

Ukuran Keberhasilan:
1. 3 sekolah dasar (Siswa Kelas 12 Tahun )
2. 3 Sekolah Menengah Pertama (13 s/d 15 Tahun)
3. 4 Sekolah Menengah Atas (16 s/d 18 Tahun)

Tipe Konten:
1. Mikrokontroller Arduino/ATmega32.
2. Catudaya rechargeable.
3. Motor DC dan Roda.
4. Perangkat Seluler (Android).
5. Lapangan Uji.

Strategi Distribusi:
1. Sosialisasi melalui media web.<br /> 2. Melakukan inspeksi terhadap sekolah-sekolah<br /> 3. Diskusi dan memberikan pemahaman awal kepada guru dan tenaga pengajar sekolah<br /> 4. Melakukan sosialisasi secara teori (menggunakan buku pedoman) dan praktik (menggunakan sistem).<br /> 5. Sosialisasi pengenalan program ke dinas pendidikan dan kepolisian untuk mendapat dukungan izin dan program.<br /> 6. Perangkat Keras dapat di kendalikan oleh perangkat mobile ,sehingga mempermudah pengguna untuk mengendalikannya.

Dana yang Diminta:
Rp. 200 Juta

Deskripsi Proyek:
Penggunaan lampu lalu lintas juga belum dianggap optimal dalam mengatasi kemacetan, untuk itu perlunya edukasi serta tindakan pemberian hukuman (sanksi) terhadap pengguna jalan yang “nakal” secara langsung atau memberikan peringatan awal bagi mereka yang melanggar.Tentunya pemerintah juga ambil alih dalam kegiatan ini. Proyek ini memberikan simulasi tiga dimensi yang memperagakan kendaraan yang sedang melewati jalan raya. Setiap simpang dan jalan akan dibuat semirip mungkin dengan jalan aslinya sehingga membuat simulasi lebih nyata. Mobil akan digantikan oleh robot line follower yang mengikuti jalur jalan yang akan dibuat sebagai miniature jalan raya. Robot line follower nantinya akan dapat di drive pada perangkat seluler, melalui komunikasi Bluetooth. User akan ‘berlatih’ mengendarai ‘mobil’ yang nantinya akan di atur oleh sistem lalu lintas. Ketika lampu hijau menyala maka mereka boleh melewati persimpangan untuk mengarahkan mobil mereka ke tujuan nya masing-masing. Namun ketika lampu merah , mereka wajib berhenti dibelakang garis dan dilarang melintas. Jika terdapat user yang melintas, sistem akan mengetahui nomor identitas kendaraan dan mengirimnya ke server, melalui data ini nantinya server mengetahui identitas user dan kemudian akan memberi peringatan awal berupa sms/toast mobile.

Definisi Masalah:
Kurangnya ketertiban dan kesadaran masyarakat Indonesia kepada ketertiban lalu lintas. Hambatan juga dialami satuan polisi lalu lintas dalam memberikan pendidikan lalu lintas kepada masyarakat untuk mewujudkan ketertiban lalu lintas bagi warga. Meningkatnya jumlah pelanggaran lalu lintas yang terjadi di kota. Tingkat kematian dan kelalaian pengendara dalam mengemudi.

Cara Mengatasi:
Penyelesaian dilakukan adalah beberapa hal :<br /> 1. Memberikan pendidikan lalu lintas kepada masyarakat untuk mewujudkan ketertiban lalu lintas bagi warga medan (khususnya).<br /> 2. Melakukan aktivitas muatan lokal terhadap sekolah-sekolah dengan men-demokan sistem yang dibuat.<br /> 3. Simulasi akan dibuat menarik karena mobil miniature dikendalikan langsung oleh pengguna sistem.<br /> 4. Melakukan penjelasan mengenai tata cara dan peraturan yang akan digunakan dalam simulasi yang merupakan peraturan lalu lintas sebenarnya.<br /> 5. Melakukan implementasi dan pengembangan mobile sehingga menarik dan mudah digunakan oleh user.<br /> 6. Melakukan uji coba penggunaan dan mengumpulkan feedback.<br /> 7. Pengembangan lanjutan untuk mendapatkan simulasi yang lebih kompleks.<br /> 8. Implementasi terhadap langsung lalu-lintas.

Perkembangan Proyek