Anda berada di mode pratinjau.
| |

Radio Lentera – Pasang Telinga, Pantau Media

176

176 - Radio Lentera – Pasang Telinga, Pantau Media

Pasca-reformasi, jumlah media massa membludak di Indonesia. Tiap-tiap media yang lahir memiliki basis kepentingannya sendiri, baik politis maupun ekonomis. Untuk kepentingan politik, ada media yang mendeklarasikan alirannya secara terbuka dan adapula yang bersembunyi dibalik slogan netral. Dalam kebebasan, ada adagium bahwa yang baiklah yang akan bertahan, dan yang tidak baik akan tumbang. Namun di tengah keberagaman yang ada, apa yang disebut baik menjadi relatif. Begitu juga dengan yang tidak baik. Hari ini, kita dapat dengan mudah menemukan media yang berisi konten diskriminatif dan tidak mengusung prinsip ekualitas (equality). Proyek ini adalah upaya untuk melakukan pemantauan media massa daring (online) dan televisi dengan pendekatan jurnalistik yang berbasiskan multikulturalisme. Adapun hasil pantauan dipublikasikan melalui radio streaming secara berkelanjutan. Radio streaming dipilih sebagai medium karena memiliki jangkauan yang tidak terbatas. Selain itu radio juga dikenal memiliki kemampuan memunculkan imajinasi dan membangkitkan emosi (secara kolektif).

Nomor:
176

Nama Lengkap Inisiator:
Robbi Irfani Maqoma

Lokasi:
Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Organisasi:
Perkumpulan Lentera Timur

Judul Proyek:
Radio Lentera - Pasang Telinga, Pantau Media

Lama Aktivitas:
12 Bulan

Target Pengguna / Penerima Manfaat:
Akademisi (dosen, peneliti, mahasiswa), Pemerintah pusat dan subordinatnya, Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (lingkungan, agraria, kebudayaan, hukum), Media massa, Masyarakat

Ukuran Keberhasilan:
• Aplikasi ini diunduh oleh minimal 1000 orang per bulan
• Radio ini didengar oleh minimal 250 orang per hari

Tipe Konten:
Aplikasi radio streaming tentang pemantauan media di Android, iOS dan Blackberry

Strategi Distribusi:
1. Online<br /> – Kanal sosial media seperti facebook, twitter, google+, instagram, path, dll<br /> – Mailing list<br /> – Rilis melalui email ke komunitas-komunitas terkait<br /> – Jaringan BBM, Whatsapp, Line<br /> <br /> 2. Offline<br /> – Menggelar diskusi yang dapat disiarkan secara langsung maupun tunda

Kuantitas Output Konten:
• Sepuluh wilayah cakupan pemberitaan yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua • Tiga isu utama dalam satu minggu terkait pemantauan media • Enam hari siaran dalam seminggu (Senin-Sabtu) • Sebelas jam siaran dalam satu hari (11.00-22.00 WIB)

Dana yang Diminta:
Rp. 472 Juta

Deskripsi Proyek:
Pasca-reformasi, jumlah media massa membludak di Indonesia. Tiap-tiap media yang lahir memiliki basis kepentingannya sendiri, baik politis maupun ekonomis. Untuk kepentingan politik, ada media yang mendeklarasikan alirannya secara terbuka dan adapula yang bersembunyi dibalik slogan netral. Dalam kebebasan, ada adagium bahwa yang baiklah yang akan bertahan, dan yang tidak baik akan tumbang. Namun di tengah keberagaman yang ada, apa yang disebut baik menjadi relatif. Begitu juga dengan yang tidak baik. Hari ini, kita dapat dengan mudah menemukan media yang berisi konten diskriminatif dan tidak mengusung prinsip ekualitas (equality). Proyek ini adalah upaya untuk melakukan pemantauan media massa daring (online) dan televisi dengan pendekatan jurnalistik yang berbasiskan multikulturalisme. Adapun hasil pantauan dipublikasikan melalui radio streaming secara berkelanjutan. Radio streaming dipilih sebagai medium karena memiliki jangkauan yang tidak terbatas. Selain itu radio juga dikenal memiliki kemampuan memunculkan imajinasi dan membangkitkan emosi (secara kolektif).

Definisi Masalah:
Sepanjang tahun 2013, kurang lebih 800 aduan seputar pemberitaan masuk ke Dewan Pers. Angka ini meningkat tajam dari tahun 2012 yang hanya 476. Dari data tersebut, pengaduan umumnya terkait pada ketidakberimbangan, tidak adanya konfirmasi, atau tidak akurat.<br /> Namun sebetulnya, selain jenis pelanggaran di atas, media massa kerap melakukan diskriminasi terhadap kaum-kaum tertentu. Sebut saja sebuah media cetak/daring di Jakarta yang memukul suku Polahi di Gorontalo dengan tulisan berjudul “Suku Polahi, Setengah Manusia Setengah Hewan”. Atau di media elektronik dengan program Ethnic Runaway yang dahulunya bernama Primitive Runaway.<br /> Di bidang politik, prinsip ekualitas/multikulturalisme juga tidak digunakan oleh banyak media massa. Contohnya ketika masyarakat Borneo pada pertengahan 2012 melakukan blokade Batubara untuk mendapatkan hak atas minyak yang dikandungnya. Aksi ini tampak dikecilkan banyak media melalui pemilihan narasumber yang kontra terhadap aksi masyarakat Borneo.

Cara Mengatasi:
Diskriminasi dan pengabaian prinsip ekualitas/multikulturalisme oleh banyak media perlu diretas. Salah satu jalan meretasnya adalah melakukan pemantauan terhadap media tersebut dan mempublikasikannya kepada masyarakat. Prinsip pemantauannya adalah berbasiskan pada masyarakat yang menjadi objek liputan dari media yang bersangkutan. Cara memantau dilakukan secara bertahap:<br /> <br /> • Membuat aplikasi radio streaming di sistem operasi Android, Blackberry dan iOS<br /> • Menyeleksi kontributor via karya tulis<br /> • Melakukan pelatihan dengan materi antropologi, jurnalisme radio, dan studi media<br /> • Memantau media-media yang dipilih dengan perspektif multikulturalisme<br /> • Meliput masyarakat/pihak yang dijadikan objek liputan media massa<br /> • Meliput terhadap media massa yang melakukan peliputan terhadap suatu masyarakat/pihak<br /> • Menyunting hasil liputan<br /> • Publikasi hasil suntingan di radio streaming<br /> • Memediasi diskusi hasil liputan melalui program interaktif di radio streaming

Perkembangan Proyek