Anda berada di mode pratinjau.
| |

Political Education And Critical Empowerment for Women “PEACE for Women”

145

145 - Political Education And Critical Empowerment for Women “PEACE for Women”

Political Education And Critical Empowerment for Women “PEACE for Women” adalah sebuah program untuk meningkatkan daya kritis perempuan dan membuka akses politik perempuan berbasis komunitas di 3 kabupaten/kota di Solo Raya (Kota Solo, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Klaten). Melalui program ini, perempuan akan memperoleh edukasi melalui berbagai kegiatan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).Hal ini cukup penting karena berdasarkan penggalian tim di beberapa kelompok di lokasi yang diusulkan keterlibatan perempuan dalam perencanaan, penganggaran, dan pembuatan kebijakan di tingkat desa sangatlah minim, bahkan di beberapa tempat nyaris tidak ada. Minimnya peran perempuan dalam ranah publik di wilayah masing-masing disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: 1) Perasaan malu, karena merasa tidak punya kapasitas yang layak untuk terlibat 2) Tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi (tidak diundang) dalam pertemuan 3) Masih adanya pemahaman di masyarakat, bahwa ranah publik adalah ranah untuk kelompok laki-laki dan ranah perempuan adalah di dalam rumah tangga 4) Belum adanya lembaga perempuan yang dapat menjadi media pembelajaran kelompok perempuan 5) Minimnya program-program pendidikan politik dan peningkatan daya kritis perempuan, yang seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak terkait (pemerintah, parpol, LSM/NGO, Ormas)

Nomor:
145

Nama Lengkap Inisiator:
Iwan Setiyoko

Lokasi:
Sukaharjo, Jawa Tengah

Organisasi:
Yayasan Insan Sembada (YIS)

Judul Proyek:
Political Education And Critical Empowerment for Women "PEACE for Women"

Lama Aktivitas:
8 Bulan

Target Pengguna / Penerima Manfaat:
Seluruh Perempuan di 3 kab/kota di Solo Raya (Kota Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sragen)

Ukuran Keberhasilan:
Indikator Capaian Program, yaitu:
1) Ada dan tersebarnya konten/informasi/materi sebanyak 64 item (2x seminggu)
2) Adanya kader-kader perempuan penyebar informasi (K@PPI) sebanyak 90 perempuan (@ 30 perempuan di tingkat kab/kota)
3) Terbentuknya min. 3 kelompok perempuan yang berfungsi sebagai ‘Gugus Belajar’ di masing-masing wilayah
4) Adanya dukungan dan partisipasi aktif multistakeholder di masing-masing wilayah program

Tipe Konten:
Konten yang akan diciptakan dan disebarkan adalah konten-konten yang mampu meningkatkan daya kritis perempuan, serta mampu menambah wawasan dan akses politik perempuan, baik dalam bentuk gambar, informasi teks, link/sumber berita, update pemilu, dan lain sebagainya.

Strategi Distribusi:
Konten disiapkan/diciptakan oleh tim, kemudian disebarkan kepada K@PPI, yang kemudian diteruskan ke seluruh jaringan perempuan di masing-masing wilayah. Penyebaran ini menggunakan prinsip bola salju (snow ball) yang semakin lama akan semakin membesar.

Kuantitas Output Konten:
Konten/informasi/materi yang akan diciptakan dan disebarkan sebanyak 64 item (2x seminggu). Pasca mendapatkan informasi ini, kelompok perempuan akan mendiskusikannya di 'Gugus Belajar' masing-masing wilayah. Selain berupa konten, program ini juga akan menghasilkan K@PPI sebanyak 90 perempuan (@ 30 perempuan di tingkat kab/kota), Membentuk min. 3 kelompok perempuan yang berfungsi sebagai 'Gugus Belajar' di masing-masing wilayah, dan menggalang dukungan dan partisipasi aktif multistakeholder di masing-masing wilayah program

Dana yang Diminta:
Rp. 500 Juta

Deskripsi Proyek:
Political Education And Critical Empowerment for Women “PEACE for Women” adalah sebuah program untuk meningkatkan daya kritis perempuan dan membuka akses politik perempuan berbasis komunitas di 3 kabupaten/kota di Solo Raya (Kota Solo, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Klaten). Melalui program ini, perempuan akan memperoleh edukasi melalui berbagai kegiatan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).Hal ini cukup penting karena berdasarkan penggalian tim di beberapa kelompok di lokasi yang diusulkan keterlibatan perempuan dalam perencanaan, penganggaran, dan pembuatan kebijakan di tingkat desa sangatlah minim, bahkan di beberapa tempat nyaris tidak ada. Minimnya peran perempuan dalam ranah publik di wilayah masing-masing disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:<br /> 1) Perasaan malu, karena merasa tidak punya kapasitas yang layak untuk terlibat<br /> 2) Tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi (tidak diundang) dalam pertemuan<br /> 3) Masih adanya pemahaman di masyarakat, bahwa ranah publik adalah ranah untuk kelompok laki-laki dan ranah perempuan adalah di dalam rumah tangga<br /> 4) Belum adanya lembaga perempuan yang dapat menjadi media pembelajaran kelompok perempuan<br /> 5) Minimnya program-program pendidikan politik dan peningkatan daya kritis perempuan, yang seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak terkait (pemerintah, parpol, LSM/NGO, Ormas)

Definisi Masalah:
Permasalahan utama yang ingin diatasi melalui program ini adalah rendahnya daya kritis dan akses politik perempuan yang berpengaruh terhadap rendahnya keterlibatan perempuan dalam proses perencanaan, penganggaran, dan penyusunan kebijakan di maing-masing wilayah.

Cara Mengatasi:
Melalui program ini, daya kritis dan akses politik perempuan akan ditingkatkan melalui berbagai kegiatan berbasis TIK, seperti:<br /> 1) Pembuatan dan penyebaran informasi/materi/konten yang dapat membuka daya kritis perempuan dan menambah wawasan perempuan tentang politik dalam berbagai bentuk (gambar, news, kalimat motivatif, dlsb)<br /> 2) Melatih kader-kader di tingkat kelompok agar menjadi ‘penyebar’ informasi kepada masyarakat yang lebih luas di wilayahnya masing-masing<br /> 3) Menguatkan kelompok perempuan agar menjadi wadah ‘Gugus Belajar’ (kelas diskusi dan belajar) perempuan di masing-masing wilayah<br /> 4) Menguatkan dukungan multistakeholder dalam memperkuat kelembagaan perempuan dan juga perempuan secara individu

Perkembangan Proyek