Anda berada di mode pratinjau.
| | |

Jembatan Jurang Kesenjangan Teknologi Informasi Di Indonesia

045

045 - Jembatan Jurang Kesenjangan Teknologi Informasi Di Indonesia

Pesatnya teknologi informasi di Indonesia, membuat sebagian besar masyarakat di wilayah Indonesia barat semakin mudah dalam mengakses website. Kondisi ini bertolak belakang dengan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di wilayah Indonesia timur. Mereka tidak dapat mengakses website karena belum meratanya teknologi komunikasi data. Yang dapat diandalkan untuk bertukar informasi adalah telepon dan SMS. Disinilah muncul, jarak komunikasi karena perbedaan teknologi yang ada. Langkah pertama tim adalah membuat website yang dilengkapi fasilitas SMS Gateway, sebagai wadah bersama. Artinya, mereka yang memiliki keterbatasan teknologi informasi, dapat mengikuti informasi terbaru di dalam website dengan menggunakan SMS. Informasi apa yang ada di dalam website? Tim akan datang ke pedesaan di NTB dan NTT untuk memfasilitasi komunitas yang dipilih, untuk membuat video dengan pendekatan partisipatif. Artinya, masyarakat pedesaan menggali pengalamannya, membuat storyboard, dan menjadi kamerawan/wati untuk mewujudkan video mereka sendiri. Cerita dalam bentuk video inilah yang akan ditampilkan di dalam website. Pengunjung website dapat melihat video tersebut, dan menuliskan komentarnya. Dengan fasilitas SMS Gateway, isi komentar ini pun dapat sampai di tangan masyarakat desa dalam bentuk SMS. Masyarakat desa pun dapat berbagi cerita yang lebih detil kepada pengunjung website, dengan mengirimkan SMS untuk tampil di dalam website tersebut.

Nomor:
045

Nama Lengkap Inisiator:
Equatori Prabowo, ST

Lokasi:
Sleman, Yogyakarta

Judul Proyek:
Website – SMS Interaktif, Jembatan Jurang Kesenjangan Teknologi Informasi Di Indonesia

Lama Aktivitas:
12 Bulan

Target Pengguna / Penerima Manfaat:
(1) Tiga desa di Nusa Tenggara Barat, (2) Tiga desa di Nusa tenggara Timur, (3) Pengunjung website, (4) Pemerintah (kementerian terkait), (5) Komunitas video partisipatif di 3 kota besar (Yogyakarta, Surabaya, Jakarta)

Ukuran Keberhasilan:
1. banyaknya pengunjung yang datang ke website
2. interaksi aktif antara pengunjung website dengan komunitas
3. setelah tim tidak lagi berada di daerahnya, komunitas mampu untuk membuat video dengan isu yang lain untuk diunggah di dalam website
4. adanya perhatian dan dukungan dari Pemerintah Pusat (Depkominfo dan kementerian terkait sesuai isu yang diangkat). Hal tersebut dapat dilihat dari komentar yang tercatat di website, maupun interaksi langsung via SMS dan telepon antara Pemerintah dengan contact person di suatu daerah
5. adanya perhatian dari lembaga, organisasi, pemerhati, komunitas lain dengan dasar pemetaan dan isu yang dihadapi daerah tersebut
6. munculnya inisiatif dari pihak lain, untuk mereplikasi pendekatan ini untuk kepentingan komunitas masyarakat yang lain

Tipe Konten:
Konten utama : komunikasi 2 arah antara pengunjung website dengan komunitas di daerah, sebagai bentuk interaksi dalam berbagi informasi antara komunikasi data (website) dan komunikasi seluler (SMS), yang ditampilkan di dalam website.
Konten media : video partisipatif, termasuk beberapa bentuk media yang menyertainya, seperti cerita di balik proses pendampingan, foto, audio, grafis dan narasi, yang dapat memberikan perspektif yang lebih luas tentang isu yang dihadapi.

Strategi Distribusi:
1. penyebaran informasi tentang website secara aktif melalui media sosial, email, messenger, dan SMS, baik oleh tim maupun oleh pengunjung website<br /> 2. membuat program iklan / sosialisasi melalui media elektronik (radio lokal dan nasional) serta media cetak (surat kabar lokal dan nasional) yang mengajak masyarakat umum untuk mengunjungi website, mendapatkan cerita dan informasi dalam bentuk video, dan aktif berinteraksi dengan komunitas dampingan<br /> 3. mengajak peran serta Pemerintah Pusat yang terkait, lembaga lokal dan International NGO yang mempunyai isu yang sama, untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas sekaligus lebih fokus<br /> 4. pada bulan ke 10 dari masa proyek, diadakan pemutaran 6 video partisipatif di 3 kota besar (Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta), untuk membentuk dan membuat jaringan komunitas penggerak video partisipatif

Dana yang Diminta:
Rp. 958 Juta

Deskripsi Proyek:
Pesatnya teknologi informasi di Indonesia, membuat sebagian besar masyarakat di wilayah Indonesia barat semakin mudah dalam mengakses website. Kondisi ini bertolak belakang dengan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di wilayah Indonesia timur. Mereka tidak dapat mengakses website karena belum meratanya teknologi komunikasi data. Yang dapat diandalkan untuk bertukar informasi adalah telepon dan SMS. Disinilah muncul, jarak komunikasi karena perbedaan teknologi yang ada. Langkah pertama tim adalah membuat website yang dilengkapi fasilitas SMS Gateway, sebagai wadah bersama. Artinya, mereka yang memiliki keterbatasan teknologi informasi, dapat mengikuti informasi terbaru di dalam website dengan menggunakan SMS.<br /> Informasi apa yang ada di dalam website?<br /> Tim akan datang ke pedesaan di NTB dan NTT untuk memfasilitasi komunitas yang dipilih, untuk membuat video dengan pendekatan partisipatif. Artinya, masyarakat pedesaan menggali pengalamannya, membuat storyboard, dan menjadi kamerawan/wati untuk mewujudkan video mereka sendiri.<br /> Cerita dalam bentuk video inilah yang akan ditampilkan di dalam website. Pengunjung website dapat melihat video tersebut, dan menuliskan komentarnya. Dengan fasilitas SMS Gateway, isi komentar ini pun dapat sampai di tangan masyarakat desa dalam bentuk SMS. Masyarakat desa pun dapat berbagi cerita yang lebih detil kepada pengunjung website, dengan mengirimkan SMS untuk tampil di dalam website tersebut.

Definisi Masalah:
Keterbatasan sarana yang mendukung teknologi komunikasi data (jaringan internet – wired & wireless), menyebabkan arus informasi dari luar dan keluar dari masyarakat pedesaan di daerah NTT dan NTB terbatas pada fitur telepon dan SMS.<br /> Hal tersebut membawa dampak pada :<br /> 1. orang dari luar daerah tidak mengetahui dengan pasti gambaran dan kendala yang dihadapi oleh daerah tersebut<br /> 2. kurangnya publikasi tentang usaha swadaya masyarakat (ekonomi dan sosial), dampak pengaruh eksternal (budaya luar, kebijakan, iklim), kerentanan yang dialami masyarakat, yang menyebabkan kurangnya perhatian dari pihak terkait<br /> 3. terbatasnya akses, dukungan, sarana, informasi dan wadah untuk dapat menjalin interaksi dan berbagi informasi yang berkelanjutan dengan masyarakat umum, pemerhati, lembaga, dan Pemerintah Pusat

Cara Mengatasi:
1. Pembuatan website dengan fasilitas SMS Gateway.<br /> 2. Membentuk dan mendampingi komunitas video di 6 desa dampingan di NTB dan NTT.<br /> Komunitas terdiri dari 15 – 20 orang, dengan memperhatikan rentang usia, gender, dan perannya di masyarakat.<br /> Proses pembuatan video partisipatif dimulai dari pra produksi, produksi (merekam video menggunakan smartphone), sampai editing video dengan supervisi dari komunitas.<br /> Setelah selesai pendampingan, tim memberikan kepada komunitas (melalui contact person) 1 buah smartphone dan 3 buah SD Card. Smartphone ini ditujukan untuk memproduksi sendiri konten video selanjutnya. Dengan asumsi proses editing dibuat oleh tim (yang sudah tidak berada di lokasi), maka komunitas dapat mengirimkan SD Card melalui jasa pos.<br /> 3. Tim mengunggah video partisipatif tersebut dan menautkannya dengan website. Selanjutnya tim menginisiasi interaksi antara pengunjung website dengan komunitas (lihat : Strategi Distribusi).

Perkembangan Proyek