Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

f-061 - Sirap Wadon


Nama Inisiator

Abersyah (Ersya Ruswandono)

Bidang Seni

audiovisual

Pengalaman

4 Tahun 8 Bulan (Juni 2013 - Maret 2018)

Contoh Karya

f-061-karya-ersya.mp4

Situs Web

www.ersyaruswandono.com

Media Sosial

Instagram @ersyarwd, Facebook Ersya Ruswandono

Kategori Proyek

kerjama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

"Sirap Wadon" merupakan pameran fotografi dan penataan gaya oleh fashion stylist, Akib Aryou, yang akan dilaksanakan pada akhir April 2018 mendatang bertempat di Artotel Yogyakarta. "Sirap Wadon" mengangkat mengenai representasi perempuan dalam mitologi Jawa dan membangun mitologi baru melalui karya visual. Berkolaborasi dengan sejumlah pelaku seni di Indonesia, yaitu tiga visual creator (Dani Huda, Ersya Ruswandono, dan Gilang Chandra) serta tiga penari sebagai muse (Asmara Abigail, Sekar Sari, dan Mila Rosinta Totoatmojo). Sejumlah desainer yang mendukung di antaranya adalah Felicia Budi (Fbudi), Bramanta Wijaya (Bramanta Wijaya Sposa), dan Auguste Soesastro (Kraton).

Latar Belakang Proyek

Sirap Wadon" diciptakan dengan tujuan yang mendekonstruksi representasi perempuan dalam mitologi Jawa dan membangun mitologi baru. Kami mengambil inspirasi dari berbagai interpretasi yang dilakukan beberapa penulis. Misalnya, Toeti Heraty dalam Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000) yang melihat Calon Arang sebagai seorang korban yang dihinakan oleh masyarakat patriarkal. Terutama terinspirasi oleh karya Goenawan Mohammad, The King's Witch (2000). Goenawan menceritakan kejatuhan Calon Arang dari sudut pandang Calon Arang, berargumen bahwa kejahatan Calon Arang bersumber kepada posisinya yang “hanyalah seorang ibu”. Beserta sejumlah eksplorasi kami dalam karya-karya sebelumnya, seperti Gandrung (2015), Vanas (2015), A Cornucopia of Womanhood ( 2017), dan Parang (2017), Sirap Wadon berusaha membangun sebuah semesta baru okultisme Jawa yang mereinterpretasi tokoh-tokoh perempuan dengan sudut pandang feminis.

Masalah yang Diangkat

Lewat "Sirap Wadon", kami berargumen bahwa perempuan-perempuan dalam mitologi Jawa adalah para pahlawan—tubuh-tubuh, yang dalam kejatuhan mereka, sejatinya memiliki agensi. 'Kejahatan' para perempuan ini semata hanyalah karena mereka melawan patriarki. Oleh karena itu, kami berusaha mengklaim ulang bahwa sihir yang dikandung perempuan adalah kesaktian yang menguatkan perempuan, alih-alih menjadi dosa. Perempuan dalam pameran ini adalah penyihir-penyihir yang dengan teluh dan tenung mereka menolak untuk tunduk kepada penaklukan laki-laki—penyihir, yang dengan tubuh terkutuk tersebut, menciptakan teror bagi laki-laki dan patriarki. Femininitas perempuan adalah sihir perempuan—sirap wadon—yang menjadi kesaktian mereka; dan kini, para perempuan penyirap ini melawan balik. Tema ini akan kami bagi ke dalam tiga subtema, masing-masing diangkat menjadi karya visual yang independen sekaligus koheren: Lumbung, reinterpretasi ksiah Rara Jonggrang. Jonggrang adalah putri Ratu Boko, yang dibunuh oleh si penakluk Bandung Bandawasa. Ketika Bandung memaksa menikahi Jonggrang demi melegitimasi kekuasannya, Jonggrang menolak tunduk kepada agresivitas Bandung dan melawan balik dengan membumihanguskan trofi incaran maskulinitas—kesuburannya, lumbungnya. Gandrung, reinterpretasi kisah Calon Arang, terinspirasi dari The King’s Witch karya Goenawan Mohammad. Calon Arang adalah seorang pemimpin perlawanan rakyat Girah terhadap kediktatoran Airlangga. Kini ia tengah menghadapi senjakala perjuangannya, ketika sang diktator memanfaatkan kekuatan sang ampu untuk meng-asor-kannya—kasih Calon Arang terhadap putrinya Manjali, gandrungnya. Jantung, reinterpretasi karakter Pambayun, terinspirasi dari Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam karya ini, Pambayun menggugat manipulasi yang dilakukan ayahnya untuk membunuh suaminya, pemberontak Wanabaya. Lewat tariannya, Pambayun meneruskan pemberontakan terhadap otoritas patriarki dalam mengatur hak milik paling pribadi seorang individu—emosi perempuan, jantungnya.

Indikator Sukses

- Mengenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang industri mode di Yogyakarta dan sekitarnya. - Mematahkan stigma industri mode sebagai hal yang superfisial dan trivial. - Mengenalkan secara mendalam profesi penata gaya busana (fashion stylist) sebagai sebuah pilihan profesi dalam industri kreatif. - Memfasilitasi koneksi pelaku baru potensial serta aktor strategis dalam industri kreatif dan mode di Yogyakarta.

Lokasi

DI Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.70 Juta

Durasi Proyek

9 bulan