Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

f-043 - Regenerasi dan Eksplorasi Calempong


Nama Inisiator

Dira Rahmasari untuk Rusmiah

Bidang Seni

lainnya

Pengalaman

Dira Rahmasari: Manajemen Seni. Rusmiah: 55 tahun telah bermain Calempong

Contoh Karya

Situs Web

Media Sosial

Kategori Proyek

lintasgenerasi

Deskripsi Proyek

Nenek Rusmiah (65 th) seorang pemain talempong –permainan music tradisonal – tinggal di sebuah Desa bernama Koto Lamo, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Desa ini terletak di dalam Kawasan Suaka Margassatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Akses ke Desa ini melalui jalur Sungai Subayang dan Sungai Bio (jalur darat tidak layak), tidak ada listrik dari PLN, tidak ada sinyal handphone. Desa ini dihuni oleh 262 KK. Selama hidup nenek Rusmiah belum pernah ke ibukota provinsi Riau, Kota Pekanbaru yang hanya berjarak 114 km dari Desa Koto Lamo. Hanya beberapa kali ke ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu yakni Gema. Nenek Rusmiah salah satu pewaris kebudayaan permainan calempong yang hampir punah di Desa Koto Lamo. Minat masyarakat untuk belajar semakin tergerus malah bisa dikatakan tidak ada. Bila tidak ada terobosan baru atau kekinian dalam menginspirasi masyarakat untuk belajar dan melestarikannya maka diperkirakan kepandaian Nenek Rusmiah memainkan alat music Calempong akan punah. Menurut cerita Nenek Rusmiah, dahulu music calempong ini ada nyanyian nandung nya tapi sekarang tidak ada lagi penyanyinya dan tidak ada yang bisa. Kekhawatiran akan punah budaya permainan calempong di Desa Koto Lamo akibat tidak adanya dialog antar generasi minat belajar inilah yang menginspirasi dan menguatkan niat saya untuk mengusulkan Nenek Rusmiah untuk mendapatkan Dana Hibah ini. Saya Dira Rahmasaari suka kepada seni manajemen seni dan volunteer di Rumah Budaya Sikukeluang yang mendampingi masyarakat Desa Koto Lamo. Saya ingin kepandaian Nenek Rusmiah dalam memainkan Calempong tidak punah, saya ingin Nenek Rusmiah di umurnya 65 th ini dapat memperlihatkan tradisi bermain calempong ini di Ibukota Provinsi bahkan Ibukota Republik Indonesia dan sepanjang Jawa. Saya ingin nenek Rusmiah kembali percaya diri kepandaiannya bermain calempong merupakan sebuah asset kebudayaan negeri ini yang tidak boleh punah, yang harus diciptakan generasi penerusnya. Saya juga ingin masyarakat Desa Koto Lamo juga bangga dengan kesenian yang mereka punya dengan membuktikan bahwa bermain calempong bisa keliling Jawa. Saya juga ingin membuktikan dan menginspirasi anak muda baik di Desa Koto Lamo, di Riau, di Sumatera bahkan Jawa bahwa banyak sumber inspirasi yang bisa digali dan dieksplorasi dari kebudayaan kita sendiri. Proyek ini bentuknya adalah: 1.) Transfer ilmu bermain calempong antara Nenek Rusmiah dengan masyarakat desa Koto Lamo dan 3 orang seniman dari Pekanbaru dalam bentuk pelatihan/belajar bersama 2 hari dalam seminggu selama 5 bulan. 2.) 3 Orang seniman dari Pekanbaru akan menyerap apa yang dimiliki oleh Nenek Rusmiah dalam bentuk asli dan memainkannya bersama nenek Rusmiah di Pekanbaru dan Tour keliling Jawa. Selain itu seniman ini juga akan mengeksplorasi calempong ini agar ada bentuk baru yang bertujuan bisa menarik minat anak muda untuk mengetahui, dan belajar calempong.

Latar Belakang Proyek

Nenek Rusmiah 65 tahun, seorang pemain music tradisi yakni calempong di desa Koto Lamo, Kec Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar, Prov Riau yang krisis kepercayaan diri bahwa kepandaian memainkan calempong ini tidak berguna lagi akibat tidak adanya generasi muda yang mau belajar. Untuk itu perlu membangkitkan semangat nenek Rusmiah dalam mentransfer kepandaiannya dan juga menunjukkan kepada generasi muda bahwa music tradisi ini merupakan kekuatan dan jati diri bangsa, sumber inspirasi dalam berkarya.

Masalah yang Diangkat

1.) Tradisi Musik Calempong di Desa Koto Lamo yang diperkirakan akan punah akibat tidak ada regenerasi / transfer kepandaian antara generasi tua dengan muda. 2.) Tidak adanya regenerasi ini akibat tradisi ini dianggap kuno, tidak menarik oleh masyarakat. 3.) Tradisi musik calempong ini tergerus oleh kebudayaan luar dan pola pikir masyarakat yang menganggap mereka masyarakat tertinggal dan ingin menunjukkan bahwa mereka masyarakat modern dan harus mengkonsumsi budaya luar.

Indikator Sukses

1.) Timbul kepercayaan diri dari Nenek Rusmiah bahwa kepandaiannya bermain calempong adalah sebuah keahlian yang hebat dan harus di ajarkan kepada generasi muda. 2.) Timbul minat belajar bermain calempong oleh remaja/anak muda di Desa Koto Lamo khususnya dan Riau umumnya. 3.) Musik calempong ini menjadi inspirasi dan ruang eksplorasi seniman music untuk menciptakan bentuk baru dan menjadi tradisi lagi ratusan tahun kemudian.

Lokasi

Pekanbaru

Dana yang Dibutuhkan

Rp.299.480 Juta

Durasi Proyek

8 bulan