Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

963 - Enam Menguak Takdir: Feminisme dan Perempuan Perupa 1980an


Nama Inisiator

Alia Swastika

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

12 tahun

Contoh Karya

Situs Web

arkgalerie.com; academia.edu/aliaswastika

Media Sosial

facebook: Alia Swastika

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan upaya untuk mendokumentasikan, mendata, dan membaca kembali karya-karya seniman perempuan perupa yang berkarya terutama pada periode 1980an hingga awal 1990an. Data-data yang dimaksudkan adalah dokumentasi karya, video wawancara dan citra gambar lain yang mendukung, juga bahan-bahan tertulis berupa kliping atau tulisan yang akan menjadi data primer dalam penelitian ini. Hasil akhir presentasi karya diharapkan berupa buku terbitan terbatas, susunan arsip, dokumentasi gambar, serta video wawancara yang dapat diunggah ke media sosial sehingga dapat didistribusikan secara lebih luas. Selain mencoba membangun narasi tentang seniman-seniman yang sudah mempunyai kiprah khusus dalam sejarah seni, saya kira juga penting untuk dapat menemukan seniman-seniman dari wilayah non-Jawa yang selama ini kurang mendapat tempat dalam sejarah seni di Indonesia. Saya akan berangkat dari enam seniman sebagai titik awal penelitian: yaitu Siti Adiati, Nanik Mirna, Nunung WS, Dolorosa Sinaga, Mangku Muriati dan Lucia Hartini. Keenam seniman ini saya kira mempunyai posisi penting dalam skena sejarah seni, tetapi tidak semua pemikiran dan karya mereka dibaca dan ditunjuk sebagai titik penting dalam sejarah seni di Indonesia. Dalam perjalanan selanjutnya, saya melihat kemungkinan yang besar bahwa akan ada nama-nama lain yang muncul dan menjadi bagian dalam penelitian.

Latar Belakang Proyek

Pada awal 2017, saya mendatangi pameran Gerakan Seni Rupa Baru yang diselenggarakan di Galeri Katamsi ISI Yogyakarta. Sebagai gerakan penting yang menjadi tonggak lahirnya seni rupa kontemporer di Indonesia, hanya ada dua nama seniman perempuan yang tercatat di sana yaitu Siti Adiati dan Nanik Mirna. Selama ini tidak banyak pula tulisan yang secara khusus mengulas peranan kedua seniman tersebut dalam GSRB. GSRB selalu dituliskan dalam perspektif sang kurator maupun anggota seniman laki-laki yang lebih vokal. Karya kedua seniman perempuan ini sendiri menurut saya sangat menonjol. Siti Adiati melontarkan kritik yang sangat tajam berkaitan dengan proses pembangunan yang mengorbankan lingkungan hidup dan kemanusiaan, sementara Nanik Mirna menciptakan karya yang secara kritis mempertanyakan membungkaman dan hilangnya aktivis-aktivis di masa awal Orde Baru. Dari penelusuran terhadap karya-karya mereka, saya melihat adanya peranan penting yang tidak terlihat dari seniman-seniman perempuan, dan bagaimana pemikiran mereka sering dikaburkan oleh peran laki-laki. Her(story) yang memuat perlawanan kaum perempuan banyak hilang dari kisah sejarah, sehingga generasi setelahnya seperti kehilangan narasi dan pengetahuan atas pemikiran tersebut. Situasi yang timbang dalam penulisan sejarah seni dan dalam konteks sosial politik secara lebih umum inilah yang kemudian mendorong saya untuk melaksanakan penelitian ini.

Masalah yang Diangkat

Secara khusus, penelitian ini mendiskusikan narasi-narasi tentang seniman perupa perempuan dan karya-karya mereka, serta mengaitkannya secara lebih jauh dengan konteks sosial politik pada periode waktu tertentu. Artinya, penelitian ini berupaya untuk memperkuat narasi-narasi tentang seniman perempuan dalam konteks sejarah seni (rupa) di Indonesia, yang selama ini acap hilang atau tidak disuarakan. Tahun 1980an secara khusus saya pilih sebagai konteks zaman mengingat periode waktu tersebut adalah periode yang krusial dalam proses kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia. Dengan menguatnya ideologi developmentalisme, yang menekankan pada stabilitas keamanan dan ekonomi, maka gerakan mahasiswa masyarakat sipil dibungkam; seniman, aktivis dan intelektual ditekan, diminta untuk kembali ke kampus dan sarangnya. Demikian pula gerakan perempuan, dijinakkan dan disederhanakan menjadi bentuk-bentuk organisasi seperti Dharma Wanita dan Kelompok PKK, yang kemudian tumbuh menjadi bentuk ibuisme, di mana peran sosial politik perempuan ditekan dan disembunyikan. Dalam konteks politik yang semacam itu, bagi saya, menjadi menarik untuk melihat bagaimana seniman-seniman perempuan yang tumbuh dalam sejarah pendidikan kritis untuk bergulat dengan tekanan represi dan sensor, dan pada saat yang sama, untuk terus berkiprah dalam dunia seni yang maskulin. Bagaimana pula mereka melihat pemikiran-pemikiran feminism pada masa itu dan apakah pengaruhnya bagi karya-karya mereka?

Indikator Sukses

- terkumpulnya data dan arsip tentang seniman-seniman perempuan yang berkiprah tahun 1980an-1990an - Terumuskannya pemikiran-pemikiran penting dari tokoh-tokoh tersebut dan bagaimana pemikiran tersebut mempengaruhi sejarah seni rupa di Indonesia - Terdistribusikannya pengetahuan baru tentang seniman-seniman tersebut kepada generasi yang lebih luas melalui beragam cara presentasi dan penyebaran pengetahuan - Terjaganya estafet pengetahuan dan pemikiran perempuan antar generasi.

Lokasi

DI Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.90 Juta

Durasi Proyek

8 bulan