Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

961 - Kanyaah Miss Tjitjih


Nama Inisiator

RATU SELVI AGNESIA

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

sejak 2009 bekerja sebagai manajer acara-acara kesenian di teater dan seni rupa dan penulis seni budaya hingga saat ini

Contoh Karya

Penelitian Ratu Selvi Agnesia.pdf

Situs Web

https://selviagnesia.wordpress.com/

Media Sosial

facebook: Ratu Selvi Agnesia Instagram: @ratuselvi

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

“Suka duka orang seni itu pahit dan mahal. Tapi buat ibu sudah jadi kanyaah (rasa sayang). Miss Tjitjih tempat ibu ada dan tempat ibu pulang” tutur Imas Darsih, sutradara Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Proyek penulisan buku ini t adalah entang perjalanan grup Sandiwara Sunda Miss Tjitjih (MTJ) yang berdiri sejak tahun 1928. Proyek buku ini akan menuliskan MTJ dengan merujuk pada sosok Imas Darsih. Selama rentang usia Sandiwara Sunda MTJ berusia 90 tahun, Imas Darsih (53 tahun) adalah sosok perempuan pertama yang menjadi sutradara Sandiwara Sunda MTJ sejak tahun 2011. Sejak SD ia sudah berperan sebagai pemain, asisten sutradara, menuliskan sekitar 28 naskah: Setan Payung Hitam, Perawan di Sarang Hantu dll. Tujuan utama penulisan buku adalah menuliskan biografi Imas Darsih sebagai sutradara perempuan sandiwara MTJ untuk refleksi nilai sejarah dan kesenian Sandiwara Sunda MTJ. Bagaimana perjalanan hidup dan kreativitas Imas sebagai seniman dan sutradara juga sistem kultural pewarisan dalam estetika pemanggungan. Penulisan buku menggunakan riset metode etnografi untuk mengkaji dan mendeskripsikan kebudayaan melalui sudut pandang asli dari komunitas Miss Tjitjih. Buku ini sebagai upaya pendokumentasian terhadap arsip-arsip MTJ, seperti naskah dan sejarah juga relevansi antara MTJ dan Imas Darsih menjadi semangat tradisi seniman perempuan yang terus berkarya dengan kanyaah kesenian.

Latar Belakang Proyek

- Sejarah Miss Tjitjih Sandiwara Sunda Miss Tjitjih didirikan pada tahun 1928 di Jakarta. Bermula dari sosok perempuan Sunda berusia 18 tahun bernama Nyi Tjitjih. Nyi Tjijtih yang dipersunting Aboe Bakar menjadi primadona utama dengan didirikannya “Miss Tjitjih Toneel Gezelshap” dengan kekhasan lakon berbahasa Sunda. Usia MTJ memasuki 90 tahun dan satu-satunya grup sandiwara Sunda yang masih ada di Indonesia. Gedung pertunjukan mereka berpindah-pindah dengan komplek hunian yang saat ini dihuni sekitar 37 kepala keluarga. Mereka yang hidup di Miss Tjitjih membutuhkan daya adaptasi tinggi dalam kajian simbolik, sosial dan kultural. Pada 20 Agustus 2007, Gedung MTJ kebakaran, banyak arsip bersejarah hilang. Pengarsipan Miss Tjitjih perlu untuk disusun kembali - Imas sebagai sutradara perempuan pertama Sandiwara Sunda Miss Tjitjih Imas Darsih menggantikan Mang Esek (alm) sebagai sutradara yang meninggal 31 Juli 2011. Imas awalnya tidak percaya diri. Namun karena amanat dan rasa nyaah dan pengalaman, ia pun meneruskan semangat MTJ untuk tetap berjaya Lakon pertama yang ia sutradarai Misteri Nenek Gayung hingga selama 7 tahun sudah puluhan pertunjukan. Di balik lakon horornya mengandung banyak pesan sosial seperti kehidupan rakyat kecil, sindiran terhadap situasi sosial politik, peran dan harga diri perempuan, dan bagaimana manusia mampu terus hidup di balik berbagai permasalahan hidupnya

Masalah yang Diangkat

Penulis mencoba mengurai tema besar yang akan diangkat di Sandiwara Sunda Miss Tjitjih yang akan dijelaskan di antaranya tentang Pewarisan, Bahasa, Proses kreatif dan pengarsipan. Merujuk hasil perbincangan keseharian penulis dengan Imas, seluruh tema ini memiliki sekelumit masalah yang saling trkait seperti yang dipaparkan dalam deskripsi proyek. Pada pewarisan, apa yang harus tetap dan apa yang harus berubah? Pada sisi lain pewarisan ini memiliki relevansi pada bahasa Sunda dan nilai-nilai ke-Sunda-an. Yaitu problem regenerasi terhadap bahasa dan nilai. Proyek ini diharapkan menjadi buku yang secara holistik menarasikan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih melalui refleksi Imas Darsih sebagai sutradara perempuan pertama di Miss Tjitjih. Nilai-nilai kesetiaan dan kecintaan Imas pada Miss Tjtjih menjadi penting untuk didokumentasikan dalam buku dan selanjutnya secara dialektika akan turut menarasikan nilai sejarah sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Buku ini semoga dapat menjadi arsip yang lengkap yang diharapkan menjadi distribusi pengetahuan, tidak hanya untuk masyarakat namun juga untuk regenerasi seniman Miss Tjitjih untuk membaca dan menghayati Imas Darsih atas loyalitas dan kecintaanya pada kesenian Sunda dan Miss Tjitjih tempat ia hidup dan ia pulang.

Indikator Sukses

- Penerbitan dan launching di Miss Tjitjih Kesuksesan dalam proyek riset ini adalah penerbitan buku, penulis memiliki beberapa jaringan penerbitan di Bandung, Yogyakarta dan Jakarta yang dapat membantu penerbitan terutama dengan tema seni pertunjukan tradisi dengan kajian secara etnografi. Launching buku ini akan dilakukan di Miss Tjitjih sebagai “rumah” dan “Panggung”. Setelah hibah ini sukses dengan launching buku, selanjutnya penulis dapat mensosialisasikan buku dengan bekerjasama bersama kampus seni di Indonesia, seperti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan Universitas Indonesia, sehingga penelitian dan pengetahuan tentang Miss Tjitjih ini dapat didistribusikan dengan baik. Selain itu, buku ini dapat didiskusikan di beberapa daerah di Jawa Barat. Penulis juga memiliki harapan dapat menggaungkan Miss tjitjih dengan membuat Festival Miss Tjitjih, yaitu berbagai kelompok teater mementaskan naskah asli Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, sehingga penulis tidak hanya menjadi peneliti namun terlibat sebagai pelaku, harapan itu semoga menjadi keberlanjutan dari proyek riset buku yang berkesinambungan.

Lokasi

DKI Jakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.90 Juta

Durasi Proyek

9 bulan