Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pemohon Hibah

Ratnawati Pribadi


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

kriya

Pengalaman Berkarya

3 tahun

Contoh Karya

Situs Web

Media Sosial

Facebook page: Kakanana, IG: @haikakanana

Proyek


No. Formulir

909

Judul Proyek

100 Kembang Daluang, 500 Ibu Jatuh Sayang

Lokasi Proyek

Bandung/Jawa Barat

Deskripsi Proyek

Sejak Desember 2017 saya bersama Mufid Sururi mengumpulkan anak-anak pohon saeh, bahan baku kertas tempa tradisional yang disebut daluang. Anak-anak saeh ini akan dibagikan kepada siapapun yang berkenan membesarkannya dengan hanya mengganti biaya pembibitannya. Targetnya , 500 Anak Saeh kelak dapat dibesarkan oleh “Ibu Asuhnya”. Bersamaan dengan itu, kami sepakat berkolaborasi membuat karya berbahan daluang dipadu pewarna alami Indonesia. Tujuannya bukan hanya untuk dipasarkan, tetapi juga untuk membukakan mata publik bahwa daluang dan warlami punya nilai seni dan nilai ekonomi. Karya kolaborasi pertama kami adalah lampu-lampu yang bentuknya mengambil inspirasi dari bunga. Sebagai lampu, ia menyebar cahaya agar kita mampu melihat. Ia berbentuk bunga, perlambang energi Yin, simbol klasik perempuan/Ibu. Demikian Kembang Daluang ini diharapkan menyebarkan pesona, mengundang calon Ibu Saeh untuk jatuh sayang dan melihat daluang sebagai peluang. 100 lampu Kembang Daluang akan dibuat sebagai penanda ajakan (kampanye). Ditujukan kepada kaum perempuan urban yang disasar sebagai calon Ibu Saeh, untuk berpartisipasi: • membesarkan 500 Anak Pohon Saeh (pembudidayaan). • membuat kertas/kain daluang (pelestarian), difasilitasi beberapa pelatihan dasar dan lanjutan hingga siap berproduksi. • mengolah daluang menjadi produk kekinian, membuka peluang bisnis Selain itu, mereka akan dibina menjadi komunitas Ibu Saeh di medsos, untuk saling berbagi cerita dan pengetahuan.

Kategori

kerjasama_kolaborasi

Latar Belakang Proyek

Menyatukan Potensi 3P; Pohon Saeh, Pewarna Alam dan Perempuan. Pohon saeh (paper mulberry) merupakan bahan baku kertas/kain daluang yang pembuatannya dengan cara ditempa/ditumbuk. Daluang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2014 ini ternyata belum cukup dikenal secara luas, pohon saeh belum dibudidayakan. Padahal daluang menyimpan potensi, ia mampu berubah bentuk menjadi beragam produk, sebagaimana layaknya kertas atau kain, selaras dengan konteks kekinian. Produk-produk dengan pewarna alami punya pangsa pasar tersendiri dan laris manis di luar negeri. Masyarakat dunia makin banyak yang tak berpihak lagi pada bahan kimiawi, seiring tumbuhnya kesadaran hidup sehat, peduli lingkungan dan berkembangnya gaya hidup kembali ke alam. Kenapa kita tidak ikut mengambil peluang? Padahal bahan bakunya tumbuh sepanjang tahun di negeri ini. Kita gudangnya! Perempuan urban dan sekitarnya punya akses terhadap berbagai informasi, juga punya pengetahuan, punya uang sendiri dan punya kesempatan sebagaimana kaum lelaki. Tak meragu berkehendak, berkarya dan bertindak atas namanya sendiri. Perempuan urban adalah energi potensial yang siap ikut memutar roda produktivitas bangsa ini. Kami menggenggam keyakinan bahwa di tangan kaum perempuan urban, daluang bisa berkembang dan lestari, dibasuh warna-warni alami, diubah menjadi beragam karya kreatif anak negeri.

Masalah yang Diangkat

Daluang sebagai salah satu warisan leluhur kita, sudah sepantasnya mendapat tempat setara dengan karya-karya yang menjadi identitas budaya bangsa, seperti batik, wayang dsb. yang telah diapresiasi secara luas. Namun kenyataannya, potensi daluang belum tergali. Orang-orang enggan menanamnya karena belum melihat nilai ekonominya. Di sisi lain, orang-orang enggan mengolahnya menjadi produk karena mempertanyakan ketersediaan bahan bakunya. Tradisi pembuatan kertas/kain tempa ini sempat menghilang, dan muncul lagi sekitar tahun 90an. Dari segelintir orang yang peduli menghidupkan tradisi ini kembali, Mufid Sururi, sang Toekang Saeh sudah lebih dari sebelas tahun mempelajari dan memproduksi daluang tanpa memiliki bengkel kerja tetap. Padahal ia butuh ruang yang dapat memberinya keleluasaan untuk mengeksplorasi lebih jauh dan mengalih-generasikan tradisi leluhur ini. Ia tak bisa berjuang sendiri terus. Dibutuhkan tangan-tangan lain yang mau menanam pohon saeh untuk memperbanyak bahan baku. Butuh mengajak banyak orang untuk memproduksinya dan mereka butuh dimudahkan dengan disediakan pelatihan. Upaya eksplorasi butuh dilakukan untuk menciptakan produk berbahan daluang, diujicoba dengan perwarnaan alami. Semua itu butuh dilakukan untuk meyakinkan orang-orang bahwa daluang bisa bertransformasi menjadi karya-karya baru yang mampu memaknai eksistensinya dan lestari dari generasi ke generasi.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

Tercapainya target 500 Ibu Saeh. Terselenggaranya Pelatihan yang diikuti 50% dari jumlah Ibu Saeh sehingga bisa memproduksi kertas/kain daluang, mengolahnya dengan pewarna alami Terciptanya minimal 10 jenis karya atau produk berbahan daluang yang dihasilkan dari pelatihan. (Dipamerkan di akhir periode dalam Gelar Karya Daluang bersama)

Dana Hibah

Rp.863 Juta