Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

866 - Penguatan Karakter Anak Melalui Permainan Tradisional


Nama Inisiator

Arnidah

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

Menjadi peneliti selama 10 tahun

Contoh Karya

Cipta Media.jpg

Situs Web

http://sulseltawwa.esy.es

Media Sosial

https://web.facebook.com/arnidah.kanata?ref=br_rs

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Penguatan Karakter Anak Indonesia Melalui Permainan Tradisional Empat Etnis di Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat (SULSELBAR) dilakukan melalui revitalisasi permainan tradisional, diantaranya; Memperkenalkan kembali kepada anak setiap permainan tradisional melalui kegiatan lomba baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah. Selanjutnya, membangun komunitas di lingkungan masyarakat dan bekerjasama dengan beberapa komunitas yang telah melakukan hal ini untuk turut berkolaborasi dalam kegiatan pelestarian permainan tradisional. Terakhir, memasukkan permainan tradisional pada kurikulum sekolah khusunya muatan lokal, olahraga, dan seni budaya.

Latar Belakang Proyek

Sulselbar terdiri atas empat etnis: Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Keberagaman etnis tersebut menciptakan kekayaaan seni dan budaya yang sangat menarik dan sarat pendidikan karakter. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan keberhasilan masyarakat Sulselbar dari melestarikan seni dan budayanya dalam berbagai macam bentuk karya seni. Hal tersebut tentu menjadi kekayaan dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulselbar, namun permasalahannya sekarang, apakah karakter yang terintegrasi dalam setiap produk seni dan budaya tersebut dapat dilestarikan hingga anak cucu masyarakat Sulselbar di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi? Usia kanak-kanak tidak lagi diisi dengan permainan lokal yang kental penanaman karakter seperti taat asas, kompetisi sportif, berani mengambil resiko, hingga kemampuan bekerja tim. Usia kanak-kanak yang dimaksud di sini adalah rentang usia 7-12 tahun, dimana menurut Piaget anak berada pada tahap operasional kongkrit yang sudah mampu belajar melalui sesuatu yang tematik sesuai dengan pengalamannya sehari-hari. Keseharian anak yang dipenuhi dengan tayangan media dan games on-line tidak lagi membentuk karakter sosial yang banyak diperoleh melalui permainan lokal, bahkan sebaliknya mereka akan lebih bersifat individual dan tidak siap menerima resiko-resiko hidup bermasyarakat.

Masalah yang Diangkat

1. Tingginya akses permainan berbasis elektronik pada anak menyebabkan rendahnya keterampilan sosial anak seperti kemampuan bekerja sama, saling tolong-menolong, taat asas, sportivitas, dan saling menghargai. 2. Permainan tradisional Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan dan Barat mengandung nilai-nilai karakter dan kebudayaan, namun sudah mulai ditinggalkan karena perkembangan teknologi yang begitu pesat dan peran orang tua serta guru yang kurang mempernalkan permainan tradisional pada anak. 3. Pentingnya peran sekolah dalam melestarikan budaya sebagai potensi daerah melalui kurikulum muatan lokal.

Indikator Sukses

1. Mengadakan peralatan permainan tradisional empat etnis untuk digunakan di lingkungan masyarakat dan sekolah. 2. Model penerapan permainan tradisional pada kurikulum sekolah. 3. Anak mampu menggunakan setiap peralatan permainan dan memahami teknik, aturan, serta pesan yang terkandung pada setiap permainan. 4. Perubahan perilaku anak dalam bermain yang sebelumnya menggunakan permainan berbasis elektronik ke permainan tradisional. 5. Dukungan semua stakeholders, dari unsur sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam melestarikan permainan tradisional.

Lokasi

Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

Dana yang Dibutuhkan

Rp.275 Juta

Durasi Proyek

9 bulan