Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

859 - Nak Luh


Nama Inisiator

Nyoman Lia Susanthi

Bidang Seni

audiovisual

Pengalaman

Penciptaan film dokuemnter berjudul: (1) Journalistic Works: Blood Moon Tetrad, (2) The Golden Story of ISI, (3) Makna Filosofi Tari Siwa Nataraja, (4) Lukisan Barong Gunarsa

Contoh Karya

Gunarsa.avi

Situs Web

http://blog.isi-dps.ac.id/liasusanthi/

Media Sosial

-

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Film dokumenter ini adalah cerita tentang perjuangan para wanita Bali dalam berkesenian ngewayang. Meraka adalah dalang luh (wanita) Ni Nyoman Candri dan pemain gender wayang luh (wanita) Ni Ketut Suryatini. Mereka memiliki latar yang berbeda namun keduanya sama-sama mengejar impiannya. Meraka berhasil mendobrak cibiran orang-orang yang menganggap wanita tidak mampu, wanita tidak boleh berkesenian. Mereka bangkit dan tetap menjadi dirinya sendiri hingga berhasil membuktikan kemampuannya dan meraih mimpi yang sangat menginspirasi. Dampaknya kini dinikmati generasi muda Bali khususnya wanita yang dapat berkesenian sejajar dengan laki-laki. Kisah perjuangan mereka dalam berkesenian tidak pernah ada yang mengabadikan lewat film dokumenter. Sehingga pencipta tertarik mendokumentasikan bagaimana dahulu mereka memperjuangkan emansipasi wanita dalam berkesenian. Film ini mampu menjadi memori perjuangan mereka yang tidak hanya untuk dikenang, tapi juga menginspirasi generasi penerus.

Latar Belakang Proyek

Di Bali dahulu sangat tabu bagi wanita sebagai dalang dan pemain gender wayang. Gender adalah alat musik yang mengiringi pertunjukkan wayang di Bali. Mendalang dan megender (bermain gender) dulu hanya boleh dibawakan oleh laki-laki. Perempuan dibatasi karena pementasan wayang di Bali digunakan untuk sarana upacara. Alat-alat yang digunakan untuk mendalang dan bermain gender sangat disakralkan lewat upacara. Sehingga perempuan yang secara normal dalam sebulan mengalami menstruasi tidak diperkenankan untuk mendalang dan megender. Hal tersebut melekat sampai menjadi streotip bahwa perempuan tidak boleh mendalang dan megender. Padahal perempuan mengalami periode tersebut dari sebulan hanya 5 hari, namun mereka secara penuh tidak diperbolehkan. Dibalik penghalang besar tersebut, terdapat dua seniman wanita Bali yang pada eranya mampu mendobrak paham tersebut. Mereka adalah dalang wanita Ni Nyoman Candri dan pemain gender wanita Ni Ketut Suryatini, yang belajar menjadi dalang dan pemain gender. Perjuangan mereka untuk bisa sejajar dengan laki-laki inilah menarik penciptan untuk membuat film dokumenter tentang kisah emansipasi mereka dalam berkesenian. Mereka sadar bahwa wanita memiliki periode yang tidak boleh memainkan wayang dan gender yaitu saat menturasi. Namun selain periode tersebut, mereka dapat belajar sebagai dalang dan pemain gender, hingga mereka berhasil sebagai dalang wanita dan pemain gender wanita terbaik.

Masalah yang Diangkat

Hibah ini diajukan dalam bentuk film dokumenter untuk dapat merekam memori para pejuang emansipasi dalam bidang kesenian Bali. Kisah perjuangan para wanita dalam memperjuangkan emansipasi wanita dalam berkesenian tidak pernah ada yang mendokumentasikan dalam bentuk video. Padahal hasil dari perjuangan mereka adalah telah lahirnya banyak sekali seniman wanita di bali khususnya sebagai dalang wanita dan pemain gender wanita. Bahkan hasil perjuangan mereka kini sudah dinikmati sejak anak-anak, bahwa anak perempuan boleh mendalang dan bermain gender sejak dini. Dengan mendokumentasikan kisah mereka melalui film dokumenter, maka berdampak pada penyebaran informasi perjuangan salah satu wanita Bali dalam berkesenian khususnya mendalang dan bermain gender. Untuk itu judul dari film ini adalah “Nak Luh” yang diambil dari bahasa Bali. “Nak” singkatan dari kata “Panak” yang artinya anak. “Luh” artinya perempuan. Judul tersebut mengandung dua makna jika dibaca dengan intonasi berbeda. Apabila dibaca dengan intonasi “tanya” maka berarti cibiran, namun jika dibaca dengan intonasi “seru” akan berarti kekaguman. Film ini ingin mengantarkan bagaimana “Nak Luh” (anak perempuan) yang awalnya dicibir dalam berkesenian kini dikagumi.

Indikator Sukses

Film ini akan rencananya akan diputar di seluruh Bali. Setiap kabupaten dan kota di Bali ditargetkan dihadiri minimal 50 penonton, sehingga total penonton pada 8 kabupaten dan kota di Bali adalah minimal 400 penonton. Maka apabila target penonton tersebut terpenuhi maka target penyebaran informasi tentang emansipasi wanita dalam berkesenian di Bali lewat film dapat terpenuhi.

Lokasi

Bali

Dana yang Dibutuhkan

Rp.150 Juta

Durasi Proyek

9 bulan