Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

743 - Merawat Eksistensi Kue Cangkiang


Nama Inisiator

NAFSIKA ERIANDINI

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

7 tahun

Contoh Karya

CV dan Karya Nafsika Eriandini.pdf

Situs Web

Media Sosial

instagram : andininafsika

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan riset terkait isu perempuan dan pangan pada keberadaan produksi Kue Cangkiang sebagai tradisi yang diwarisi turun temurun di Kenagarian Cangkiang, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, melalui pencatatan tradisi lisan dan dokumentasi sejarah, proses, dan eksistensi Kue Cangkiang. Proyek ini akan melibatkan 5 partisipan perempuan generasi masa kini dan ibu-ibu rumah tangga yang masih aktif memproduksi Kue Cangking sebagai usaha rumahan, selaku narasumber. Partisipan merupakan individu dari beragam disiplin ilmu, kreativitas, dan latarbelakang pendidikan, serta memiliki ketertarikan terhadap isu perempuan dan pekerjaan sosial serta kebudayaan lokal. Aktivitas atau kegiatan yang akan dilakukan adalah : (1) Observasi ; melakukan pengamatan langsung ke prosuden Kue Cangkiang di Kenagarian Cangkiang, yakni ibu-ibu rumah tangga yang masih memproduksi Kue Cangkiang sebagai usaha rumahan atau ketahanan pangan dan keberlanjutan regenerasi Kue Cangkiang. (2) Wawancara ; proses wawancara dilakukan kepada generasi pembuat Kue Cangkiang yang masih berproduksi, tokoh adat Kenagarian Cangkiang, dan beberapa ahli dari golongan akademisi. (3) Proses pencatatan dan menyusun dokumentasi yang telah didapatkan. (4) Peluncuran dan Bedah hasil pencatatan tradisi lisan (dalam hal ini eksistensi kue cangkiang) baik dalam bentuk buku ataupun video.

Latar Belakang Proyek

Kue Cangkiang adalah sebuah usaha rumahan yang memproduksi berbagai olahan makanan ringan serupa kerupuk yang menjadi ciri khas dari sebuah desa/nagari bernama Nagari Cangkiang. Kue Cangkiang memproduksi sekitar 10 macam jenis kue kering/kerupuk baik dari bahan beras maupun ketan/pulut, seperti kue jari, kue roti kariang, kue dorong,kue pulut panggang, dan kue arai pinang. Beberapa diantaranya tidak diproduksi lagi. Kerja produksi Kue Cangkiang dilakukan secara turun temurun oleh perempuan di Nagari Cangkiang,diperkirakan sudah diproduksi antara tahun 1850-1870. Hal ini memungkinkan terjadinya pertemuan sejumlah perempuan untuk memasak bersama entah untuk mewujudkan sebuah tradisi lisan entah untuk tujuan ekonomis keluarga. Proses ini juga memungkinkan terjadinya penyebaran informasi secara lisan baik informasi mengenai resep maupun kaitannya dengan adat istiadat di Kenagarian Cangkiang. Menarik mengangkat persoalan ini karena menyadari informasi mengenai ketahanan pangan dan peran perempuan dalam tradisi lisan Minangkabau belum diekspos secara baik dan akurat. Terlebih lagi Kenagarian Cangkiang menjadi nagari/desa yang pada masa jayanya merupakan pusat produksi Kue Cangkiang yang sangat terkenal, tetapi hampir tidak terdengar gaungnya pada masa kini.

Masalah yang Diangkat

Minimnya pencatatan tradisi lisan dalam budaya Minangkabau mendorong timbulnya berbagai pertanyaan mengenai proses, regenerasi, dan peran perempuan dalam memajukan ekonomi atau mempertahankan tradisi yang telah ada dari generasi sebelumnya. Sejumlah perempuan di genarasi saya, tidak mendapatkan banyak informasi mengenai tradisi atau kebiasaan tersebut. Hal ini tentu berkaitan dengan perkembangan zaman, perubahan pola pikir, dan arus pasar yang semakin beragam. Perkembangan ini tentu berdampak pada terputus/tidaknya generasi yang mewarisi resep Kue Cangkiang yang menjadi pusat riset peneliti, berkurangnya ketahanan pangan yang dibuat oleh perempuan di Kenagarian Cangkiang, serta menurunya permintaan pasar terhadap produksi kue cangkiang sehingga menghilang dari peredaran. Dalam hal ini peneliti tertarik untuk mengetahui adakah keterkaitan Kue Cangkiang dengan : (1) status Kue Cangkiang dalam tradisi lisan kebudayaan minangkabau, (2) peran perempuan dan kemapanan pangan di Kenagarian Cangkiang, (3) bagaimana regenerasi Kue Cangkiang di masyarakat khususnya perempuan Kenagarian Cangkiang pada masa kini. Penelitian ini diniatkan untuk merawat tradisi dengan pencatatan tradisi lisan minangkabau perihal sejarah, proses, dan eksistensi Kue Cangkiang di Kenagarian Cangkiang dalam bentuk tulisan atau video.

Indikator Sukses

(1) Terdapat tulisan yang merekam secara akurat mengenai sejarah, proses pembuatan, dan regenerasi Kue Cangkiang. (2) Terdapat video-video yang meliput perempuan-perempuan yang masih memproduksi Kue Cangkiang. (3) Terdokumentasikannya pengetahuan terkait sejarah, tradisi, dan proses pembuatan yang akan bermanfaat untuk ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Lokasi

Nagari Cangkiang, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam

Dana yang Dibutuhkan

Rp.90 Juta

Durasi Proyek

6 bulan