Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

732 - Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp (SKDC) 2018


Nama Inisiator

Keni Kurniasari

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

16 tahun

Contoh Karya

SDC16_poster.png

Situs Web

www.nuartsculpturepark.com

Media Sosial

instagram @sasikirana.dc @nuartpark @bubbukeni

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp (SKDC) adalah sebuah platform yang membuka kesempatan bagi seniman tari muda di Indonesia dan negara-negara sekitarnya untuk saling berjejaring, dengan tujuan untuk berkontribusi pada perkembangan infrastruktur seni pertunjukan di Indonesia. Sejak tahun 2015, setiap tahunnya kegiatan ini diadakan selama 7-10hari berbentuk workshop intensif bagi setidaknya 25 pegiat tari untuk meningkatkan skill, memperkaya kemampuan konseptual , membuka jaringan, dan memperoleh bimbingan berkelanjutan dari para mentor yang sudah lebih berpengalaman di dunia seni tari nasional maupun internasional. Setelah menjaring hampir 100 seniman tari muda, tahun 2018 SKDC bermaksud mengajak kembali para alumni untuk berkumpul dan melakukan ulasan atas perkembangan mereka selama tiga tahun terakhir atau sejak keterlibatannya dalam SKDC. Hal ini menjadi penting karena potensi yang muncul tidak hanya berhubungan langsung dengan kepenarian, namun juga dalam bidang manajerial, penulisan, dan produksi, yang merupakan unsur-unsur krusial yang perlu dikembangkan dalam membangun infrastruktur seni yang kuat. SKDC yakin betul bahwa seni tari tidak hanya bicara soal tubuh secara artistik, tapi juga mampu merepresentasikan kekayaan budaya sekaligus bereaksi terhadap problema sosial-budaya, politik, dan lingkungan yang berkembang di sekitar kita. Tujuan utama SKDC adalah membantu para pegiat seni tari muda untuk bertanggung jawab dalam merepresentasikan tubuhnya sebagai media ekspresi.

Latar Belakang Proyek

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya, dan salah satu representasinya yang banyak diangkat di panggung internasional adalah seni tari. Namun, seringkali tari-tarian ini dipertunjukkan hanya sebagai promosi wisata, yang eksistensi pelakunya pun masih dipandang sebelah mata terutama perempuan. Padahal, pelaku seni tari di negara ini sangatlah banyak, ribuan jumlahnya, tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Betapa kaya bangsa ini, jika setiap tubuh itu dapat berbicara lantang mengekspresikan dirinya, bereaksi terhadap kondisi sosial, budaya dan lingkungan, menyuarakan titik-titik kesadarannya sebagai seorang individu. Sayangnya, insitusi pendidikan dan infrastruktur seni tari di negara ini masih termasuk lemah dan desentralisasi yang tidak berjalan mulus menyebabkan potensi yang muncul masih terpusat di Pulau Jawa. Maka, perlu diadakan sebuah kegiatan yang secara rutin membuka seleksi kesempatan bagi para pegiat seni tari, khususnya seniman muda potensial secara adil dan non-hirarkis, untuk dapat masuk ke dalam radar medan sosial seni di Indonesia. Kegiatan ini menjadi penting sebagai jaringan yang memetakan potensi yang selama ini tidak termunculkan melalui institusi-institusi konvensional yang tidak berkelanjutan. Kegiatan ini pun perlu memiliki daya tahan untuk terus berlangsung secara rutin, menjaga rantai jaringan untuk terus berkembang dan mampu merekam jejak kemajuan setiap individu yang masuk ke dalam pemetaan ini.

Masalah yang Diangkat

Kuasa politis terhadap tubuh seorang penari begitu kental di Indonesia, terutama berkaitan dengan sistem tradisi, politik, dan pendidikan yang hegemonis, yang menjadikan ekspresi tubuh begitu sulit diejawantahkan oleh para penari kontemporer di negara ini. Padahal, tubuh -sebagai modal utama penari, sangat kaya akan kompleksitas gerak, rekam jejak sejarah, dan potret kondisi sosial-budaya masyarakat yang seharusnya memiliki kebebasan untuk berekspresi. Ditambah lagi, infrastruktur seni pertunjukan di Indonesia saat ini masih memberikan sedikit sekali kesempatan bagi para seniman tari muda untuk dapat menentukan langkahnya dalam mengembangkan diri dan karir di bidang seni tari, khususnya tari kontemporer. Oleh sebab itu, SKDC berusaha hadir untuk menggali potensi yang tersebar di seluruh Nusantara-dari ujung Barat hingga Timur Indonesia, membuka dialog tubuh dan konstruksi konseptual dalam kerangka pluralisme sambil mengajak para seniman tari muda untuk membuka wawasan seluas-luasnya. Menyadari bahwa seni pertunjukan tidak hanya bicara soal panggung, kemampuan manajerial, penulisan dan produksi juga sangat perlu dikembangkan untuk memberikan fondasi kuat bagi terjadinya regenerasi pelaku seni yang berkelanjutan. Persoalan regenerasi merupakan hal yang sangat krusial untuk diperhatikan untuk menghindari terjadinya monopoli 'kekuasaan' dari individu/kelompok individu dalam penyelenggaraan suatu kegiatan yang berkelanjutan. Dengan bimbingan dari para pelaku tari senior, keberlanjutan ini harus dapat dijalankan.

Indikator Sukses

Keberhasilan proyek ini terbagi menjadi tiga jenjang: - Jangka Pendek: Terjalinnya pemetaan jaringan dan peningkatan skill sehubungan dengan potensi masing-masing peserta pada saat kegiatan berlangsung (kepenarian/koreografi/produksi/manajerial/penulisan), dengan perbandingan gender yang merata - Jangka Menengah: Munculnya dampak dan manfaat dari jaringan yang terbentuk oleh kegiatan SKDC bagi perkembangan setiap individu maupun yang terjadi antarindividu peserta SKDC, dan munculnya lebih banyak bibit koreografer perempuan yang saat ini masih langka di Indonesia - Jangka Panjang: Terjadinya regenerasi sesuai potensinya masing-masing, dan munculnya dampak yg signifikan pada perkembangan para peserta SKDC di dunia seni tari/pertunjukan di Indonesia

Lokasi

Jawa Barat

Dana yang Dibutuhkan

Rp.362 Juta

Durasi Proyek

5 bulan