Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

727 - Suara Sinden "Ginonjing"


Nama Inisiator

Nur Handayani

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

13 tahun

Contoh Karya

Screenshot_2018-03-21-11-45-55-18.png

Situs Web

https://youtu.be/fJx7J3UwgOs

Media Sosial

Instagram @nurlovesetya

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Suara Sinden "Ginonjing" merupakan sebuah orkestra sindhenan yang dilakukan oleh para perempuan. Sindhenan adalah vokal tunggal puteri yang dilantunkan oleh pesindhen. Sementara pesindhen adalah solois puteri dalam karawitan Jawa. Orkestra sindhenan, sejauh pengamatan saya belum pernah dilakukan di manapun. Idealnya sindhenan dilakukan secara solo, seperti yang biasa dilakukan oleh para pesindhen umumnya. Saya berpikir jika sindhenan dilakukan secara orkestra memiliki estetika bunyi yang khas. Jika orkestra pada umumnya suara terbagi menjadi sopran, alto, tenor dan bass, orkestra sindhenan tidak akan menggunakan pembagian suara tersebut. Melihat sindhenan adalah bagian dari seni karawitan,pembagian suara yang akan digunakan adalah suara yang ada di dunia karawitan. Lebih lanjut teknik ini berusaha menemukan celah-celah nada yang kemudian dipadukan sehingga menimbulkan estetika nada yang khas. Kekhasan itulah yang nanti menjadi temuan. Dan tidak menutup kemungkinan terdapat garapan lain dalam perjalanannya nanti.

Latar Belakang Proyek

Proyek ini berangkat dari kegelisahan saya sebagai seorang pesinden dan juga rekan-rekan pesinden lain yang mana sering kali kami bertukar kisah dan kegelisahan, dan juga perempuan-perempuan lain yang mungkin merasakan kegelisahan yang hampir sama. Berangkat dari pengalaman personal saya, dan kebetulan saya tengah melanjutkan studi S2 dalam bidang Penciptaan Seni musik. Maka Ladrang Ginonjing merupakan karya akhir saya untuk memenuhi pendidikan S2. Namun, saya pun menginginkan karya ini bisa diakses oleh publik secara lebih luas lagi karena itu saya mengagendakan keliling tur tiga kota.

Masalah yang Diangkat

Budaya Jawa merupakan budaya patriarki dimana perempuan menjadi obyek. Ini pun berlaku di dunia kesenian dan seni pertunjukan. Di dalam pertunjukan wayang kulit, seringkali Dalang menjadikan sinden sebagai obyek seksual secara verbal dalam bentuk guyunan. Hal ini menyebabkan pesinden juga memiliki stigma negatif di luar pentas. Rumor-rumor negatif itu seolah menjadi kebenaran yang nyata, padahal pesinden itu merupakan daya tarik utama di dunia karawitan jika berada di panggung. Steorotip terhadap pesinden sebagai perempuan murahan, merupakan salah satu dari kegelisahan saya dan para pesinden lainnya.Atas dasar itulah, saya ingin merubah stigma tentang perempuan Jawa khususnya yang bergelut di dunia kesenian terutama pesinden. Bahwa kami merupakan perempuan yang memiliki talenta dan kemampuan, dan keberadaan kami memegang peran penting dalam sebuah pertunjukan.

Indikator Sukses

Indikator sukses jika karya saya bisa diakses masyarakat umum, pemangku kebijakan, aktivis perempuan, penggiat seni, Jurnalis, akademisi bisa diapresiasi oleh berbagai kalangan dan kelas sosial di masyarakat. Lalu terjadi diskusi dimana para penonton bisa berbagi kesan dan komentar, hal ini bisa menjadi ukuran apakah visi karya saya bisa tersampaikan dengan baik ataupun ada pembacaan lain. Jurnalis memuatnya dalam rubrik ulasan pertunjukan, sedangkan mahasiswa membuat karya ini sebagai kajian feminis ataupun seni pertunjukan.

Lokasi

Jawa Tengah

Dana yang Dibutuhkan

Rp.396 Juta

Durasi Proyek

7 bulan