Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

697 - Pasar Tiban "Sambang Sedulur Desa lan Kutha"


Nama Inisiator

Ainun Murwani

Bidang Seni

lainnya

Pengalaman

Sedekah kali, Kelompok Tabungan perempuan, festival Ngundang gamelan

Contoh Karya

VID-20180320-WA0032.mp4

Situs Web

Media Sosial

Facebook Ainun Murwani

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Menyelengarakan Pasar Tiban seni pertunjukan ibu-ibu desa-kota dan produk ibu-ibu desa-kota, setiap selapan (35 hari) selama 4 bulan berturut-turut, di Lapangan Sewandanan, Puro Pakualaman, Yogyakarta yang akan diorganisir oleh ibu-ibu Paguyuban ibu ibu bantaran Kali Gajah Wong Winongo, Yogyakarta dan ibu-ibu desa Kebonharjo, Kulon Progo. Pasar Tiban dipilih sebagai strategi untuk menggarisbawahi ide kebudayaan tentang pasar, di mana perempuan memainkan peran utama, dan terjadi kekayaaan transaksi—bukan hanya sebagai transaksi ekonomi, melainkan juga transaksi kebudayaan. Pasar tiban ini akan menjadi media bagi pertemuan dan perbincangan ibu-ibu dari desa dan kota, penjualan produk pertanian perkebunan , kerajinan desa, dan produk pariwisata desa dan kampung kota, sekaligus menjadi ajang pengorganisasian dan pementasan seni pertunjukan ibu-ibu desa-kota.

Latar Belakang Proyek

Saya punya pengalaman bekerja bersama Paguyuban Kalijawi yang saya dan ibu-ibu bantaran kali Gajahwong-Winongo, Yogyakarta, dirikan, pada 2012, sebagai inisiasi menyelesaikan persoalan permukiman (status-lahan, sosial-kemasyarakatan, sanitasi, dan ekonomi). Saat ini mempunyai 259 anggota, berkegiatan di lebih dari 100 RT di DIY. Programnya adalah penataan kampung dan menabung. “Penataan” dalam program Kalijawi bukan sekedar penataan fisik permukiman melainkan juga manusianya. Salah satunya belanja bersama secara langsung dari produsennya di desa, tujuannya meningkatkan kemandirian dana, manajemen keuangan, dan memutus ketergantungan pada pihak luar. Melalui kegiatan ini saya akan mengajak Kalijawi membangun jaringan yang kuat dengan ibu-ibu Kebonharjo yang kami temui dalam mencari produsen untuk belanja bersama. Potensi besar ibu-ibu Kebonharjo, akan saya kolaborasikan dengan Kalijawi, sebagai strategi memperkuat komunitas dan menyebarluaskan nilai-nilai Kalijawi. Kalijawi mempunyai perayaan kebudayaan tahunan Sedekah Kali sebagai sarana mengeksplorasi kekayaan kampung dan mengajak berorganisasi menyelenggarakan kegiatan kebudayaan. Idenya, ibu-ibu menjadi penggerak, dalam menghubungkan kegiatan kebudayaan di kampung pinggir sungai. Saya juga menginisiasi kegiatan bersama ibu-ibu Kebonharjo, yaitu perayaan Ngundang Gamelan sebagai strategi menggali, merevitalisasi, dan memperkenalkan kebudayaan desa. Saya menganggap proyek ini merupakan hulu pertemuan ibu-ibu desa-kota, yang memperkuat posisi perempuan dalam ekonomi dan kebudayaan desa-kota.

Masalah yang Diangkat

Peran perempuan dalam pembangunan kemandirian ekonomi komunitas selama ini masih dikesampingkan. Perempuan tidak wajib, dianggap tidak mampu, dan bahkan dilarang berpartisipasi dalam kehidupan di luar rumah (menurut UU Perkawinan 1974 kewajiban perempuan, jika dia menikah dan berumaht¬angga, adalah “mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya”, sementara kewajiban laki-laki adalah “memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”). Ruang berkarya dengan demikian juga menjadi terbatas. Menurut pengalaman kami di kampung dan di desa, pasar merupakan ruang dimana perempuan bisa memainkan peran penting, bukan hanya dalam kegiatan ekonomi, tetapi juga kebudayaan. Perempuan tidak pernah punya masalah dengan komunitasnya manakala mereka beraktivitas di pasar, baik sebagai pedagang maupun pembeli; perempuan juga lah yang menggerakkan pasar. Potensi pasar sebagai ruang pemberdayaan perempuan adalah suatu celah strategis yang belum banyak diekplorasi. Pada saat bersamaan, ruang pasar juga punya potensi besar dalam melemahkan kekuatan perempuan (misalnya: ekpolitasi perempuan sebagai semata-mata konsumen). Bahaya pasar ini juga mesti disiasati sebaik-baiknya.

Indikator Sukses

1. Pasar Tiban bisa berlangsung secara rutin, berkelanjutan dan mandiri. 2. Jaringan ibu-ibu desa-kota semakin kuat dan luas, berkembang di luar Kalijawi dan Kebonharjo. 3. Kepengurusan dan pengorganisasian Pasar Tiban dikelola oleh perempuan, dan perempuan semakin punya peran dalam kemandirian ekonomi dan perorganisasian kebudayaan—bukan hanya pelengkap dan penghibur. 4. Perempuan semakin punya peran dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan dana kemandirian kelompok.

Lokasi

Lapangan Sewandanan, Puro Pakualaman, Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.191.2 Juta

Durasi Proyek

4 bulan