Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

683 - Politik Tubuh dan Kekuasaan dalam Tiga Tari


Nama Inisiator

Desiana Rizka Fimmastuti

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

5 tahun

Contoh Karya

Desiana Perform With UKM Swagayugam.flv

Situs Web

-

Media Sosial

https://www.instagram.com/desianarizkaf/

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan proyek awalan (pilot project) yang bertujuan menghimpun, melacak sekaligus mengkaji konteks penciptaan seni tari di Indonesia. Seni tari seringkali diasumsikan sebagai “wilayah” yang netral, apolitis, dan usang. Namun dibalik citra tersebut, terdapat konteks historis dan makna di dalamnya. Kajian awal yang dilakukan tim menemukan bahwa di masa kolonial pertunjukan seni merupakan bagian dari pertama latihan perang (body politics), kedua politik diplomasi (soft power), ketiga merepresentasikan dan menggambarkan cairnya konsep gender di masyarakat kala itu melawan konsep binary gender dari Belanda. Tim memilih Tari Srimpi Sangupati (Surakarta), Beksan Lawung Ageng (DIY) dan Lengger Lanang (Banyumas) yang menggambarkan ketiga temuan tersebut. Tim akan melakukan serangkaian kegiatan penelitian menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara, dan studi dokumen yang berasal dari artikel, berita, jurnal, dan buku yang terkait dengan tema. Tim akan mewawancarai penggiat dan pemerhati kesenian, kerabat Kraton Yogyakarta dan Surakarta, para pegiat seni tari yang berasal dari ketiga wilayah, serta akademisi dari Institut Seni Indonesia. Kumpulan data tersebut akan didokumentasikan, dikodifikasi, dianalisa, diolah dan dipublikasikan dalam bentuk buku, jurnal dan tulisan populer. Selain dalam bentuk tulisan, tim akan mendiseminasikan hasil dalam bentuk dialog dengan khalayak luas sebagai upaya memperluas kesadaran akan pentingnya pendokumentasian pengetahuan lokal serta melestarikan budaya Indonesia.

Latar Belakang Proyek

Kajian tentang tari dan politik tidak banyak dielaborasi baik oleh pemerhati seni maupun peneliti-peneliti di Indonesia. Padahal dalam kesenian pengetahuan-pengetahuan lokal Indonesia terangkum dan terdokumentasikan. Tari lebih banyak dipinggirkan dengan pemaknaan budaya dan estetika semata. Tarian Klasik yang sering saya tampilkan di berbagai pertunjukan biasa dijadikan sarana untuk mempromosikan budaya Yogyakarta. Sinopsis tari sering dibacakan sebagai pengantar pertunjukkan seni tari, namun tidak mengelaborasi makna, sejarah, hingga konteks penciptaan suatu tarian. Kegelisahan ini bersambut manakala diskusi informal bersama rekan-rekan peneliti. Berawal dari ini, kami memulai kajian awal sederhana mengenai Tari Srimpi Sangupati (Surakarta), Beksan Lawung Ageng (DIY), dan Lengger Lanang (Banyumas). Penelitian ini dilaksanakan dengan sebagai bentuk kerja kolaborasi dengan tiga peneliti perempuan yang memiliki ketertarikan pada isu yang sama, yakni gender, politik dan pengetahuan lokal. Kami memiliki ketertarikan untuk menggali dan merangkum pengetahuan lokal dengan mengelaborasi konteks lahirnya tari, pertunjukkan, dan menggali makna tari tersebut. Upaya merangkum dan mendokumentasikan pengetahuan lokal tersebut kami dibantu tiga teori yaitu body politics (Harcourt, 2009), soft power (Nye, 2004) dan coloniality of gender (Lugones, 2008).

Masalah yang Diangkat

1. Upaya pelestarian dan pengembangan seni dan budaya dilakukan dari tahun ke tahun dalam kerangka pengembangan sektor pariwisata untuk menarik wisatawan seni dan budaya. Akibatnya, pemahaman seni tari sebagai “hiasan” pariwisata semakin menguat. 2. Kajian dokumen tim tentang seni tari menemukan bahwa kajian pustaka seni tari mayoritas membahas mengenai makna, sejarah singkat dan bentuk pertunjukan semata. Kajian dokumen kurang membahas seni tari dalam konteks politik, sekaligus sebagai dokumentasi “bergerak” pengetahuan lokal. 3. Kajian dokumen tim menemukan bahwa seni tari memiliki kolaborasi “rasa” yaitu seni, keindahan, politik, dan perlawanan. 4. Tari Srimpi Sangupati dari Surakarta diciptakan sebagai strategi pertahanan ketika Belanda melakukan serangan secara mendadak. Sementara tari Beksan Lawung Ageng dari Yogyakarta diciptakan sebagai bagian dari latihan perang. Di masa penjajahan, latihan perang menjadi aktivitas yang dilarang. 5. Tari Lengger Lanang dari Banyumas menjadi bukti bahwa gender di Banyumas bersifat cair dan tidak mengikuti konsep gender yang binari (lelaki dan perempuan). 6. Penelitian ini akan melakukan pendokumentasian pengetahuan lokal melalui seni tari. Peneliti mempercayai bahwa penciptaan tarian berkorelasi dengan konteks pengetahuan pada masa itu. 7. Dokumentasi-dokumentasi pengetahuan lokal perlu ditingkatkan untuk memperkuat identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang bhinneka dan untuk menjawab pertanyaan besar tentang “Apakah itu Indonesia”.

Indikator Sukses

Kesuksesan proyek ini dapat dilihat dari beberapa output proyek penelitian ini, yakni (1) peta kajian tentang tari sebagai pengetahuan lokal, (2) rekam penggetahuan penggiat-penggiat dan pemerhati seni yang didapatkan melalui kajian dokumen dan wawancara (3) dokumentasi berupa dokumentasi foto dan video tari, (4) dokumen naratif dalam bentuk buku, jurnal dan tulisan populer dan (5) diseminasi dan dialog dengan penggiat seni, pemerhati seni, seniman, akademisi, dan masyarakat luas.

Lokasi

Kota Surakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Banyumas

Dana yang Dibutuhkan

Rp.300 Juta

Durasi Proyek

8 bulan