Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pemohon Hibah

Budy Utamy


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

sastra

Pengalaman Berkarya

17 tahun

Situs Web

Media Sosial

FB : Budy Utamy. Album : Tentang Perempuan, Babak, Poetic Photography

Proyek


No. Formulir

635

Judul Proyek

Sultan Alam ; The Forgotten Prince of Siak

Lokasi Proyek

Riau

Deskripsi Proyek

Saya ingin menuliskan tentang Sultan Alam dan keturunannya, yang merupakan Raja di Kerajaan Siak Sri Indrapura dan sekaligus pemilik dari tanah Pekanbaru yang kini menjadi Ibukota Propinsi Riau, dimana saya lahir dan menetap. Namun meskipun makam Sultan Alam masih bisa ditemui di kota ini, namun keberadaan beliau seperti tidak diakui. Mulai dari peghapusan keturunannya dari pohon silsilah yang resmi di Istana Siak, hingga tidak adanya budayawan maupun penulis lokal yang mau menuliskan tentang sejarah Beliau dan keturunannya. Beliau justru dituliskan oleh peneliti luar seperti G.L Koster ( Belanda ) atau Timothy P Barnard ( kini di Singapura). Membicarakan beliau seperti membicarakan hal yang tabu, dianggap aib. Buku ini tidak akan hadir dalam bentuk tekstual saja, namun tuturan sejarah juga akan hadir dalam bentuk puisi-puisi di beberapa peristiwa yang sarat rasa, sarat makna. Peristiwa yang sanggup menyeduh haru pada mata dan ngilu di dada saya, anak jati Melayu. Buku ini juga menghadirkan foto-foto yang tidak hanya bersifat dokumentasi, namun juga foto konsep yang saya yakin akan menjadi penghubung antara kisah ini dengan pembaca. Sebagai penghantar yang visual sifatnya. Dalam menuliskan ini saya dibantu oleh seorang kawan yaitu Bayu Amde Winata.

Kategori

perjalanan

Latar Belakang Proyek

Membaca tuturan sejarah Kerajaan Siak dan segala konflik, intrik didalamnya seperti menampung kucuran luka demi luka di tanah Riau ini. Pertikaian dua saudara laki-laki berbeda emak yaitu Sultan Alam dan Sultan Mahmud menjadi benih sejarah panjang kerajaan siak, pun berkait pagut dengan kesultanan Johor, Musi Rawas dan terakhir Kerajaan Brunei Darussalam. Namun timpang rasanya melihat dalam trombo ( pohon silsilah) yang resmi dipajang di Istana Siak hingga kini, zuriat beliau kosong. Putus. Diputuskan. Ia seperti terselubung dalam tirai yang menunggu untuk dijenguk, dan siap membentang sebagai ladang pembacaan nilai-nilai kehidupan. Sejarah tak melulu soal kemenangan dan kekalahan, ada buah-buah yang lebih ranum yang mampu dipetik menjadi bekal hidup anak keturunan, pun pembaca luas. Akibat timpang cucuran curaian sejarah, saya mencoba mengumpulkan sekeping demi sekeping sejarah sejak 2015. Sedikit tak lengkap masih. Tapi bukan kah sejarah adalah hutan peladangan yang menyimpan benih-benih, dan pada gulita sekalipun jika sampai masanya benih-benih itu akan mewujud pada yang mencari. Pun sejarah adalah samudera yang disetiap gradasi warnanya menyimpan rahasia, dan pada waktu yang tepat akan muncul dari kedalaman yang gelap, menghampiri permukaan akal dan minda bagi siapa yang menantinya. Sejarah adalah ruang, yang berkembang. Dan saat ini menunggu. Kita.

Masalah yang Diangkat

Meskipun dalam diskusi-diskusi dengan Dato Al Azhar selaku budayawan, beliau mengingatkan kemungkinan adanya riak penolakan terhadap buku ini terutama dari Puak Siak yang seperti lebih pro ke Klan Sultan Mahmud, namun saya siap untuk menanggungnya. Jauh di dikedalaman rasa, ada pengharapan-pengharapan yang kami sematkan dalam niat menuliskan buku Sultan Alam ini. Tidak hanya sebagai pembelajaran bagi generasi muda dan tua yang kami percaya banyak yang tidak mengetahui tentang Sultan Alam dan tentang sejarah tanah yang mereka pijak ini, tapi juga agar ada upaya untuk melihat sejarah sebagai suatu fakta. Pernah eksis , dan bahkan masih eksis. Dan sepahit apapun, jikapun dianggap sebagai suatu aib, sejarah tetap menjadi lumbung tunjuk-ajar yang dalam. Tinggal kita gali, resapi, mengerti, gali lagi dan lagi. Lebih intim lagi, buku ini saya harap mampu menjadi awal bermulanya buku-buku tentang Sultan Alam lainnya, sehingga menyebarkan sedikit rasa aman dan nyaman bagi siapapun keturunan Sultan Alam, dimanapun mereka berada, untuk pada akhirnya, cepat atau lambat, berani mengatakan dengan kepala tegak dan dada yang luas “ Iya, aku keturunan Sultan Alam”.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

Saya ingin mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah tentang Sultan Alam yang terserak di beberapa wilayah mulai dari Siak, Pekanbaru, Anambas, Musi Rawas, Johor, Luwu hingga Brunei Daussalam. Buku ini diharapkan sebagai tonggak awal dari tulisan-tulisan tentang Sultan Alam berikutnya yang mungkin akan dituliskan justru oleh keturunan Beliau yang selama ini seperti tak muncul ke permukaan. Saya juga berharap jikapun waktu maksimal program ini selesai, minimal dummy untuk buku ini telahpun jadi. Agar tinggal di cetak dan disebarkan ke sekolah-sekolah dan pengetahuan sejarah lokal pun bertambah. Lebih jauh lagi, semoga buku ini menjadi awal terbukanya kolam-kolam diskusi yang lebih santai antara budayawan, sejarawan, penulis dan tokoh-tokoh yang selama ini seperti mengamini pendiaman atas sejarah Sultan Alam dan keturunannya. Dan bagi keturunan Sultan Alam, kedepannya tak lagi perlu merasa malu apalagi takut untuk mengakui dan mungkin mulai mempelajari sejarah mereka sendiri. Dan ketika membicarakan KerajaanSiak tidak lagi melulu tentang Klan Sultan Mahmud, namun bisa lebih berimbang.

Dana Hibah

Rp.178 Juta