Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

579 - Bara Fusi


Nama Inisiator

Faida Zuhria, ST. M.Eng

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

baru memulai

Contoh Karya

DSCF3339.JPG

Situs Web

Media Sosial

Instagram @fa_eyda

Kategori Proyek

lintasgenerasi

Deskripsi Proyek

Proyek “Bara Fusi” dimulai September 2017. “Bara” merupakan singkatan dari “Bahasa dan Aksara”, sedangkan fusi diartikan sebagai gabungan atau meleburkan, artinya menggabungkan dua unsur yaitu bahasa Indonesia dan Aksara Jawa. Bara juga diartikan sebagai semangat yang berapi-api, sehingga secara filosofi dalam pembuatan karya ini juga selalu ada semangat menyelesaikan semua karya sesuai target. Proyek ini merupakan kumpulan puisi dan quotes yang ditulis dengan aksara Jawa namun berbahasa Indonesia yang dituanglan dalam lembaran kain dan disulam. Sulaman yang dibuat tidak hanya berupa tulisan, namun juga menyertakan gambar yang disulam yang mendukung maksud dari tulisan tersebut. Proyek ini dilaksanakan untuk mengumpulkan berbagai karya tersebut dan waktu yang diperlukan untuk persiapan pembuatan karya selama 8 bulan. Target karya yang dibuat sebanyak 100 karya pribadi dan rencana akan dipamerkan di Jogja National Museum (JNM) yang merupakan museum dan galeri seni kontemporer yang berdiri di bawah naungan Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara. Museum ini beralamat di Jalan Amri Yahya No. 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta. Pameran akan digelar selama 2 pekan dengan target kunjungan minimal 1000 orang baik domestik maupun wisatawan mancanegara.

Latar Belakang Proyek

Secara pribadi, poyek ini merupakan bentuk ekspresi penuangan emosi, pemikiran, refleksi, bahkan pesan yang berupa puisi dan quotes. Minat tinggi terhadap menulis terutama cerita pribadi menjadi sebuah bentuk curahan hati sehingga memerlukan simbol khusus untuk menuangkannya. Aksara Jawa menjadi bentuk tulisan yang dipilih karena aksara ini adalah simbol yang dipahami, selain itu tidak banyak lagi generasi yang memahami tulisan ini menjadi rasa nyaman tersendiri untuk menuangkan perasaan pribadi. Penuangan puisi dan quotes menggunakan bahasa Indonesia adalah karena bahasa ini sebagai bahasa nasional sehingga dapat dipahami isinya oleh siapapun , sementara aksara Jawa adalah bentuk pengenalan bahwa bahasa Indonesia dapat ditulis dengan aksara Jawa. Selain itu tujuan tulisan-tulisan tersebut disulam adalah bahwa kegiatan menyulam menjadi sebuah cara mengontrol emosi karena kesenangan dan minat terhadap hal tersebut membantu pemulihan secara emosi apa yang dirasakan saya. Tujuan secara jangka panjang adalah adanya karya seni ini diharapkan dapat memacu ketertarikan masyarakat dan generasi muda untuk mengenal dan mencintai aksara Jawa sebagai salah satu kekayaan budaya di Indonesia. Selain itu proyek ini juga dapat memfasilitasi dalam menggerakkan dan meningkatkan minat terutama generasi muda mengenai Aksara Jawa dengan cara yang menyenangkan misalnya dengan menuangkan tulisannya sesuai pemikiran atau kesenangannya.

Masalah yang Diangkat

Permasalahan yang saat ini terjadi adalah banyak masyarakat terutama generasi muda enggan untuk membudayakan menulis, terlebih menulis aksara Jawa. Aksara Jawa menjadi simbol untuk berkomunikasi pada zaman dahulu yang seharusnya menjadi kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Jawa sehingga harus di-uri-uri (selalu dihidupkan). Akan tetapi pada kenyataannya dengan banyaknya hantaman globalisasi dan budaya barat yang banyak diakses menyebabkan generasi muda pelan-pelan melupakannya. Bahkan Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran yang wajib yang didalamnya memuat tulisan Aksara Jawa masih menjadi kesulitan bagi siswa untuk memahami dan menuliskannya. Selain itu ketidakpedulian masyarakat dan generasi muda untuk belajar dan memahami serta menghidupkan budaya menulis dan memahami Aksara Jawa menjadi ancaman kepunahan kebudayaan Jawa. Di sisi lain, sejarah bertuliskan Aksara Jawa juga menjadi enggan dipelajari karena minimnya minat terhadap Aksara Jawa. Hal ini menyebabkan masyarakat saat ini tidak bisa belajar dari sejarah. Jika tidak dipelajari, Aksara Jawa hanya menjadi simbol yang tidak dapat diambil maknanya.

Indikator Sukses

1. Terlaksananya pameran tunggal dengan jumlah karya minimal 100 yang tercapai dari segi jumlah pengunjung minimal 1000 orang baik domestik maupun wisatawan mancanegara 2. Adanya permintaan workshop

Lokasi

DI Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.105 Juta

Durasi Proyek

9 bulan