Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

568 - "WHAT DOES IT MEAN TO BE A WOMAN IN ART?"


Nama Inisiator

Sartika Dian Nuraini

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

7 Tahun

Contoh Karya

sartika.pdf

Situs Web

Media Sosial

@sartikadian

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Workshop Perempuan Kurator. Barangkali tiga kata tersebut terdengar agak aneh dan janggal apalagi bila menyangkut kesenian global saat ini. Seorang kurator, seorang yang mampu mempertaruhkan dirinya dan bertanggung jawab terhadap karya kuratorialnya, kini posisi ini tidak lagi harus melulu dipegang laki-laki. Sederhananya, bagaimana membuat profesi ini tumbuh subur dalam diri perempuan? Ide workshop kurator perempuan ini merupakan hasil pengamatan saya dan kecurigaan saya pada dunia kesenian yang ada di Indonesia, yang patriark! Pertanyaan sederhana yang saya lontarkan adalah siapakah/bagaimanakah perempuan kurator generasi pertama di Indonesia? Bagaimana eksistensinya? Suara apa yang dia kejar/bawa serta dalam konsep kuratorialnya? Apakah perlu membuat suatu riset tentang sejarah kekuratoran perempuan di Indonesia? Berapa banyak dari mereka yang terlupakan dan tertimbun oleh sejarah? Dalam proyek ini, saya akan mengundang beberapa perempuan kurator dan ahli untuk memetakan sejarah kuratorial perempuan di Indonesia (mungkin termasuk para juri dalam Hibah ini). Saya juga akan mengumpulkan beberapa perempuan kurator yang sudah mendalami praktik kuratorial di Indonesia (dengan usia yang lebih muda). Selain itu, akademisi dan peneliti untuk memberi pandangan-pandangannya tentang perempuan dan kerja feminisme dalam seni. Semua ini untuk memetakan kembali, memberi penyegaran tentang wacana feminisme dalam seni: menjadi tempat berdialog wacana feminisme di kalangan seni.

Latar Belakang Proyek

What Does it Mean To Be Women in Art? sebenarnya merupakan gagasan yang terinspirasi dari kondisi kesenian di Indonesia. Sebuah proyek pedagogi seni yang ingin menumbuh-kembangkan profesi kuratorial untuk perempuan muda di Indonesia. Hal ini dilatar-belakangi oleh beberapa kecurigaan pribadi dan kolektif terhadap praktik kesenian kita. Seperti saat kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan: berapa banyak perempuan kurator yang terpandang dan mumpuni di Indonesia? apakah karya kuratorialnya mampu mendapat perhatian serupa ekshibisi atau pergelaran yang diselenggarakan kurator laki-laki? Pertanyaan tersebut memang terkesan cemburu. Tetapi itu masalah. Cemburu adalah masalah. Dan itu berkaitan dengan adil dan tidak adil segala sesuatu dari logika kita atau penyikapan kita. Saya ingin mengutip Frances Morris, Direktur Tate Modern: "My advice to women in the arts today is that it is a changed world. But it really is still a case of pushing and pushing and making opportunities and never being complacent." Apakah betul selama ini kita masih dalam tahap "mendorong" untuk sesuatu baru ideal dalam masyarakat kesenian? Pernyataan tersebut menjadi pemantik tak berkesudahan di kepala saya. Selanjutnya, bagaimana roadmap untuk mewujudkan ekosistem perempuan berkesenian? Mungkin langkah pertama adalah dengan membuat mereka bertemu dan belajar dalam sebuah suasana diskusi dan pergulatan wacana yang menarik.

Masalah yang Diangkat

1. Tidak adanya catatan tentang "Sejarah Kuratorial Perempuan di Indonesia (Butuh diriset secara tuntas dan harus ada produksi literasi mengenai ini) 2. Tidak adanya platform kurator perempuan di Indonesia 3. Tidak adanya perempuan yang saling mendukung dan bekerjasama untuk membangun wacana kesenian yang integratif, masif dan terstruktur 4. Tidak adanya pemetaan tentang kepeminatan perempuan kurator di Indonesia 5. Bagaimana bila seluruh perempuan kurator dari seluruh Indonesia berkumpul? Apa yang akan terjadi? 6. Eksistensi perempuan kurator ini seperti apa di wilayahnya masing-masing? 7. Tema kuratorial apa saja yang bisa dibagikan dari tiap wilayah? 9. Perempuan kurator apakah sudah terkoneksi dengan baik di tiap-tiap wilayah?

Indikator Sukses

1. Jika Proyek ini berhasil membuat pemetaan tentang Perempuan Kurator di Indonesia 2. Jika Proyek ini berhasil membangun jejaring yang solid antar Perempuan Kurator di Indonesia 3. Jika Proyek ini berhasil membuat roadmap tentang kuratorial perempuan 4. Jika Proyek ini berhasil membuat rencana jangka panjang tentang sustainabilitas generasi muda perempuan kurator 5. Jika Proyek ini berhasil mencetak -- membreeding generasi muda kurator perempuan 6. Jika Proyek ini mampu memiliki daya dorong untuk pemerintah mau berkonsentrasi pada perempuan yang berprofesi kurator 7. Jika Proyek ini berhasil menumbuhkan kepercayaan diri bagi perempuan membangun "keseniannya" sendiri 8. Jika Proyek ini berhasil mencetak sebuah buku hasil pandangan/pemikiran/rencana proyek kuratorial seluruh generasi muda perempuan kurator

Lokasi

Banten

Dana yang Dibutuhkan

Rp.250 Juta

Durasi Proyek

3 bulan