Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

532 - Unravelling the Thread: Menguntai Ikat


Nama Inisiator

Dian Asih Lestari

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

5 tahun

Contoh Karya

Unravelling the Thread-Abstract Conclusion.pdf

Situs Web

Media Sosial

https://www.youtube.com/watch?v=LAqWQbxDjCk&t=1s

Kategori Proyek

perjalanan

Deskripsi Proyek

“Unravelling the Thread”: Menguntai Ikat, merupakan sebuah film dokumenter yang diadaptasi dari riset disertasi dengan tajuk “Unravelling the Thread of Ikat Textile”: Study of Gender Role within the Craft Practice in a Remote and Disadvantaged Region of Indonesia yang merupakan riset dari Dian Lestari sebagai karya riset dalam program Master of Science yang diambilnya pada tahun 2016 yang lalu. Riset tersebut kemudian direncanakan untuk diangkat menjadi karya dalam format film dokumenter. Film dirasa sebagai media yang tepat untuk penuturan kisah dari tenun ikat dan wanita Sumba dikarenakan beberapa pertimbangan dimana karya tulis ilmiah ataupun jurnal belum menjadi media populer bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi. Film dokumenter menjadi cara pengisahan yang lebih mudah diterima, lengkap dengan bentuk visual dan cerita lengkap, dan memudahkan penuturan mengenai isu-isu yang cukup sensitif dijelaskan seperti gender dan konsep patriarki. Film dokumenter yang direncanakan tidak sepenuhnya sama dengan tulisan karya tulis ilmiah yang sudah terlebih dahulu dibuat. Adaptasi ke dalam bentuk film membuat beberapa pertimbangan seperti memfokuskan subjek cerita, penokohan, dan bagaimana sepenggal cerita yang dikisahkan dalam film dapat mewakili keseluruhan konsep dari riset yang sudah dilakukan namun tidak menjadi terlalu bertele-tele dan terlalu ilmiah sehingga sulit untuk dimengerti.

Latar Belakang Proyek

Kriya, terutama kriya tekstil sudah dipraktekan di Indonesia selama berabad-abad. Selama itu pula, perempuan selalu dianggap sentral sebagai pemeran utama dalam produksi kriya tekstil di sebagian besar grup etnis berbeda di Indonesia. Salah satu daerah dengan karakter kain yang kuat namun juga memiliki relasi yang kuat dengan wanita adalah Pulau Sumba. Dari segi tradisi, pembuatan kain memang identik dengan pekerjaan wanita, dimana pada awalnya, kaum lelaki memang dilarang untuk aktif di kegiatan tersebut. Namun hal tersebut berubah sejak akhir tahun 1970 atau awal 1980 dimana popularitas dari kain tersebut mulai naik dan memiliki nilai ekonomi. Pada periode ini, laki-laki mulai mengambil bagian di beragam tahapan proses dalam pembuatan kain ikat. Walaupun secara praktek perempuan masih mendominasi kegiatan pembuatan kain, namun posisi-posisi strategis dalam praktek industri kain ikat lebih banyak dikuasai oleh laki-laki; seperti bisnis, pemimpin kelompok pengerajin, dan distribusi. Film “Unravelling the Thread” adalah sebuah konsep film dokumenter yang didasari dari riset dengan judul “Unravelling the Thread of Ikat Textile”: Study of Gender Role within the Craft Practice in a Remote and Disadvantaged Region of Indonesia yang membahas bagaimana kegiatan kreatif terutama praktek tenun di Sumba mempengaruhi kehidupan wanita dan memberdayakan kemandirian dari perempuan di daerah.

Masalah yang Diangkat

Film “Unravelling the Thread” akan mengangkat bagaimana pergeseran peran perempuan yang pada asalnya mendominasi praktek kreatif tenun ikat mulai berubah setelah pada tahun 1980-an tenun ikat mulai memiliki nilai ekonomis dan menarik kaum pria ikut andil besar di dalamnya. Bagaimana dampak dari pergeseran peran perempuan di ranah kegiatan tenun ikat; banyak kah yang berubah dan terpengaruh; baik dari kegiatan tenun itu sendiri ataupun kehidupn wanita yang aktif di dalamnya. Film ini akan menampilkan bagaimana kehidupan perempuan praktisi tenun ikat dan praktek tenun yang mereka lakukan sehari-hari. Film ini akan memusat pada wanita yang aktif sebagai pencelup atau pewarna kain ikat. Hal ini didasari dengan masih tradisionalnya proses ini dimana masih memiliki banyak pantangan-pantangan yang berkaitan dengan tradisi, hingga mitos yang percaya bahwa proses pewarnaan ini tidak bisa dilakukan oleh kaum pria atau sembarang wanita. Bagaimana kehidupan para pewarna ikat tersebut juga menarik untuk dituturkan. Karena walaupun pewarna berasal dari bahan natural namun memiliki sifat racun sehingga banyak para pewarna yang mengalami masalah kesehatan di usia tua. Cerita mengenai bagaimana penurunan tradisi, pelestarian budaya asli, dan daya tarik ekonomi kemudian dihadapkan oleh permasalahan kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan untuk para pekerja wanita ini menjadi menarik untuk diceritakan.

Indikator Sukses

Indikator kesuksesan karya film ini tidak hanya akan dinilai dari skala quantitatif dan jumlah penonton yang melihat. Walaupun seperti yang ditargetkan screening akan dilakukan sebanyak 3 kali, 2 di Bandung dan 1 di Jakarta, dengan target penonton masing-masing 500 penonton. Selain sceening road show, di target kan film ini juga akan menerima undangan dari screening baik lokal maupun internasional. Dari segi qualitatif, film ini menargetkan untuk diputar tidak hanya di lingkungan perfilman sendiri namun di kalangan akademisi yang memiliki singgungan fokus terhadap tenun dan kebudayaan. Sebagai output dari film juga akan didistribusikan dalam bentuk DVD.

Lokasi

Sumba, Nusa Tenggara Timur

Dana yang Dibutuhkan

Rp.184 Juta

Durasi Proyek

9 bulan