Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pemohon Hibah

Nurhaerani


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

kuliner

Pengalaman Berkarya

6 tahun

Contoh Karya

Situs Web

Media Sosial

FB Nunuk Askot

Proyek


No. Formulir

528

Judul Proyek

PEREMPUAN-PEREMPUAN PELESTARI BUDAYA

Lokasi Proyek

Kabupaten Bima dan Kota Bima NTB

Deskripsi Proyek

Setiap daerah memiliki budaya dengan ciri khasnya masing-masing yang harus terus dijaga dan dipelihara sehingga tidak tergilas oleh perkembangan jaman. Budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Bima merupakan budaya yang mengandung nilai-nilai keislaman. Besarnya pengaruh budaya Islam dalam budaya Bima salah satunya ada dalam budaya Rimpu Tembe. Budaya Rimpu Tembe sebagai hijab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bima (dou Mbojo) tidak lagi seperti dulu. Kehadiran hijab dan baju gamis telah menggeser kebiasaan masyarakat menggunakan Rimpu Tembe dengan alasan lebih praktis.sehingga Rimpu Tembe pada saat ini lebih berfungsi sebagai identitas budaya. Rimpu Tembe sebagai identitas budaya tidak lepas dari kegiatan menenun yang dilakukan oleh kaum perempuan dari beberapa desa yang ada di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Kegiatan menenun yang mereka lakukan disela-sela musim tanam, seharusnya bisa menjadi salah satu kegiatan yang bisa menopang perekonomian keluarga.

Kategori

kerjasama_kolaborasi

Latar Belakang Proyek

Rimpu adalah budaya menutup tubuh yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dengan menggunakan dua lembar kain sarung. Kain sarung pertama berfungsi sebagai rok disebut Sanggentu yang akan menutup tubuh bagian bawah (pinggang sampai mata kaki), dan kain sarung kedua untuk menutup tubuh bagian atas disebut Rimpu (kepala sampai paha). Kain yang digunakan adalah kain sarung hasil tenun masyarakat / perempuan setempat yang bernama “Tembe Nggoli”. Rimpu pada jaman dahulu merupakan hijab yang digunakan oleh kaum perempuan bila bepergian / keluar dari rumah. Ada dua macam rimpu yang berlaku dalam masyarakat yaitu “Rimpu Cili” atau “Rimpu Mpida” digunakan oleh perempuan yang belum menikah / masih sendiri, sedangkan “Rimpu Colo” digunakan oleh perempuan yg sudah menikah. Rimpu Tembe sebagai identitas budaya tidak bisa dilepaskan dari penggunaan kain sarung (tembe nggoli) hasil tenunan masyarakat setempat, dan itu berarti kegiatan menenun yang dilakukan oleh masyarakat harus tetap dikembangkan dan dijaga keberadaanya, begitu pula dengan sumber daya manusianya. Perempuan penenun seharusnya tidak hanya menjadi pekerja tenun, akan tetapi mereka juga harus bisa menjadi pelaku usaha yang bisa mendukung perekonomian keluarga.

Masalah yang Diangkat

1. Kurangnya pemahaman generasi muda dan generasi melanium mengenai makna yang terkandung dalam budaya Rimpu Tembe sehingga diperlukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan (lomba Rimpu dan Pameran) sebagai alat / media transfer budaya. 2. Kurangnya dokumentasi mengenai proses penenunan dan profil perempuan-perempuan penenun sebagai pelaku / pelestari budaya yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. 3. Belum terbentuknya komunitas perempuan penenun se Kabupaten Bima dan Kota Bima sebagai wadah kegiatan mereka dalam berkarya dan berusaha sehingga mereka kesulitan untuk mengakses bantuan alat maupun modal dan fasilitas usaha lainnya yang ada di pemerintah.

Durasi Proyek

5 bulan

Indikator Sukses

1. Terlaksananya kegiatan Lomba Rimpu yang akan diikuti oleh minimal 100 orang dirangkai dengan pameran kain tenun dan turunannya dalam bentuk pakaian, souvenir, tas, dll yang merupakan karya kreatif masyarakat. Kegiatan ini akan dihadiri oleh lebih dari 1000 pengunjung. 2. Terdokumentaskannya proses tenun menjadi kain dan profil perempuan-perempuan penenun dari masing-masing wilayah sentra tenun dalam bentuk buku dan video. 3. Terfasilitasi dan terbentuknya komunitas perempuan penenun di Kabupaten Bima dan Kota Bima sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berkarya dan berusaha dengan bantuan modal kerja yang akan kita berikan.

Dana Hibah

Rp.250 Juta