Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

522 - RUMPI : Rumah Pusat Inovasi Seni dan Budaya


Nama Inisiator

Siti Nur Seha

Bidang Seni

kriya

Pengalaman

baru memulai

Contoh Karya

Situs Web

Media Sosial

Kategori Proyek

akses

Deskripsi Proyek

RUMPI : Rumah Pusat Inovasi Seni dan Budaya adalah sebuah gagasan yang membebaskan ruang gerak perempuan utuk terus berkarya bahkan setelah berkeluarga tanpa khawatir akan melalaikan kewajibannya dalam mendidik anak. RUMPI didesain sebagai rumah tempat perkumpulan ibu-ibu rumah tangga untuk membatik, yang dalam tahap awal dimulai dengan pelatihan dan pembinaan produksi hingga pemasaran batik. Rumah ini dilengakpi dengan sanggar tari dan teater sebagai tempat latihan untuk anak-anak. Sanggar ini bertujuan untuk menghidupkan kembali (revitaalisasi) nilai-nilai seni dan budaya yang mulai luntur di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo,Provinsi Jawa Timur. Selain dapat menungkan ekspresi dari keahlian ibu rumah tanngga dalam membatik, RUMPI juga menjadi sarana yang tepat untuk mendidik anak agar mencintai seni dan budaya. Dalam proses membatik, RUMPI juga mendayagunakan limbah organik sebagai pewarna alami sehingga dapat mengatasi permasalhan sampah yang mencemari lingkungan. Hadirnya RUMPI, diharapkan dapat menjadi batu loncatan bagi perempuan untuk terus berkarya serta mempelajari seni dan budaya lebih dalam lagi.

Latar Belakang Proyek

Di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, hampir 90% perempuan yang sudah berkeluarga bekerja sebagai ibu rumah tangga yang menggantungkan perekonomian kepada suaminya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya kemjauan teknologi yang tidak diringi dengan kebebasan ruang gerak perempuan untuk berekspresi melalui kreasi. Ditambah dengan kewajiban seorang ibu rumah tangga untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya, yang dalam paradigma masyarakat didikan itu harus berada di dalam rumah agar tidak terpengaruh pergaulan bebas di luar lingkungan keluarga. Keadaan demikian seakan menjebak perempuan untuk berhenti berkarier, berkreasi dan berinovasi. Padahal jika dilihat dari sisi yang lain, setiap perempuan memiliki keahlian, seperti menjahit, melukis dan mewarnai. Keahlian tersebut dapat diekspresikan dan diolah menjadi batik yang memiliki daya jual tinggi, serta berpotensi menjadi batik khas Probolinggo dengan pewarnaan alami dari limbah organik. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen batik, melainkan juga menjadi produsen yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Dari sisi seni dan budaya, hal ini juga menjadi ajang revitalisasi seni dan budaya yang mulai luntur di Kabupaten Probolinggo.

Masalah yang Diangkat

Beberapa masalah yang ingin diatasi yang pertama adalah diskriminasi terhadap perempuan yang secara paksa harus berhenti berkarier dan berinovasi setelah berkeluarga. Yang kedua, memberikan ruang untuk berekspresi bagi ibu rumah tangga melalui kegitan membatik tanpa khawatir akan didikan anak yang menjadi tanggungjawabnya. Yang ketiga adalah menghidupkan kembali seni dan budaya pada semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewaa. Yang terakhir adalah menjawab permasalahan lingkungan berupa sampah yang tidak terolah dengan baik, bahkan mencemari lingkungan.

Indikator Sukses

Ukuran keberhasilan dapat dilihat dari beberapa hal; pengetahuan akan seni dan budaya bertambah baik bagi ibu rumah tangga maupun anak-anak, produk batik yang dihasilkan, jangkauan pemasaran serta peningkatan penghasilan ekonomi rumah tangga, dan keterampilan anak-anak dalam seni tari dan teater berkembang.

Lokasi

Jawa Timur

Dana yang Dibutuhkan

Rp.525 Juta

Durasi Proyek

6 bulan