Anda berada di mode pratinjau.
| | |

Pemohon Hibah

fatimatuzzahro


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

sastra

Pengalaman Berkarya

baru memulai

Contoh Karya

Situs Web

www.mubaadalahnews.com

Media Sosial

facebook zahra amin halaman facebook mubaadalah

Proyek


No. Formulir

501

Judul Proyek

Penerbitan Novel Toleransi "Jejak Cinta Nayla"

Lokasi Proyek

Kota Cirebon

Deskripsi Proyek

Penerbitan Novel dengan judul “Jejak Cinta Nayla” adalah kisah fiktif, namun berangkat dari kesadaran tentang pentingnya menjaga toleransi di Indonesia, sebagai upaya yang harus terus dilakukan untuk keberlangsungan NKRI hingga bertahun-tahun kemudian. Kisah dalam novel ini merupakan bentuk cinta dua anak manusia, yang berbeda latar belakang agama, budaya, suku, dan ras. tokoh uatam perempuan relawan banjir dari Indramayu, sedangkan tokoh utama laki-laki adalah relawan kemanusiaan dari Papua. Namun semangat cinta mereka untuk melakukan perubahan demi Indonesia yang lebih baik di masa depan menjadi mimpi yang tak berkesudahan, agar harapan itu terus ada dan berlanjut hingga ke generasi demi generasi. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk memecah belah, tetapi justru akan menyatukan dan merekatkan menjadi Bangsa Indonesia yang hebat dan bermartabat. Meski diwarnai dengan banyak perbedaan, tidak menyurutkan langkah tokoh utama novel, mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Yakni memadukan nilai-nilai Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) yang juga menjadi pegangan ketika harus berhadapan dengan problem sosial yang sangat kompleks. Nilai-nilai KPI yang dia pelajari itu antara lain Anti Kekerasan, Berwawasan Lingkungan, Kebebasan, Keberagaman, Kejujuran, Kemandirian, Kepedulian, Kerakyatan, Kesetaraan, Keterbukaan, Persamaan, Persaudaraan sesama perempuan (Sister Hood) dan solidaritas. Gagasan kedua tokoh utama tentang nilai toleransi dan pluralisme tak lepas dari peran serta orang-orang dalam komunitasnya.

Kategori

riset_kajian_kuratorial

Latar Belakang Proyek

ide tentang pembuatan novel ini, berawal dari kegiatan Sahur keliling dan dialo kebangsaan bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrrahman Wahid, Ibu Negara Presdien ke-4 KH. Abdurrahman Wahid medio Juni 2017. Dimana penulis didaulat sebagai Ketua Panitia. Dalam waktu yang hanya hitungan 5 minggu, harus menyiapkan kegiatan dan bekerjasama dengan saudara lintas agama di Kabupaten Indramayu, yang berbasis di Paroki Santo Mikael Indramayu sebagai ruang pertemuan para panitia. Dalam waktu yang singkat itu, terasa sekali kebersamaan yang dibangun diatas perbedaan, seolah miniature dari bangsa Indonesia yang majemuk dan beragam. Pada kesempatan itu juga penulis berkenalan dengan Bang Yosep Leo Subay, seorang laki-laki dari Papua dan juga relawan kemanusiaan yang telah mengajarkan banyak hal tentang nasionalisme, ketulusan dan kebaikan yang ditawarkan tanpa batas kepada setiap orang yang dia temui, dengan semangat berbagi yang terus dia tebar hingga ke pelosok negeri, memberi inspirasi bahwa kebaikan dan pesan cinta dari berbagai agama itu harus dituliskan dalam lembaran-lembaran kertas, agar terus bisa dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Melalui sosok tokoh utama yang digambarkan sebagai orang Papua yang ulet, pantang menyerah dan semangat nasionalisme yang tinggi, meski terlahir dari negeri yang masih butuh peratian ekstra dari pemerintah Indoensia, sang Tokoh tahu bagaimana mencintai Indonesia dengan caranya sendiri.

Masalah yang Diangkat

: isu radikalisme atas nama apapun, dan sektarianisme golongan, suku, ras dan budaya menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Sehingga menjadi tanggung jawab moral bagaimana nilai toleransi dan pluralisme sebagai bagian dari jati diri bangsa harus dijaga, agar Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa tetap kokoh berdiri. Tidak hanya tinggal jejak nama dalam peta usang dunia. Untuk menjadi bangsa Indonesia yang hebat, disegani dalam pergaulan antar bangsa di dunia, harus dimulai dengan langkah kecil dan mimpi kecil, tentang Indonesia yang tak boleh punah, dan jejak peradaban sebagai bangsa yang majemuk akan terus bisa dilihat oleh generasi-generasi mendatang. Bahasa cinta yang dimiliki oleh semua agama, dan nilai-nilai toleransi serta pluralisme semoga akan mampu merekatkan kembali semangat nasionalisme, terutama dikalangan anak muda. Bahasa cinta dan perdamaian akan menjadi jembatan disetiap perbedaan. Sebab dengan dikemas dalam bahasa yang sederhana, semoga pesan cinta akan sampai kepada para pembaca. Riset novel ini dilakukan dengan pengamatan di area makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Paroki Buah Batu Bandung, dan Yayasan Fahmina Cirebon sebagai latar dan setting novel. Serta melakukan wawancara dengan KH. Husein Muhammad serta Pastur Fabianus Muktiyarso untuk melengkapi beberapa data tentang ajaran cinta kasih terhadap sesama umat manusia, untuk mencegah kekerasan atas nama agama terus meluas.

Durasi Proyek

5 bulan

Indikator Sukses

hari ini penulis aktif di dalam komunitas yang beragam, sehingga memungkinkan penyebaran novel. Bahkan Paroki Buah Batu Bandung sudah menawarkan tempat untuk launching novel nanti, agar bisa dibaca dalam komunitas umat Katolik di wilayah itu. Meski rencana awal akan dibarengkan dengan kegiatan festival mubaadalah, yang bertempat di Fahmina Cirebon. Selain itu komunitas Nahdlatul Ulama dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), dimana selama ini penulis juga aktif, maka akan memperluas jangkauan segmen pembaca. Dengan menyasar generasi muda, yang menyukai genre novel cinta dengan mengusung nilai-nilai toleransi, keberagaman dan pluralisme, sebagai bagian dari upaya menjaga NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, serta mencegah adanya kekerasan atas nama agama, yang kini marak kembali. Dalam beberapa kasus radikalisme atau pelaku terorisme di Indonesia, diantara banyak pelaku mayoritas masih berusia remaja. Bahkan ujaran kebencian di media sosial, kebanyakan berasal dari mereka yang masih muda. Jika hal ini dibiarkan bukan tak mungkin 10 tahun ke depan Indonesia akan bernasib sama dengan negara-negara di Timur Tengah yang luluh lantak karena perang tak berkesudahan, sebab sentiment agama, suku, ras dan budaya yang terus digesek sehingga menjadi kekerasan yang tak pernah berujung.

Dana Hibah

Rp.40 Juta