Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

412 - Pertunjukan Tesater Multimedia ATTOENG di dua kota


Nama Inisiator

Dewi Ritayana

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

20 Tahun

Contoh Karya

i welenreng.jpg

Situs Web

Media Sosial

Facebook : Dewi ritayana

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Proyek ini bernama ATTOENG ( Makassar ) atau MATTOJANG ( Bugis ) adalah semacam tatacara kebiasaan meninabobokkan anak balita Bugis – Makassar. Tradisi meninabobo bayi dalam ayunan kain sarung yang digantung di tiang rumah ini, sesungguhnya sudah dikenali dalam kitab lama I Lagaligo. Dalam sastra babon itu terbaca bagaimana seorang ibu mengayunkan anaknya dengan perlahan seraya menyanyikan lagu-lagu ( elong-elong ). Dendang-dendang lagu ( kelong- Makassar atau elong – Bugis ) yang dulu merdu dikumandangkan, berisi doa-doa;nasihat; petuah dan penyemangat bagi sang anak tersayang kini sangat jarang terdengar, baik di perkampungan apalagi di perkotaan. Menyimak kenyataan tersebut maka diperlukan upaya reaktualisasi ATTOENG ( Makassar ) atau MATTOJANG ( Bugis ) dalam bentuk seni pertunjukan Multimedia; pendokumentasian bahan-bahan tertulis sastra Kelong Mangkasaraq dan Elong Ugi. Proyek ini akan dilaksanakan pada waktunya di dua kota yaitu Makassar dan Solo

Latar Belakang Proyek

Tradisi ATTOENG ( Makassar ) atau MATTOJANG ( Bugis ) yang penuh kasih sayang ini nyaris tak dikenali lagi akibat pergeseran laku budaya. Penyebab utama tersisihnya tradisi Attoeng atau Mattojang itu adalah merasuknya teknologi informasi dalam kehidupan keseharian keluarga dimana peran ibu-ibu kian digantikan oleh televisi; radio; internet atau gadget. Dongengg modern itu tengah menjalankan ancaman, mendegradasi moral anak bangsa. Proyek ini mengusung harapan kiranya para ibu muda kembali melihat dan mewarisi serta melanjutkan kembali tradisi leluhurnya. Dengan kemasan baru itu pula berbagai pesan lama berupa kearifan lokal yang bernilai luhur dapat tersosialisasikan guna memperkuat karakter generasi muda. Melengkapi kegiatan,akan dicari/diteliti dan diterbitkan kembali syair-syair lama baik berupa syair Bugis atau Makassar. Guna kelancaran dalam merealisasikan gagasan ini maka akan melibatkan penyair - aktivis penyair kelong dan elong; pemusik tradisi-lokal dan konsultan seni pertunjukan. Upaya reaktualisasi tradisi Attoeng atau Mattojang itu akan dilakukan dengan metode pendekatan baru yang lebih sesuai zaman. Misalnya dengan mempertunjukkan Attoeng atau Mattojang yang didukung penyajian multimedia serta sosialisasi berupa membagikan buku saku, serta diskusi. Proyek ini perlu dilaksanakan pada waktunya di dua kota yaitu Makassar dan Solo dengan pertimbangan agar dapat membangun komunikasi budaya dan untuk mengenali keragaman kekayaan budaya Makassar – Bugis – Sulawesi Selatan - Indonesia.

Masalah yang Diangkat

Upaya reaktualisasi ATTOENG ( Makassar ) atau MATTOJANG ( Bugis ) dalam bentuk seni pertunjukan Multimedia dan pendokumentasian bahan-bahan tertulis sastra Kelong Mangkasaraq dan Elong Ugi. Proyek ini dianggap perlu dilaksanakan pada waktunya di dua kota yaitu Makassar dan Solo dengan pertimbangan agar dapat membangun komunikasi budaya guna saling mengenali keragaman kekayaan budaya Makassar – Bugis – Sulawesi Selatan - Indonesia. Kiranya para ibu muda kembali melihat, mengingat, terkesan dan mewarisi serta melanjutkan kembali tradisi leluhurnya yaitu tatacara meninabobokkan anak serta mewariskan nilai-nilai budaya luhur, petuah dan doa-doa.

Indikator Sukses

Kesuksesan proyek ini diukur dengan indikator : • Tersedianya dan terkumpulnya bahan-bahan – syair Kelong Mangkasara dan Elong Ugi • Terselenggaranya pertunjukan multimedia ATTOENG / MATTOJANG di dua kota • Hadirnya penonton dan pemerhati anak ( utamanya ibu muda usia dan anak-anak ) • Tersedia dan tersosialisasinya buku saku syair Kelong Mangkasara dan Elong Ugi • Tersedinya dokumentasi pertunjukan dan diskusi proyek

Lokasi

Sulawesi Selatan & Solo

Dana yang Dibutuhkan

Rp.165 Juta

Durasi Proyek

5 bulan