Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

407 - Perempuan Pagu Bertutur


Nama Inisiator

Ade Tanesya Aryana Uli P

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

10 Tahun

Contoh Karya

Women, Community Radio, and Post-Disaster Recovery Process.pdf

Situs Web

adetanesia.wordpress.com ; pulangartproject.wordpress.com ;

Media Sosial

https://www.youtube.com/watch?v=_zlXuPElk-E ; https://www.youtube.com/watch?v=N234GMcH_zU ; https://www.youtube.com/watch?v=c3T8PdRItwo ; https://www.youtube.com/watch?v=_nmcxuuw24k ;

Kategori Proyek

perjalanan

Deskripsi Proyek

Proyek ini hendak mengangkat persoalan yang dialami oleh perempuan masyarakat adat Pagu, di Halmahera Utara. Awalnya akan dilakukan semacam pemetaan dan pendalaman kegiatan sehari-hari perempuan Pagu yang berhubungan dengan pengolahan ruang hidup yang semakin terbatas karena wilayah ini telah sejak lama menjadi daerah eksploitasi tambang emas, perusahaan Nusa Mineral Halmahera. Ruang hidup menjadi penting karena di sana pula terdapat tanaman obat, karena banyak tabib perempuan yang menjadi penyembuh bagi warga. Cerita kehidupan perempuan Pagu ini akan diubah menjadi lirik lagu, digarap oleh seorang musisi Tobelo, dan dinyanyikan kembali oleh para perempuan. Lalu akan dibuat sebuah pementasan, dimana para perempuan akan bernyanyi, menari, membaca puisi. Di samping itu akan diadakan workshop kuliner dengan bahan pangan lokal. Jadi fokus dari perjalanan ini hendak menggali kehidupan perempuan Pagu dalam hubungannya dengan ruang hidup, pangan, dan kesehatan.

Latar Belakang Proyek

Gagasan proyek ini merupakan lanjutan dari penggalian sejarah asal usul Suku Pagu yang sudah dilakukan pada tahun 2018. Pada kunjungan pertama itu, saya melihat bahwa perempuan Pagu cukup kuat, dipimpin oleh seorang Kepala Suku Perempuan. Ia membentuk kelompok petani perempuan untuk membangun ketahanan pangan pada keluarga. Adanya tambang emas sejak tahun 1990-an juga mengurangi luasan hutan yang menyebabkan mereka kehilangan sumber alam hutan, dan kini bercocok tanam makin terbatas yaitu di kebunnya sendiri. Suku Pagu juga mengalami keterdesakan dari program pemerintah, yaitu transmigrasi lokal dari Pulau Makian yang kemudian menggeser pemukiman dan kebun mereka. Setelah ruang hidupnya digeser, mereka pun diberi stigma "primitif". Artinya ada dua hal yang terjadi, yaitu hilangnya ruang hidup dan masalah identitas. Bagaimana keterdesakan ruang hidup ini mempengaruhi kehidupan warga, dan bagaimana perempuan bertahan dengan seluruh perubahan-perubahan tersebut.

Masalah yang Diangkat

Adapun masalah utama yang hendak diangkat dalam perjalanan ini adalah bagaimana perubahan ruang hidup yang merupakan sumber pangan mempengaruhi kehidupan perempuan masyarakat adat Pagu. Lalu bagaimana mereka mensiasati persoalan ini dalam kehidupan sehari-harinya.

Indikator Sukses

Perempuan Pagu dapat mengekspresikan persoalannya melalui talenta yang dimilikinya, dalam hal ini melalui nyanyian. Perempuan Pagu semakin memiliki kepercayaan diri untuk mengemukakan pendapatnya dalam forum publik Perempuan Pagu semakin percaya bahwa pengolahan pangan lokal lebih baik untuk kesehatan keluarga Perempuan Pagu semakin sadar akan persoalan yang dihadapinya seputar ruang hidup dan mau menjaga apa yang dimilikinya.

Lokasi

Desa Sosol, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara

Dana yang Dibutuhkan

Rp.150 Juta

Durasi Proyek

5 bulan