Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

391 - Perempuan Perkasa-Kesetraan gender pada budaya suku Korowai


Nama Inisiator

Rhidian Yasminta Wasaraka

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

15 tahun

Contoh Karya

Situs Web

http://dianyasmin.blogspot.co.id/

Media Sosial

https://web.facebook.com/dian.y.wasaraka/photos_albums?lst=1607540965%3A1607540965%3A1520042786

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan lanjutan dari penelitian saya sebelumnya tentang "makna rumah dalam padangan suku bangsa Korowai", sebuah suku dipedalama Papua yang memiliki kemampuan membangun rumah diatas kanopi pohon yang tinggi, hasil penelitian saya tersebut mengindikasikan bahwa meskipun menganut budaya patriarki, namun suku ini telah mempraktekan budaya kesetaraan gender sejak dulu, tak heran bila di Korowai akan kita jumpai dirumah mereka, letak tungku laki-laki dan perempuan yang sejajar,atau pemandangan seorang ayah yang mengasuh bayi bila sang ibu sibuk atau lelah. Proyek ini akan membedah lebih dalam tentang bagaimana sebenarnya suku ini memandang peran perempuan dalam keseharian mereka. Bukan hanya masalah pembagian dalam tugas rumah tangga tapi juga dalam kepemimpinan dan unsur-unsur budaya yang lain, yang membuat mereka menjadi begitu menarik untuk dikaji dan diteliti Proyek ini juga bisa menjadi semacam bukti baru yang membantah strotipe tentang budaya Papua yang disangka selalu mendiskriditkan perempuan, sekaligus menjadi penting agar para pengusaha, pemerintah dan siapapun yang akan membangun di Korowai bisa bijaksana melihat peran perempuan didalam sistem masyarakat, dan bukan dengan gampang berkata "kami sudah bicara dengan kepala suku..." dan lalu tanah adat berpindah tangan menjadi milik perusahanan tambang, perkebun kelapa sawit dan logging.

Latar Belakang Proyek

Suku Korowai adalah suku yang tinggal dipedalaman Papua, wilayahnya ada dalam 4 kabupaten di Provinsi Papua. mereka terkenal didunia karena kemampuannya membangun rumah diatas pohon dengan alat-alat sederhana. meskipun sudah banyak publikasi yang dilakukan oleh sejumlah TV dalam dan luar negeri tentang suku Korowai namun penelitian tentang budaya mereka masih sangat minim, Namun hal menarik tentang Korowai bukan hanya tentang rumahnya yang diatas pohon, atau stigma tentang stigma telanjang, terbelakang dan kisah-kisah kanibalism yang banyak beredar diinternet. suku Korowai ternyata suku yang sangat menghormati posisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Equality atau kesetaraan adalah nilai utama dalam sistem masyarakat ini. Mempelajari budaya mereka akan membawa kita pada sebuah pemahaman baru tentang konsep dan praktek gender yang sangat maju

Masalah yang Diangkat

Wilayah adat suku Korowai saat ini tenga di kepung proyek investasi perkebunan kelapa sawit, tambang emas, jalan trans Papua dan banyak proyek-proyek lain yang mengatas namakan pembangunan dan kemajuan. Dan saat ini perempuan-perempuan Korowai berjuang keras mempertahankan hak dan keberadaan mereka dari gempuran "modernisasi" yang justru menjadi palu godam raksasa yang yang hancurkan tatanan sosial mereka. pikiran licik harap gampang alias mau enaknya saja telah membuat beberapa pengambil kebijakan dan investor lalu berujar " kami sudah bicara dengan kepala suku" sebagai legitimasi untuk pengambil alihan lahan dalam waktu singkat. tanpa mau bertanya pada kaum perempuan yang sejatinya memiliki posisi sejajar dengan pria. Karenanya proyek ini diharapkan mampu mempelajari dan mengangkat peran perempuan di Korowai akan menjadi pintu pertahanan secara budaya bagi lingkungan dan ruang hidup mereka

Indikator Sukses

1. Terdapat sejumlah data tentang peran perempuan Korowai dalam kehidupan sehari-hari di kaji dari tujuh unsur budaya 2. Terdapat sejumlah foto dari aktivitas perempuan Korowai dalam kehidupan sehari-hari 3. Terdapat publikasi berupa seminar, pameran photo, buku, publikasi di media sosial, youtube dan website yang digunakan untuk mempublikasikan hasil penelitian tentang suku Korowai, diharapkan kegiatan publikasi ini akan menjadi pintu gerbang bagi siapa saja yang ingin mengakses data-data hasil penelitian dari proyek ini

Lokasi

Papua/ kabupaten Boven Diegul

Dana yang Dibutuhkan

Rp.367 Juta

Durasi Proyek

9 bulan