Anda berada di mode pratinjau.
| | |
Kabar Terbaru

Penerima Hibah

Lia Anggia Nasution


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

penelitian

Pengalaman Berkarya

10 tahun

Situs Web

www.jurnalisperempuan.com

Media Sosial

@forumjurnalisperempuan

Catatan Juri


Dana yang diturunkan: Rp.20 Juta

Jejak keberadaan dan kontribusi perempuan jurnalis Sumatera Utara sejak masa pergerakan kemerdekaan belum terdokumentasi dengan baik. Forum inkubator ditawarkan kepada penggagas untuk mempertajam kerangka riset yang mampu memperdalam pemahaman mengenai isu-isu utama yang digeluti perempuan jurnalis pada periode 1900-1950-an.

Proyek


No. Formulir

365

Judul Proyek

Penelitian Sejarah Pers Perempuan Sumatera Utara

Lokasi Proyek

Provinsi Sumatera Utara

Deskripsi Proyek

Penelitian ini akan menggali sejarah dan jejak keberadaan jurnalis perempuan di Sumatera Utara. Sebab, diketahui tahun 1919 di Sumatera Utara telah berdiri surat kabar Perempuan Bergerak" ÿang dididirikan dan digerakkan oleh perempuan. Konten berita juga terkait isu-isu perempuan. Tak hanya surat kabar "Perempuan Bergerak", setelahnya juga muncul media perempuan lainnya di Sumatera Utara. Adapun surat kabar dan majalah yang teridentifikasi yakni Perempuan Bergerak (Medan, 1919-1920), Parsaoelian Ni Soripada (Tarutung , 1927), Soeara Iboe (Sibolga, 1932) Beta (Tarutung, 1933), Keoetamaan Istri (Medan, 1937-1941), Menara Poetri (Medan, 1938), Boroe Tapanoeli (Padang Sidempuan, 1940) Dunia Wanita (Medan, 1949-1980 an) dan tahun 1951 terbit majalah Melati yang dipelopori oleh Julia Hutabarat dan tabloid ini lahir di Tarutung. (sumber ; Roemah Sedjarah Ichwan Azhari)

Kategori

riset_kajian_kuratorial

Latar Belakang Proyek

Berita dan artikel yang dimuat dari media perempuan ketika itu lebih menekankan upaya untuk memperbaiki nasib perempuan. Mengkritisi peran perempuan yang dominan di sektor domestik,pendidikan perempuan, dsb. Bisa dilihat dari Perempuan Bergerak yang bersemboyan ‘Untuk menyokong pergerakan perempuan’. Koran perempuan bergerak ini dianggap radikal ketika itu dan tidak ditemukan di Jawa. Meskipun Pemrednya adalah lelaki yakni Parada Harahap. Tapi susunan redaksinya perempuan, Siti Sahara, Butet Sahjiah dan CH Bariah. Sementara koran Boroe Tapanoeli digawangi sembilan perempuan dan dipimpin oleh Awan Chadidjah Siregar. Semboyan Boroe Tapanoeli : “mempertinggi deradjat kaoem poteri dengan berdasarkan kebangsaan, tetapi tiada mentjampoeri politiek.” Dibandingkan dengan media perempuan saat ini, kontennya mengalami kemorosotan isu yang tujuannya jauh dari isu perbaikan kualitas hidup perempuan. Ini sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis apa penyebab kemerosotan ini.

Masalah yang Diangkat

Perbedaan konten berita media perempuan di awal abad 20 dengan awal abad 21 di Sumatera Utara perlu mendapat perhatian bagi jurnalis perempuan saat ini. Kepekaan terhadap isu-isu perempuan terutama ketimpangan dan ketidakadilan gender yang terjadi hingga saat ini di masyarakat, masih kurang. Padahal produk hukum saat ini sudah lebih baik melindungi kepentingan perempuan, meskipun hal itu belum menjamin jurnalis perempuan bebas dari sejumlah kekerasan berbasis gender . Selain itu jurnalis perempuan masih mengalami ketimpangan gender dalam jabatan-jabatan strategis pada perusahaan media.

Durasi Proyek

6 bulan

Indikator Sukses

Terbitnya buku Sejarah Pers Perempuan Sumatera Utara. Buku ini akan menjadi bahan diskusi dan referensi pembelajaran jurnalistik di ruang-ruang belajar tentang media.

Dana Hibah

Rp.100 Juta

Selamat Kepada Penerima Hibah