Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

337 - Pengembangan Tenun Ikat Pewarna Alam Belu


Nama Inisiator

SHINTA ULI PASARIBU

Bidang Seni

kriya

Pengalaman

3 Tahun

Contoh Karya

Noesa_Catalogue_2018.pdf

Situs Web

www.noesa.co.id

Media Sosial

@noesa.satu (instagram) dan Noesa (Facebook FanPage)

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Saya tergabung bersama 2 partner saya dalam NOESA. Sebuah studio yang saat ini berfokus pada fashion aksesoris mengangkat tenun ikat pewarna alam Maumere, dimana saat ini kami berkolaborasi dengan kelompok tenun generasi muda, Watubo. Selain mengeluarkan produk, kami juga menjalani riset tentang seni dan kebudayaan Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Berdasarkan hal tersebut, kami pun tertarik mengangkat Tenun Ikat Belu, yang pada nantinya harapan kami bisa bersama rekan-rekan kelompok di Belu, belajar, mencari dan mengembangkan pewarna alam itu sendiri, mengenal kembali teknik dan motif-motif sejarah peninggalan nenek moyang, dan terutama, mengajak generasi muda di Belu untuk mau dan ikut berpartisipasi akan keberlangsungan budaya yang kaya dari Indonesia.

Latar Belakang Proyek

Kami mengenal Belu dimulai dari keanggotaan kami di Warlami (Perkumpulan Pewarna Alam Indonesia) yang mengadakan kunjungan ke Belu. Disana, kami jatuh cinta dengan teknik tenun ikat belu (Buna dan Sotis), yang menurut kacamata kami, masih sangat bisa untuk dieksplorasi lebih dalam. Disana, kami pun melihat potensi dari rekan-rekan kelompok yang antusias dengan pewarnaan alam. Kami pun berkenalan dengan beberapa anak muda yang masih belajar dan tertarik dengan tenun. Dari rasa jatuh cinta dan melihat antusiasme, nilai budaya dan potensi yang ada, kami pun rindu untuk bersama maju dan memperkenalkan kain Belu khususnya kepada generasi muda di ibukota. Lantas, kenapa kami membutuhkan waktu yang cukup lama, karena kami memiliki pengalaman sebelumnya bersama dengan kelompok Watubo sekitar hampir 1 tahun. Begitu pun di Belu, kami membutuhkan penyesuaian dan pendekatan terhadap masyarakat, adat dan lingkungan sekitar.

Masalah yang Diangkat

Kain Belu sangat cantik dan indah, namun tidak lagi menggunakan pewarna alam. Selain faktor ekonomi, keterbatasan akan bahan baku juga menjadi alasan mengapa pewarna alam ditinggalkan. Saat ini pun menenun pun bukan lagi menjadi mata pencaharian utama masyarakat Belu. Selain itu, minimnya pemahaman dan informasi yang mereka ketahui tentang motif sejarah juga menjadi penting. Juga, banyak anak muda yang juga sudah tidak tetarik menenun, dan menganggap menenun tidak dapat menjadi salah satu mata pencaharian. Padahal kita butuh generasi muda untuk bangga dan semangat meneruskan budaya. Inilah yang menjadi dasar saya dan teman-teman ingin mengangkat dan memajukan tenun ikat Belu.

Indikator Sukses

Harapan kami rekan-rekan di Belu kembali konsisten menggunakan pewarna alam, dengan pemahaman yang sangat baik, kualitas yang sangat baik (tidak luntur, dsb) dan kaya akan warna serta motif. Tentunya, kami berharap adanya pengembangkan kemampuan dengan terbentuknya kolaborasi antara Noesa dengan rekan-rekan kelompok di Belu, dan lahirnya aneka macam produk hasil dari kolaborasi ini. Semua tidak lepas dari rekan-rekan di Belu dimana kami berharap bisa menerapkan sistem kerja yg lebih baik, serta pola kerja yang baik juga tentunya. Dan besar harapan kami, bisa terlaksana suatu acara / event di Jakarta dimana kami bisa memperkenalkan rekan-rekan dari Belu serta budaya, produk dan hasil karya mereka.

Lokasi

Belu, Atambua, Kupang, NTT

Dana yang Dibutuhkan

Rp.500 Juta

Durasi Proyek

9 bulan