Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

246 - Mengungkap Nama Tujuh Gunung Tertinggi Indonesia


Nama Inisiator

Nabillah Djindan

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

10 tahun

Contoh Karya

DRAFT TOPONIMI TERBARU - REVISI PART 5.pdf

Situs Web

http://campladean.wixsite.com/home

Media Sosial

IG : nabillahdjindan FB : Nabillah Djindan

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Indonesia adalah negara kepulauan yang banyak sekali terdapat gunung-gunung, baik gunung berapi dan bukan gunung berapi. Gunung-gunung tersebut tersebar di pulau-pulau Indonesia dengan rentang ketinggian mulai dari 1.000 hingga 4.000 meter dari permukaan laut (Mdpl). Di Indonesia sendiri adanya konsep “The Seven Summits of Indonesia” atau “Tujuh Puncak Gunung Tertinggi Indonesia” yang terdapat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, kepulauan Maluku dan Pulau Lombok. Ketujuh gunung tersebut masing-masing memiliki nama dari perjalanan latar belakang mitos, legenda, cerita rakyat, hingga sejarah yang panjang. Untuk penamaan sendiri dikenal dengan istilah Toponimi dari “toponym” yang dalam bahasa Inggris kadang-kadang disebut sebagai “geographical names” (nama geografis) atau “place names”. Singkatnya Toponimi merupakan ilmu yang mempunyai obyek studi tentang toponim (nama rupa bumi) pada umumnya dan tentang nama geografis khususnya. Penelitian ini berkaitan dengan Disertasi yang sementara saya fokuskan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia berjudul “Penelusuran Toponimi Tujuh Gunung Tertinggi Indonesia” didokumentasikan menjadi sebuah buku ilmiah dengan metode deskriptif kualitatif pada penelusuran di balik penamaan tujuh gunung tertinggi di Indonesia yang terdapat pada mitos, legenda, cerita rakyat, dan sejarah sebagai alat ukurnya dengan jumlah total lokasi penelitian sebanyak 56 titik penelitian pada tiap kaki gunung.

Latar Belakang Proyek

Masuk pada abad ke-21 gunung di Indonesia menjadi destinasi wisata domestik maupun mancanegara untuk sekedar berlibur atau melakukan ekspedisi pendakian dengan garapan yang serius. Pendaki perempuan Indonesia hanya segelintir saja yang telah menyelesaikan pendakian “The Seven Summits of Indonesia”, itu pun tanpa menorehkan karya berupa tulisan mengenai sejarah dan kebudayaan masyarakat yang berada di sekitaran kaki gunung, kalaupun ada sudah tentu karya mereka lebih pada penekanan pengalaman pribadi yang tidak ilmiah dan itu sangatlah menyulitkan peneliti untuk mencari bahan acuan dalam hal studi dan pada akhirnya peneliti harus turun di lapangan untuk menggali semua informasi mengapa gunung itu dinamakan demikian? Gunung tersebut antara lain, Kerinci 3.805 mdpl, Semeru 3.676 mdpl, Bukit Ra 2.278 mdpl, Latimojong 3.478 mdpl, Binaya 3.027 mdpl Rinjani 3.725 mdpl, dan Carstensz Pyramid 4.884 mdpl. Kenapa harus sejarah penamaan gunung dan mengapa gunung tersebut dinamakan demikian yang diangkat? Jawabannya di Indonesia sendiri belum ada yang mengangkat penelitian yang tengah saya fokuskan terhadap Disertasi. Ini adalah upaya pemertahanan maupun konservasi bahasa, sejarah, dan kebudayaan lokal yang patut diberikan dukungan menjadi sebuah buku ilmiah yang mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara.

Masalah yang Diangkat

Jika di Indonesia sendiri baik itu perempuan bahkan laki-laki sekalipun yang sering menorehkan prestasi mereka menggapai puncak-puncak gunung tertinggi baik itu di Indonesia maupun gunung tertinggi di Dunia, namun bisa dibuktikan hingga pada saat ini belum ada sama sekali yang mengabadikan betapa pentingnya makna dibalik nama gunung berdasarkan bahasa-bahasa lokal yang sangat kaya untuk diabadikan. Di balik itu semua, kesadaran saya sebagai perempuan Indonesia yang terjun dalam dunia pendakian sejak 2011 benar-benar memfokuskan diri hingga pada titik keyakinan bahwa sebuah karya digarap bukan untuk main-main. Benar dunia pendakian didominasi oleh laki-laki yang memiliki fisik kuat, namun pada beberapa survei ekspedisi saya yang telah menyelesaikan ekspedisi 6 gunung menarik diri untuk kembali mengabadikan pola pikir seperti apa yang ada di dalam pikiran manusia hingga mereka menamakan gunung tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya? Pada momen apa nama gunung itu digunakan? Apakah gunung menjadi sebuah ideologi? Jika benar, seperti apa sejarah maupun mitos dan kearifan yang dimunculkan? Pada tiap gunung tidak hanya memiliki satu nama, pada puncak gunung memiliki nama tersendiri dan bagaimana sejarah dibalik itu semua? Itulah sebenar-benarnya masalah yang perlu diangkat dan yang terjadi pada budaya masyarakat itu sendiri.

Indikator Sukses

Hal utama yang harus diperhatikan sebelum mencapai kesuksesan adalah kontribusi, yaitu hasil luaran buku karya ilmiah ini adalah diharapkan dapat menjadi informasi meliputi Toponimi Tujuh Gunung Tertinggi Indonesia secara umum bagi masyarakat luas maupun para akademisi, komunitas penggiat alam bebas atau organisasi-organisasi pecinta alam yang sangat besar di Indonesia, untuk Badan dan Balai Bahasa di tiap daerah, kepada Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Balai Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Balai Taman Nasional Manusela, Taman Nasional Lorentz yang turut memberikan informasi serta kolaborasi kerjasama pendataan dan khususnya untuk lembaga resmi di Indonesia yang berkaitan dengan toponimi, yaitu Badan Informasi Geospasial (BIG) dan tidak lepas pula berkontribusi untuk Museum Geologi Bandung sebagai informasi pemetaan ekspedisi, serta masih banyak lagi. Kontribusi tersebut adalah menuju pintu kesuksesan, dimana karya ini menjadi bahan acuan dari seluruh pihak yang telah terlibat bekerjasama mendokumentasikan penamaan gunung berdasarkan sejarah dan kebudayaan Indonesia yang patut dilestarikan. Nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang telah didokumentasikan secara tertulis diharapkan menjadi penyemangat generasi muda khususnya perempuan Indonesia dan membuktikan bahwa perempuan mampu berjuang mengelili Indonesia untuk mengabadikan “harta karun” yang hampir punah.

Lokasi

Sumatra Barat, Jawa Timur , Kalimantan Tengah , Sulawesi Selatan, Pulau Seram, Lombok, Papua

Dana yang Dibutuhkan

Rp.175 Juta

Durasi Proyek

7 bulan