Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1277 - Proyek 59


Nama Inisiator

STEPHANY

Bidang Seni

kriya

Pengalaman

10 tahun

Contoh Karya

Screen Shot 2018-03-25 at 10.55.51 PM.png

Situs Web

www.yayasung.com

Media Sosial

@yayasung_

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Di dalam Proyek 59, saya ingin menghadirkan bentuk-bentuk baru yang berbasis dari sebuah majalah terbitan tahun 1959, bernama Api Kartini di dalam sebuah brand bernama “59”. Brand ini digunakan sebagai jembatan untuk bercerita tentang sejarah gerakan perempuan di Indonesia tahun 50an. Pendekatan budaya pop dan skema kapitalisme digunakan menjadi strategi utama dari proyek ini. Hasil akhir dari proyek ini adalah sebuah launching concept pop-up store dan pameran yang berlokasi di Jakarta secara offline dan juga didukung lewat online store. Produk-produk yang dihasilkan oleh brand ini berupa pakaian, perhiasan, dan merchandise keseharian. Produk dan pameran karya yang akan diluncurkan pada acara ini adalah produk dan karya yang berbasis dari majalah Api Kartini. Aplikasi desain grafis, materi cerita, gambar, dan karya foto akan diambil atau terinspirasi dari majalah tersebut. Beberapa jalur media juga akan digunakan sehingga perlu adanya kolaborasi dan kerja sama dengan 1 videografer, 1 fashion desainer, 1 produk desainer, 1 web desainer, dan 1 produser musik. 3 tokoh feminis juga akan dipilih sebagai brand ambassador dari “59”. Tujuan utama dari kolaborasi-kolaborasi tersebut tentu saja untuk merentangkan gaung dari majalah Api Kartini sebesar-besarnya agar cerita sejarah dari gerakan feminisme di Indonesia dapat sampai lintas generasi

Latar Belakang Proyek

Gagasan berawal dari pertanyaan: “Bagaimana cara menghadirkan kembali sebuah fakta sejarah tentang gerakan perempuan Indonesia dengan cara yang relevan dengan zaman/masa sekarang?” Sering saya merasa kesulitan dalam menciptakan sebuah karya yang berbasis dari riset sejarah. Bahasa visual seperti apa yang harus saya pilih, agar cerita sejarah yang saya temukan bisa menarik / menyulut rasa keingintahuan dari audiens? Bagaimana agar presentasi cerita-cerita dalam sejarah tidak membosankan atau “out-of-date”? Proyek “59” merupakan sebuah upaya untuk menghadirkan kembali cerita, materi desain grafis, dan foto yang ada pada sebuah majalah berjudul Api Kartini yang pertama kali terbit tahun 1959 dalam bentuk-bentuk baru. Pendekatan dengan budaya pop dan skema kapitalisme digunakan secara sadar sebagai sebuah strategi yang ampuh untuk memberikan nafas baru untuk majalah terbitan tahun 50-an ini. Mengapa Kapitalisme? Konsep kepemilikan, tukar-menukar (barang dengan barang atau barang dengan uang) atau dagang sangat dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Strategi ini juga cukup tepat untuk direalisasikan di ibu kota Jakarta. Angka “59” dari judul proyek ini juga sebagai penanda telah 59 tahun umur majalah Api Kartini di tahun 2018.

Masalah yang Diangkat

Masalah utama yang ingin diangkat adalah miskonsepsi dari kata “Gerwani”. Kontras fakta antara lembaran sejarah yang saya pelajari dalam riset buku, artikel, wawancara, dan terutama majalah Api Kartini dengan sejarah versi orde-baru tentang Gerwani bertolak belakang 180 derajat. Temuan-temuan baru ini memberikan api semangat kepada saya untuk menghadirkan narasi baru ini ke ruang publik. Gerwani hidup dan jaya pada masa setelah kemerdekaan hingga menjelang tahun 1966. Lalu apa urgensi/pentingnya berbicara tentang Gerwani saat ini? Berbicara tentang Gerwani berarti berbicara tentang: Perempuan, Pembangunan, Ketidaksetaraan gender, Politik-Sosial-Ekonomi, Fitnah, Pembungkaman, Kekerasan Seksual, Penghilangan Paksa, Genosida, dan Keadilan atas seluruh perempuan di Indonesia. Bagaimana bisa mengurai satu dari runutan persoalan diatas, apabila mengucapkan kata “Gerwani” masih sangat tabu hingga sekarang? Selama 32 tahun kita dibutakan, ditempa oleh narasi satu arah, dipisahkan oleh jurang besar antara sejarah perjuangan perempuan di Indonesia. Perlu ada upaya dan bentuk-bentuk baru yang mewakili narasi-narasi alternatif dalam sejarah. Saya sepenuhnya percaya, gerakan feminisme di Indonesia akan berkembang lebih progresif ketika kita secara bebas memiliki akses dan edukasi tentang langkah Gerwani dalam sejarah. Saya berharap kita akan segera sampai ke masa waktu dimana cap/remark “Gerwani” sudah tidak lagi digunakan untuk menjatuhkan kredibilitas perempuan.

Indikator Sukses

Indikator sukses dari proyek 59 ini adalah proses kolaborasi yang lancar antar kolaborator, launching pop-up store online dan offline yang tepat waktu dan liputan dari berbagai media baik cetak dan online

Lokasi

DKI Jakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.275 Juta

Durasi Proyek

9 bulan