Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1250 - Perjalanan Perempuan


Nama Inisiator

AMANDA PARAMITHA SUHARNOKO

Bidang Seni

audiovisual

Pengalaman

3 TAHUN

Contoh Karya

Situs Web

https://www.instagram.com/p/BbYYtZknpcZ/?hl=id&taken-by=amandapsone

Media Sosial

instagram : @amandapsone

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Sebuah projek film Independent kolaborasi antara pegiat film perempuan yang tergabung dalam komunitas ruang film bandung berinisiatif membuat 3 film fiksi pendek masing – masing berdurasi 15 menit dengan kesamaan tema cerita namun dengan subjek dan fokus cerita yang berbeda. Tema yang diangkat adalah POST TRAUMA PERCERAIAN DAN KEKERASAN dari perspektif perempuan sebagai korban yang terkena dampak psikologis dan tekanan sosial yang mempengaruhi perjalanan hidupnya. Para tokoh perempuan pemeran utama film ini berinisiatif melakukan upaya untuk keluar dari kegelisahannya akanpertanyaan – pertanyaan yang terbenam dalam benaknya agar bisa hidup lebih baik. Kami 3 orang penggagas projek, yang akan berperan sebagai Produser, Penulis dan Sutradara projek film ini, sudah 3 tahun terjun di ruang lingkup perfilman baik di Industri maupun komunitas karena memang memiliki passion di bidang film dan memilih film sebagai medium ekspresi untuk menyuarakan gagasan dan perasaan kami. Melalui karya ini, kami ingin merespon ruang dan isu di sekitar dan pertama kalinya memberanikan diri untuk merespon diri sendiri daripengalaman personal yang dialami sepanjang proses kehidupan kami. Proses pengolahan konten projek ini sendiri menjadi proses pencarian identitas dan nilai – nilai yang selama ini kami pertanyakan. Sebuah proses berkarya yang menjadi proses pendewasaan kami sebagai perempuan.

Latar Belakang Proyek

berawal dari keresahan kami sebagai penggiat film perempuan yang merasakan akan adanya batasan akses untuk perempuan yang seringkali tidak diberi kesempatan dan keleluasaan untuk mencurahkan ekspresi dan kontribusi perannya dalam pengkaryaan film karena tuntutan pekerjaannya yang cenderung bersifat maskulinitas. Realita yang ada di kota kami, sangat sulit sekali mencari perempuan pekerja maupun penggiat film yang berperan inti dalam sebuah proses produksi film seperti bagian Penulis, Sutradara, DOP, Artistik, Sound, Editor, dan lainnya. Para perempuan yang ada pun lebih terlibat dalam pengelolaan manajerial sebuah produksi, bukan berkontribusi dengan pengolahan konten film padahal banyak perempuan yang sebenarnya memiliki kemampuan namun sulit mendapatkan kesempatan. Akhirnya film yg selama ini ada, mayoritas berkonten cerita dengan rasa dan pemahaman nilai dari perspektif lelaki. Banyak film dengan tokoh utama perempuan tapi bukan film tentang perempuan dari rasa dan perspektif perempuan sesungguhnya. Untuk itu, melalui projek perdana ini sebagai wadah ekspresi, kami ingin mengajak dan memicu para perempuan yg selama ini kurang mendapatkan kesempatan dan sungguh berkeinginan belajar menguasai bidang film,untuk berani berkarya mengeluarkan gagasan dan mengerahkan kemampuannya yang terpendam dengan percaya diri,sama – sama terus belajar dan bekerjasama sebagai tim produksi film.Targetnya projek ini diadakan setiap tahunnya yang terus melahirkan generasi perempuan untuk berani berkarya.

Masalah yang Diangkat

Film pertama berjudul TANYA, bercerita tentang Ayu (25) perempuan karir pekerja film yang menjadi tulang punggung keluarganya, belum menikah karena tidak percaya dengan pernikahan akibat traumatis dari perceraian orang tuanya. Saat menginjak usia sakral 25 tahun bagi seorang perempuan untuk menikah di daerahnya, ia mencoba melakukan perjalanan mencari jawaban akan esensi pernikahan sesungguhnya dengan mewawancari pasangan – pasangan suami istri yang sebelumnya tidak percaya menjadi percaya untuk menikah. Film kedua berjudul SANTIR, mengangkat kisah Pholos (22) perempuan yang dekat dengan anak – anak menjadi narahubung antara anak – anak yang sulit menyampaikan sesuatu, menjadi jalan keluarnya untuk berusaha keluar dari traumatic pelecehan seksual yang dialaminya sewaktu kecil. Film ketiga berjudul LEMAH CAI, berkisah tentang Wening (30) perempuan yang baru bercerai dan kehilangan hak asuh anak, melakukan perjalanan pulang kampung setelah belasan tahun meninggalkan kampung halamannya untuk menikah dengan warga negara asing. Betapa kecewanya ia menemukan kampung halaman lamanya telah terendam air dalam waduk Jatigede. Di kampung halamannya, ia melakukan perjalanan menemukan keluarganya untuk mencari pencerahan akan arti kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan ini.

Indikator Sukses

3 Film ini akan diputar secara kolektif di ruang – ruang publik pemutaran dimana harapan kami masyarakat yang akan menonton film ini dengan penonton dari beragam latar belakang untuk bersama – sama menyaksikan dan mendapatkan nilai dari film tersebut untuk pengetahuan dan proses pendewasaan pencarian nilai kehidupan bagi perjalanan kehidupan mereka. Khususnya untuk para pelaku yang memiliki pengalaman serupa dengan cerita film agar menyadari nilai – nilai yang salah dari peristiwa perceraian. Untuk pertama, film ini akan ditayangkan perdana di Venue salah satu bioskop di kota Bandung selama beberapa hari yang memang menerima karya – karya film independent. Kemudian, film akan diikutsertakan dalam acara – acara aktivis dan pihak – pihak terkait lainnya yang berkaitan dengan issue film sebagai bahan diskusi. Lalu film akan diikut sertakan dalam festival – festival film dan program – program yang diadakan komunitas film maupun komunitas seni lainnya. Selama adanya penayangan film ini di ruang – ruang publik, kami akan mempersiapkan merchandise dari film kami untuk ditawarkan kepada penonton berikut hasil penjualan tiket perdana film yang akan disimpan untuk tabungan dana produksi projek kolaborasi lanjutankedua yang akan diadakan tahun depan dengan tim produksi film yang berbeda namun tetap dengan konsep projek yang melibatkan perempuan.

Lokasi

Kota Bandung, Jawa Barat

Dana yang Dibutuhkan

Rp.150 Juta

Durasi Proyek

5 bulan