Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1175 - TORTOR NI SI BORU


Nama Inisiator

KORRY PAROMA PANJAITAN

Bidang Seni

seni_pertunjukan

Pengalaman

5 tahun

Contoh Karya

IMG_8988.jpg

Situs Web

Media Sosial

corry paroma pandjaitan

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

TORTOR NISI BORU (Tarian Perempuan) adalah merupakan kumpulan kisah tentang perempuan batak yang tidak mendapatkan tempat yang sama dengan laki-laki dalam adat istiadat. Perempuan nyaris tak punya suara dalam pembicaraan apalagi dalam mengambil keputusan. Untuk setiap kata yang tak terucap hanya tersimpan dalam hati dan pikiran. Saat kata tak bermakna, lahirlah satu keberanian untuk berekspresi dalam bentuk lain. Mengekspresikan jiwa sebagai bentuk perlawanan atas ruang gerak yang terpenjara dan suara yang tak bermakna. Larutkan kesedihan dan ketidakadilan dalam TORTOR (tarian). Proyek ini adalah kesempatan berkarya dengan menampilkan perempuan menari mengikuti alunan musik tradisional batak (uning-uningan). Mengungkapkan rasa, hasrat, pikiran dan emosi yang terbatas oleh adat istiadat. Proyek ini akan menampilkan tarian yang secara keseluruhan terkait tentang kisah perempuan. Proyek ini juga bertujuan agar dapat mengangkat kembali kisah-kisah tersembunyi itu untuk dipertunjukkan secara regular setiap minggu. Disamping itu juga proyek ini dapat bersinergi dengan pemerintahan di sektor pariwisata sebagai upaya mengisi ruang kosong atraksi seni budaya. Atraksi yang diharapkan dapat memberi nilai tambah dari pesona alam KALDERA TOBA. Pesan moral disampaikan melalui tarian kepada para penonton untuk memaknai setiap pertunjukan.

Latar Belakang Proyek

Rumah Seni Dolok Sipiak (saya sebagai pendiri) adalah sanggar yang didirikan untuk memberdayakan para wanita dan melatih anak-anak dalam kegiatan seni budaya. Banyak tantangan yang dihadapi tapi kami tetap berjalan, berlatih dan melakukan ragam kegiatan sederhana yang kami mampu. Ada kalanya kami diundang tampil dalam pertunjukan, tapi kami lebih sering melakukan kegiatan sendiri. Kesulitan dan rintangan yang kami hadapi mendorong kami untuk membuat karya seni yang bermakna melalui tarian. Tarian yang kami tunjukkan sebagai tanda kesedihan namun penuh harapan. Kami berharap bisa membuka mata setiap orang dan kami sampaikan melalui karya seni tari dengan mengikuti aturan adat istiadat yang masih dipegang. Melalui tarian kami bisa bicara. Akan tetapi untuk pertunjukan yang berkesinambungan, butuh pengelolaan dana yg lebih baik. Oleh karena itu kami berniat untuk membuat pertunjukan regular, dengan cara mengangkat kisah-kisah perempuan batak dalam tarian. Seperti kisah si boru tumbaga tentang perempuan yang tidak punya saudara laki-laki, boru deak parujar tentang perempuan yang dipaksa menikah, si boru nasomarhamulion tentang perempuan yang tidak menikah dianggap aib, pangurason tentang perempuan dan sawan. Hal itulah yang mendorong kami ingin mendapatkan hibahcipta media untuk membantu financial biaya pertunjukan yang akan kami tampilkan regular. Kami ingin suara perempuan batak didengarkan yang disampaikan melalui tarian.

Masalah yang Diangkat

Banyak kisah perempuan batak yang tidak terlihat tapi terasa dalam kesedihan. Ruang gerak yang terbatas dan suaranya tak bermakna. Terlebih bagi mereka perempuan batak yang tak menikah. Tak punya peran dalan adat istiadat, sehebat apapun dia. Predikat menikah bagi perempuan itu sangatlah menentukan status dalam suatu keluarga. Terasa sekali diskriminasi itu. Tapi tak ada kekuatan yang bisa menolak adat yang berlaku. Melalui project ini kami ingin sampaikan bahwa perempuan tak menikah pun bisa berarti dan berharga. Saya dan rekan penari lainnya juga wanita yang tidak menikah. Seringkali kami mendapatkan perlakukan tak baik. Perlakukan yang mengatakan bahwa kami sebagai penari yang tidak pantas dipertunjukkan karena dianggap tidak tahu menahu tentang habatahon (adat istiadat batak). Tidak paham tata cara manortor (menari). Perlakuan inilah yang ingin saya lawan, bahwa kami perempuan terlebih yang tidak menikah bisa belajar adat istiadat dan kami tunjukkan itu dalam tortor (tarian) kami. Pertunjukan yang sudah kami tampilkan sebelumnya dapat memberikan nuansa berbeda. Aku melawan dalam kesedihan bukan dengan kebencian. karena seni adalah ketenangan jiwa yang bisa kita tularkan pada lingkungan sekitar. Alam semesta pun akan mendukung, karena rasa yang ditampilkan dapat menyentuh hati insan yang menyaksikannya. Tarian jiwa yang menyentuh.

Indikator Sukses

Pesan yang kami sampaikan melalui tarian dapat dipahami oleh penonton dan bisa menjadi renungan dalam memperlakukan perempuan. Perempuan adalah penyeimbang dan memiliki peran yang sangat berarti dalam kehidupan dan alam semesta. Perlawanan tak harus dalam kata tapi melalui karya cipta seni juga bisa berbicara. Perempuan harus diberdayakan, serta mampu menyuarakan isi hati dan pikiran melalui karyanya dan harus bisa mandiri.

Lokasi

Sumatra Utara

Dana yang Dibutuhkan

Rp.245 Juta

Durasi Proyek

7 bulan