Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1169 - Jangan Dikerasin, Mas


Nama Inisiator

Claudia

Bidang Seni

audiovisual

Pengalaman

3 tahun

Contoh Karya

20 years after.mp4

Situs Web

mondiblanc.org

Media Sosial

https://www.youtube.com/channel/UC1GOHkH2iPDi5xjKQjnrawg ; https://www.instagram.com/adrianne.claudia ; https://www.instagram.com/mondiblanc

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Kampanye anti-kekerasan seksual lewat serial youtube dalam bentuk vlog semidokumenter 10 episode (5-7 menit per episode). Bercerita tentang pelecehan hingga kekerasan seksual, dialami dan disaksikan seorang beauty vlogger perempuan yang meniti karier sebagai model. Serial youtube ini ditutup pentas teater. Pertama kolaborasi karya, antara karya media visual dengan seni pertunjukan teater bersama Ikhaputri Widiantini, dosen filsafat FIB UI, dimaksudkan agar batas antara yang fitkif dan yang nyata menjadi kabur, serta agar penggunaan kesenian, terutama seni teatar, sebagai medium pergerakan dapat terepresentasikan secara populer. Kedua, kolaborasi data dengan Lentera, Jurnal Perempuan dan Komnas Perempuan terkait riset untuk karya ini, dimaksudkan sebagai rujukan pondasi setting dan pembentukan narasi dalam wacana feminis, serta partner diskusi soal bentuk semiotik yang tepat untuk digunakan. Kampanye ini tidak menutup kemungkinan perluasan gerakan secara praktis di lapangan, seperti touring workshop teater dengan wacana terkait ke beberapa kampus di berbagai kota, atau gerakan-gerakan serupa lainnya dengan payung kampanye yang sama. Judul Jangan Dikerasin, Mas dimaksudkan untuk menarik pemirsa, bukan hanya dari kalangan feminis melek isu, melainkan juga pemirsa umum di masyarakat kita yang patriarkis. Dengan menawarkan judul yang kontroversial dan misoginis, konten yang dihadirkan nyeleneh dan berlawanan untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi pola pikir terkait gender.

Latar Belakang Proyek

Saya mengalami kekerasan seksual beberapa kali pada masa remaja dari orang terdekat. Ini membuat saya paham bahwa kekerasan seksual bisa jadi tidak dipandang sebagai suatu kecacatan etika bagi banyak orang. Pengalaman selama mereka hidup secara sosial, kultural, maupun personal bisa jadi ‘membenarkan’ kekerasan seksual. Ada perjalanan yang panjang dan rumit untuk memutus lingkaran setan ini agar tidak kembali dialami oleh anak cucu kita. Mengikuti gerakan masif lain seperti Women’s March, Indonesia Feminis, RKUHP Ngawur, Tubuhku Otoritasku, dan lain-lain, saya ingin menyertakan Jangan Dikerasin, Mas sebagai sebuah kampanye yang sublim dan inklusif dengan pendekatan budaya populer lewat platform youtube demi restrukturisasi pola pikir yang etis secara gender di kalangan anak muda. Namun, sebagai produser muda perempuan, saya butuh bekerja dua kali lipat untuk dapat dipercaya. Saya juga dituntut untuk waspada agar tidak dimanfaatkan secara seksual oleh pekerja kreatif laki-laki yang lebih senior. “Harus pintar-pintar lihat lingkungan mana yang bisa dimasuki dengan aman,” kata rekan laki-laki saya. Mengerikan: dari 100 film nasional, hanya 10% disutradarai operempuan; eksekutif perempuan di Hollywood hanya mewarnai 18% dari 250 film, sedangkan untuk kategori box office, hanya 9%. Oleh karena itu, saya membutuhkan bantuan Cipta Media ini untuk memungkinkan terwujudnya proyek ini.

Masalah yang Diangkat

Tahun 2016, anak perempuan berumur 14 tahun (YY) diperkosa 14 laki-laki hingga meregang nyawa. Isu kekerasan seksual sontak hangat dibicarakan, tetapi RUU Antikekerasan Seksual masih berkubang pada pasal-pasal karet yang ambigu. Bahkan, sekarang, RKUHP dengan pasal-pasal yang problematik, khususnya kesusilaan, yang justru makin menyudutkan para penyintas dan korban, lebih gencar digarap. Gerakan feminis nusantara semakin kompak dan partisipatoris, tetapi tetap banyak pihak kontra yang menyudutkan, meliputi cemoohan misoginis macam “Social Justice Warrior” dan “Feminazi” di dunia maya maupun nyata. Infiltrasi pemahaman belum berhasil menembus pihak yang gugup. Namun, lantangnya pergerakan ini berhasil mempertahankan isu di media. Dalam kasus ini, kesenian dapat menjadi medium terapi yang sublim dalam mendeteksi titik konflik alam bawah sadar kita dan meningkatkan pemahaman kita terhadap pemetaan emosi personal. Pemahaman atas sebuah pengalaman dan fenomena dapat diurai dengan komprehensif. Lebih jauh lagi, repetisi persepsi yang ditawarkan dapat menghasilkan perubahan kebiasaan yang cukup fundamental. Sebelumnya, sudah banyak gerakan feminis lewat karya seni, sebutlah Konser Dialita, Ode Tusuk Konde, Kampanye Tubuhku Otoritasku oleh Mari Jeung Rebut Kembali, Video Klip Hands Off oleh Yacko Oktaviana dan Mardials, dan sebagainya. Bentuk gerakan semacam ini menginspirasi saya dalam bidang manajemen produksi film independen untuk berpartisipasi lewat media visual populer.

Indikator Sukses

Harapan gerakan ini adalah dapat menjadi masif dan repetitif. Dengan menjadi masif, repetitif, dan populernya seni sebagai terapi dan penyebaran awareness anti-kekerasan seksual, jangka panjangnya diharapkan dapat membawa perubahan dalam masyarakat kita, paling tidak penerimaan isu yang lebih reseptif.

Lokasi

DKI Jakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.200 Juta

Durasi Proyek

9 bulan