Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pemohon Hibah

Sazkia Noor Anggraini


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

penelitian

Pengalaman Berkarya

10 tahun

Situs Web

https://www.linkedin.com/in/sazkia-noor-anggraini-6b137661/

Media Sosial

https://www.facebook.com/profile.php?id=648722366&ref=bookmarks / https://www.instagram.com/sazkiana/

Proyek


No. Formulir

1154

Judul Proyek

Pusparagam Dokumenter Perempuan indonesia

Lokasi Proyek

DI Yogyakarta

Deskripsi Proyek

Saya bersama teman-teman di Forum Film Dokumenter (FFD) akan melakukan sebuah proyek aktivasi arsip yang mengkaji karya-karya dari pembuat film dokumenter perempuan. Proyek ini akan dimulai dengan memanfaatkan kerja arsip FFD yang hingga saat ini telah memiliki lebih dari 1700 arsip film. Melalui arsip tersebut, saya dan FFD hendak melakukan kajian yang komprehensif mengenai peran perempuan dalam perkembangan film dokumenter di Indonesia. Kajian ini akan dituangkan menjadi sebuah buku & kompilasi yang kami namai "Pusparagam Dokumenter Indonesia" yang berisikan daftar dan profil pembuat film, serta membahas mengenai proses berkarya, cerita dibalik film-film yang diproduksi, hingga perspektif perempuan dalam perkembangan medium dokumenter. Hasil kajian ini akan diperkenalkan kepada publik untuk pertama kalinya dalam Festival Film Dokumenter pada Desember 2018 dalam bentuk pemutaran, lengkap dengan diskusi dan peluncuran buku katalog. Pada bulan Januari 2019, proyek ini juga akan dilanjutkan dengan program ekshibisi dan diskusi, serta distribusi katalog secara non-profit ke lembaga-lembaga pendidikan, terutama ke beberapa sekolah pilihan, masing-masing di wilayah Barat, Tengah dan Timur Indonesia.

Kategori

riset_kajian_kuratorial

Latar Belakang Proyek

Festival Film Dokumenter telah diadakan sejak tahun 2002 hingga sekarang. Selama kurun waktu tersebut, FFD telah banyak menerima film dokumenter buatan insan perfilman Indonesia. Hal ini menjadikan kami sebagai salah satu pemilik database film dokumenter yang besar di Indonesia. Forum Film Dokumenter, perkumpulan yang menaungi Festival Film Dokumenter melalui Divisi Arsip dan Aktivasi Sosial berinisiatif dalam membuka akses arsip film dokumenter kepada khalayak yang lebih luas. FFD percaya arsip film dokumenter dapat menjadi salah satu media yang bermanfaat untuk berbagai kebutuhan seperti; pendidikan, riset, penyuluhan, ekspresi seni, bahkan media hiburan. Pengelolaan arsip di FFD selama ini hanya terbatas pada tahap pendataan. Proses pengkategorian masih menjadi kendala bagi tim arsip. Pembuatan katalog dan kompilasi ini diharapkan dapat menjadi purwarupa kerja dan produk arsip FFD. Akses arsip FFD selama ini telah dibuka kepada publik yang terbatas. Namun demikian, sistemnya masih berjalan sporadis dan organik. Pembuatan katalog & kompilasi film ini akan memudahkan masyarakat untuk mengakses film dengan kategori tertentu. Pembukaan akses ini juga menjadi titik awal untuk membuka diskusi yang lebih besar mengenai peran perempuan dalam perkembangan film dokumenter di Indonesia dalam kurun waktu pasca Reformasi.

Masalah yang Diangkat

Menurut data yang dihimpun situs www.filmindonesia.or.id, jumlah pembuat film perempuan yang muncul tidak sampai 10 persen jumlah film per tahunnya. Angka tersebut merupakan data yang didapat dari film yang beredar di bioskop, tentu film dokumenter tidak termasuk di dalamnya. Fakta ini mengungkap dua permasalahan utama dalam konteks perempuan dan film dokumenter. Pertama, kuantitas perempuan dalam dominasi pembuat film lelaki. Kedua, ketiadaan arsip film dokumenter. Masalah akses kemudian menumbuhkan satu persoalan serius. Muncul satu steriotipe bahwa, dunia film khususnya dokumenter adalah dunia laki-laki. Masalah ini lumrah terjadi, ketika penonton hanya menyaksikan beberapa karya dokumenter yang diproduksi oleh orang yang sama. Dalam hal ini orang-orang tersebut adalah pembuat film laki-laki, dimana mayoritas pembuat film menggunakan perspektif maskulin atau patriarki dalam menghadirkan realitas. Padahal realitas yang dihadirkan film dokumenter, mampu mempengaruhi perspektif masyarakat dalam membangun ingatan kolektif yang kemudian hadir sebagai unsur pembangun catatan sejarah. Proyek ini mengatasi dua hal tersebut, yakni bagaimana arsip film dokumenter dapat dikelola hingga dapat diakses publik dan bagaimana peran perempuan dalam produksi dan konstruksi film dokumenter. Penggabungan kerja arsip dan akses arsip dengan signifikansi perempuan dalam film dokumenter diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi edukasi dan pengembangan medium ini ke generasi selanjutnya.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

Luaran dari proyek ini adalah kompilasi film dan katalog berjudul "Pusparagam Dokumenter Perempuan Indonesia" yang berisi mengenai kajian film-film dokumenter yang dibuat oleh pembuat film perempuan di Indonesia. Kompilasi & Buku Pusparagam tersebut akan diperkenalkan kepada publik pada perhelatan Festival Film Dokumenter 2018 di bulan Desember ini, dalam bentuk diskusi dan juga penayangan kompilasi film-film terpilih. Selain akses, pemilihan FFD dilatarbelakang bahwa FFD adalah patform ekshibisi utama film dokumenter di Indonesia, dengan jumlah audiens yang terus meningkat. Selain itu, saya dan tim FFD juga akan memperkenalkan buku pusparagam dan kompilasi film tersebut melalui program penayangan dan diskusi di beberapa lembaga pendidikan yang terpilih, di tiga region di wilayah Timur, Tengah dan Barat Indonesia. Tentu lengkap dengan peliputan dan ulasan media massa yang luas. Melalui strategi tersebut, indikator sukses dari proyek aktivasi arsip dan kajian karya ini adalah bahwa signifikansi perempuan dalam film dokumenter dapat terus dibicarakan dan dikenal oleh publik.

Dana Hibah

Rp.350 Juta