Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1135 - 'Lelaku Keadilan' Guru Perempuan: Sebuah Riset & Kisah


Nama Inisiator

Santa Monica

Bidang Seni

penelitian

Pengalaman

3 tahun

Contoh Karya

LLTC-USD-2017-PROCEEDINGS_Santa Monica.pdf

Situs Web

https://independent.academia.edu/SantaMonica7

Media Sosial

https://www.linkedin.com/in/santa-monica-bb1a90149/

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Proyek ini ingin mengetahui bagaimana terbentuknya agensi guru perempuan soal kesadaran, perspektif dan peran mereka mengenai keadilan perempuan dalam aktivitas pendidikan. Proyek ini tidak ingin mengafirmasi hipotesa normatif: sekedar perlunya sadar kesetaraan gender. Lebih dari itu, latar belakang sosio-kultural guru perempuan beragam dan berimplikasi pada perspektif posisi perempuan, apalagi keadilan perempuan. Karena itu, lebih lanjut proyek ini berupaya meretas ekspresi guru perempuan yang jarang didengar dan diketahui, khususnya peran mendidik murid di kelas terkait isu keadilan perempuan. Metode riset dan aksi dilakukan bersama guru SMP di kota Yogyakarta. Lingkup subyek riset dipilih karena guru SMP menghadapi siswa pada usia pencarian jati diri dan perkembangan seksualitas. Riset kuantitatif diawali bersama 60 guru perempuan di 20 sekolah untuk menghasilkan pemetaan pengetahuan. Lalu riset kualitatif melalui wawancara mendalam bersama 10 guru perempuan. Kemudian penulisan kisah secara partisipatif menuturkan pengetahuan guru perempuan dan didukung foto observasi kelas sebagai ekspresi visual. Hasil penelitian dipublikasikan menjadi buku sebagai apresiasi ekspresi guru perempuan dan dapat diakses publik. Data, informasi, dan pengetahuan juga dikembangkan dalam Web-Storytelling, guna menginspirasi guru perempuan lainnya mengekspresikan dirinya terkait isu keadilan perempuan dalam pendidikan. Selain itu akan ada dialog reflektif bersama 10 guru, peluncuran karya dan diskusi publik untuk memperluas dampak.

Latar Belakang Proyek

Pendidik memiliki relasi yang kuat dengan masyarakat dalam mentransformasikan pengetahuan, dengan kata lain pendidikan berkontribusi dalam pembentukan kebudayaan. Fakta menunjukkan guru merupakan profesi yang banyak dipilih oleh perempuan. Berdasarkan pusat data dan statistik Kemendikbud tahun 2015/2016, perbandingan jumlah guru perempuan dan laki-laki yaitu 63:37%. Jumlah guru perempuan merupakan mayoritas dan mereka memiliki peranan besar dalam pembentukan praktek kebudayaan (intangible) sebagai garda depan pendidikan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya melakukan penelitian di bidang pendidikan di Kota Yogyakarta, terdapat temuan yang menunjukkan bahwa agensi guru perempuan diperoleh dari kesadaran pentingnya inklusi sosial terkait siswa dari ekonomi rendah dan siswa difabel. Namun, temuan tersebut belum menyinggung agensi guru terhadap perspektif perempuan. Pengembangan profesionalisme guru pun cenderung fokus pada konten kurikulum, administrasi, dan media belajar, belum berbasis gender. Padahal perspektif perempuan sudah semestinya hadir dalam kesadaran institusional, mengingat telah tercatat banyak kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Yogyakarta terkait pelecehan seksual, kekerasan dalam berpacaran, dan bahkan perkosaan pada rentan usia 12-25 tahun (Rappler, 2017). Oleh sebab itu, riset kali ini saya akan memfokuskan penelitian pada agensi para guru perempuan terhadap perspektif dan juga keadilan perempuan di ranah yang paling dekat dengan mereka, yaitu kegiatan belajar mengajar di dalam kelas sehari-hari.

Masalah yang Diangkat

Yogyakarta salah satu kota kebudayaan di Indonesia, memiliki citra baik terkait kualitas pendidikan, dikenal sebagai kota pelajar, dan faktanya memang banyak insitusi pendidikan tersebar di Yogyakarta. Namun Rifka Anisa mencatat di Yogyakarta masih terjadi kekerasan pada perempuan khususnya dialami anak usia sekolah (Rappler, “Kekerasan terhadap Perempuan di Yogyakarta masih tinggi”). Bahkan menurut Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY, kekerasan terhadap perempuan dalam 3 tahun terakhir (2015-2017) jumlahnya mencapai 1.520 kasus di Kota Yogyakarta, lebih tinggi dari 4 kabupaten lainnya (Tribun News Jogja, “Angka Kekerasan Perempuan di DIY Tinggi, Mayoritas Terjadi di Perkotaan). Persoalan ini penting diretas dengan melihat dan mengembangkan peran guru perempuan sebagai pendidik. Ada beberapa pokok masalah yang akan diteliti dan dikembangkan lebih mendalam: 1. Sejauh mana guru perempuan sebagai pendidik di kelas dapat berpengaruh mencegah situasi kekerasan perempuan yang dialami anak sekolah. 2. Apa saja dan bagaimana terbentuknya agensi guru perempuan terhadap isu keadilan perempuan dalam dunia pendidikan khususnya proses kegiatan belajar mengajar. 3. Kurangnya ruang ekspresi guru perempuan tentang pengalaman dan wawasannya terkait isu keadilan perempuan. Hal ini dikarenakan padatnya waktu dan tanggungjawab guru, jarang sekali ada wadah ekspresi guru perempuan, dan minimnya tempat pengakuan pada kerja mereka sebagai pelaku kebudayaan.

Indikator Sukses

1. Terhimpunnya hasil penelitaan berupa data, analisa, pengetahuan dan rekomendasi publik terkait agensi guru perempuan terhadap isu keadilan perempuan dari 60 guru perempuan di 20 sekolah (30 % lebih dari 59 daftar SMP) di Kota Yogyakarta. 2. Publikasi pengetahuan berupa hasil penelitian dan storytelling dari 10 guru perempuan dalam bentuk buku: Riset dan Kisah Guru Perempuan Membicarakan Keadilan Perempuan dalam Pendidikan. Publikasi sebagai apresasi ekspresi guru perempuan dan akses bagi publik. 3. Terbentuk ruang informasi dan komunikasi untuk perluasan ekspresi guru perempuan melalui web storytelling berdasar olahan hasil penelitian dan kisah para guru perempuan. 4. Diskusi publik dan launching hasil penelitian dan kisah para guru perempuan dalam pendidikan keadilan perempuan untuk menyiarkan dan mendialogkan pengetahuan yang melibatkan ahli pendidikan dan gender, guru-guru dan para pemangku kepentingan.

Lokasi

Kota Yogyakarta

Dana yang Dibutuhkan

Rp.113 Juta

Durasi Proyek

9 bulan