Anda berada di mode pratinjau.
| |

Pemohon Hibah

FITRI UTAMI NINGRUM


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

lainnya

Pengalaman Berkarya

3 TAHUN

Situs Web

www,campatour.com

Media Sosial

Instagram: @campatour, @idcaventer ;YouTube: CAVENTER Indonesia

Proyek


No. Formulir

1092

Judul Proyek

Perjalanan Wisata Budaya Sumba Timur

Lokasi Proyek

Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Deskripsi Proyek

Proyek ini dilakukan untuk memetakan, merekam, menggali dan menulis tentang wisata budaya Sumba Timur. Tujuan perjalanan ini adalah untuk menghasilkan kajian Manajemen Sumber Daya Budaya dari Sumba Timur. Kegiatan proyek ini didasarkan pada metode pengelolaan atau manajemen sumber daya budaya. Dengan pendekatan bahwa budaya Sumba Timur, setara dengan sumber daya sumber daya manusia dan alam, sehingga dapat di daya gunakan sebagai modal daya tarik wisatawan untuk menikmati wisata budaya. Pendekatan manajemen seperti pemasaran, operasional, sumber daya manusia dan keuangan digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan produk representasi budaya Sumba Timur. Tujuan dari manajemen sumber daya budaya Sumba Timur adalah menciptakan sistem yang berkesinambungan melalui berbagai kajian lingkungan fauna dan flora budaya, karakter interaksi masyarakat dan pengaruh eksternal. Hasil kajian tersebut akan membentuk suatu model manajemen sumber daya budaya yang cocok dilaksanakan di Sumba Timur karena memberikan kepastian akan kesinambungannya. Kegiatan yang dilakukan akan meliputi peningkatan kapasitas masyarakat Sumba Timur sebagai pengelola sumber daya budayanya. Langkah yang dilakukan antara lain adalah proses identifikasi sumber daya budaya; deskripsi karakter masyarakat; deskripsi penciri khas masyarakat; deskripsi filosofi atau nilai hidup pijakan masyarakat serta deskripsi produk, barang dan jasa, produksi masyarakat dengan sumber daya lokal.

Kategori

perjalanan

Latar Belakang Proyek

Awal perjalanan dimulai ketika Campa Tour, sebuah tour operator yang mengkhususkan diri di wisata sejarah dan budaya, “mengundang” komunitas-komunitas lokal yang ingin mengembangkan daerahnya dan mempromosikan potensi wisatanya. Jonathan Hani dari Komunitas Humba Ailulu mendaftarkan Sumba (2015) dan sejak saat itulah terjalin tukar pengetahuan dari Campa tentang pembuatan paket wisata kepada Jonathan Hani/Humba Ailulu. Di dalam program tour Campa, Campa menekankan kepada partner lokal untuk menjelaskan mengenai sejarah dan budaya di suatu destinasi. Campa Tour juga mendorong agar terjadi interaksi antara tamu dan penduduk lokal ataupun masyarakat adat. Campa Tour berusaha menginisiasi sebuah program pembinaan yang diberi nama CAVENTER (Campa Community Development and Ecotourism Center). Namun, karena keterbatasan sumber daya dan dana maka program ideal sebuah pembinaan komunitas belum dapat terlaksana. Hal yang dapat Campa lakukan adalah terus berkomunikasi melalui email atau whatsapp, mengirimkan modul/pengetahuan pariwisata secara umum dan tertulis, selain mengirimkan tamu untuk datang berkunjung ke Sumba. Mulai 2017, CAVENTER menjadi program yang independen dengan pengelolaan yang berbeda. Kepanjangan pun menjadi Culture, Art, Community Development. Seiring meningkatnya aktivitas wisata di Sumba Timur, Fitri merasa semakin penting untuk membuat pembelajaran dan pemahaman budaya Sumba melalui wisata budaya yang lebih baik.

Masalah yang Diangkat

Sumba Timur kaya akan budaya. Budaya ini perlu dikomunikasikan dengan baik kepada pihak luar yang datang ke Sumba Timur, agar pariwisata tidak berdampak buruk kepada budaya masyarakat, dan wisatawan yang datang pun mendapat pemahaman yang menyeluruh tentang budaya setempat. Gelombang wisatawan yang datang namun kondisi masyarakat belum siap dalam bidang pariwisata, inilah hal yang menjadi masalah utama yang perlu diatasi sejak dini. Fokus utama perjalanan yang direncakan adalah menuju Kampung Adat Rende. Ketidaktahuan adanya sebuah desa warisan budaya berwujud dan tak berwujud yang unik di Desa Rende, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Hingga saat ini, belum ada kajian manajemen sumber daya budaya yang komprehensif; yang merumuskan panduan terbaik untuk melaksanakan aktivitas wisata budaya, khususnya Sumba Timur. Belum adanya panduan dan binaan dalam hal manajemen sumber daya budaya mengakibatkan kesulitan bagi petugas lapangan (tour guide) dan masyarakat lokal untuk memberikan layanan terbaik bagi wisatawan. Padahal, banyak hal yang perlu dikomunikasikan dan dilestarikan bersama, baik itu warisan budaya berwujud maupun warisan budaya tidak berwujud. Selain itu, pengembangan wisata budaya juga dianggap penting karena melibatkan peran besar perempuan Sumba, yang begitu banyak menghasilkan karya terutama dalam kriya ikat tenun dan seni budaya, dan dapat berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat bila dilakukan berkesinambungan.

Durasi Proyek

8 bulan

Indikator Sukses

• Teridentifikasi warisan budaya berwujud dan tak berwujud Sumba Timur.Terdapat beberapa kategori wisata budaya yang diciptakan untuk kemudian dikelola secara berkesinambungan. • Terbentuk sentra informasi dan promosi sosial media Sumba Timur yang dikelola berkesinambungan. • Terbentuk rekam jejak warisan budaya ikat tenun dan karya kelompok tenun perempuan Sumba Timur beserta kisahnya sebagai sumber daya budaya yang dikembangkan. • Hasil kajian mengumpulkan cerita pengalaman tentang media atau ruang produksi untuk pelaku kebudayaan perempuan berikut publikasinya. • Kajian khusus mengenai budaya tarian dan musik serta alat musik tradisional yang digunakan sebagai sentra diseminasi informasi nilai-nilai filosofi budaya Sumba Timur khususnya pelaku kebudayaan perempuan sebagai materi berkarya. Hasilnya diharapkan berupa rekaman video untuk di unggah di sosial media serta tulisan untuk dipublikasikan melalui saluran online ataupun cetak. • Kerjasama antara pelaku kebudayaan di Sumba Timur untuk mengumpulkan benda-benda bersejarah dari kehidupan perempuan dan membuat pameran serta menerbitkan catatan mengenainya. Pemanfaatan sosial media sebagai penerbitan catatan dilakukan karena lebih efektif dan efisien sebab mudah dicari oleh wisatawan. • Kerjasama antara kelompok perempuan pembuat kriya (produk kerajinan) dan pemasak dengan penulis/juru foto/pembuat film untuk menyebarkan pengetahuan tentang kriya atau masakan.

Dana Hibah

Rp.445 Juta