Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1072 - Menilik Titik-Titik


Nama Inisiator

Andrita Yuniza

Bidang Seni

seni_rupa

Pengalaman

3 tahun 9 bulan

Contoh Karya

Andrita Citra Visual Menilik Titik-Titik.mp4

Situs Web

www.andritaorbandi.com

Media Sosial

instagram @andrita.y.o

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Melalui proyek ini, saya ingin membuktikan kepada publik bahwa kedamaian, baik dalam hati maupun masyarakat, dapat dicapai dengan memahami manusia secara utuh. Dengan begitu manusia dapat memahami seseorang dari niat hati, buah pikiran dan tindakannya. Saya ingin membuktikan bahwa golongan, agama, gender dan status tidak menentukan apakah seseorang itu baik atau jahat, terhormat atau tidak. Saya akan melakukan riset melalui wawancara terhadap minimum 100 responden dari berbagai kelas ekonomi dan sosial, orientasi seksual, suku, dan agama yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa. Pulau Jawa karena sebagai pulau terpadat, titik urbanisasi dan melting pot. Hasil riset wawancara akan saya olah menjadi 2 bentuk karya yaitu tulisan dan film seni. Tulisan akan dipublikasikan secara online dan offline dengan format berbeda, untuk memperluas pemahaman dan mudahnya akses pada hasil riset. Sebagai perupa saya paham bahwa bahasa visual dapat memperhalus konten yang tajam dan sensitif sekalipun, sehingga menurut saya sangat penting untuk memvisualkan secara artistik dokumentasi wawancara dengan narasumber dan mengungkapkan topik ini kepada khalayak. Saya akan menggunakan media film analog 16mm sebagai media utama dan animasi sebagai pendukung. Saya akan bekerjasama dengan beberapa pihak dalam proses produksi dan pascaproduksi. Film akan disajikan dalam format pameran, terdapat juga diskusi karya.

Latar Belakang Proyek

Degradasi moral, konflik antar umat beragama, rasisme, perpecahan politik, hak dan kebebasan yang semakin terdistorsi, hingga eksploitasi hasil bumi pada hari ini terasa sudah mencapai titik nadir. Hal ini terjadi dengan sistemik dalam skala besar. Masyarakat mengeluhkan zaman yang semakin mengalami kemunduran dimana ambang antara benar dan salah semakin buram. Padahal jika bertumpu pada sejarah, perilaku destruktif sudah terjadi sejak zaman purba kala dan dalam berbagai peradaban setelahnya. Lalu saya menyadari, ada satu hal yang tetap sama dalam setiap zaman, yaitu pelakunya: manusia. Manusia tetap sama, memiliki jiwa, hati dan pikiran. Sehingga saya memiliki sebuah pemahaman bahwa bukan ras, agama, gender dan status yang menentukan kualitas diri manusia, tetapi kualitas hatinya. Hati yang mempengaruhi pikiran dan sikap. Saya ingin menelanjangi embel-embel yang disematkan pada diri manusia dan melihat kepada satu titik yang menentukan jati diri manusia seutuhnya, yaitu hati. Berdasarkan hasil riset sejak 2016 mengenai ‘Kebahagiaan’ kepada 35 orang dari 15 kewarganegaraan dan latar belakang yang berbeda, saya mendapatkan bahwa banyak manusia memiliki hati yang indah jika kita mampu meruntuhkan kotak-kotak pembeda. Memahami individu sebagai individu tersebut. Melihat langsung ke jiwa bukan kulit pembungkusnya.

Masalah yang Diangkat

Suatu hari beberapa teman baik bertanya kepada saya, “Andrita, kamu tidak pusing tinggal di Indonesia? Kok bisa ada banyak agama dan budaya di Negaramu? Bagaimana caranya kalian hidup damai tanpa konflik dengan perbedaan-perbedaan itu? Kalau di Negara kita (Cina, Korea Selatan & Jerman), kita punya standard agama dan budaya yang sama.” Sebelumnya saya tidak pernah menganggap bahwa keberagaman agama dan budaya Indonesia adalah hal yang aneh dan memusingkan, tetapi ternyata hal tersebut terlihat penuh konflik di mata teman-teman asing saya. Ketika saya menimba jarak dan melihat Indonesia dari jauh, akhirnya saya paham apa yang dimaksud oleh teman-teman saya. Ternyata rasisme bukan hanya tentang white dan black di Amerika ataupun pencucian etnis Rohingya, tetapi juga dengan: “Dasar Cina!”, ”Pantesan centil, cewe sunda ya?” dan “Itung-itungan banget sih, ah elah orang Padang.” Ternyata bukan hanya Israel dan Palestina yang memiliki konflik antar umat beragama, di Indonesia hal ini juga terjadi. Bahkan tidak jarang menjadikan agama sebagai tombak politik. Semua terlihat runyam dengan konflik yang saling mengayam. Tanpa disadari masyarakat terbiasa menanamkan label terhadap keluarga sebangsanya dan mengesampingkan jati diri orang yang sebenarnya. Menurut observasi saya, hal ini menyebabkan masyarakat kita memiliki sedikit empati, mudah menghakimi dan membenci.

Indikator Sukses

1. Dapat menghasilkan karya tulis dan visual yang membuktikan tujuan-tujuan tersebut, 2. Mampu membagikan hasil riset secara tepat tanpa menyinggung SARA dan pihak-pihak tertentu, 3. Kedua karya mampu menciptakan pemahaman baru sesuai tujuan-tujuan tersebut bagi masyarakat, dapat dikaji melalui respon masyarakat terhadap karya, 4. Dapat mengolah film dan memvisualkan dengan baik sehingga publik dapat menangkap pesan yang dituju, 5. Dalam film mampu menangkap citra setiap narasumber secara jelas, tidak abstrak, tetapi tanpa mengungkapkan identitas narasumber, 6. Dalam film akan didokumentasikan gerak-gerik dan lingkungan narasumber tanpa mengeksploitasi ruang privat, 7. Dalam film dan animasi, sebagai perupa mampu menggambarkan apa yang diungkapkan narasumber dengan bijak dan jelas, 8. Konten apapun yang terkait dengan hasil wawancara yang akan dipublikasikan sudah disetujui oleh para narasumber, 9. Masyarakat memberikan respon terhadap hasil riset yang dibagikan secara online, 10. Masyarakat memberikan respon terhadap hasil riset offline, yaitu pameran, diskusi karya dan buku, 11. Karya mudah dipahami tanpa mengurangi kualitas artistik, 12. Karya selesai tepat waktu dan terpublikasikan, 13. Karya mampu menjadi impuls untuk menciptakan dialog mengenai isu ini di kalangan masyarakat baik online maupun offline.

Lokasi

Pulau Jawa

Dana yang Dibutuhkan

Rp.300 Juta

Durasi Proyek

7 bulan