Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1057 - Perempuan dan Jurnalisme


Nama Inisiator

Galuh Pandu Larasati

Bidang Seni

sastra

Pengalaman

4 tahun

Contoh Karya

Situs Web

https://galuhpanduu.wordpress.com/ , https://www.youtube.com/watch?v=IMzrDMUck4s , https://infokampus.news/mengapa-tvone-memihak-prabowo-karni-ilyas-hehe-saya-dulu-absen-3-bulan/

Media Sosial

facebook: galuh pandu larasati

Kategori Proyek

kerjasama_kolaborasi

Deskripsi Proyek

Pemohon ingin meriset kehidupan jurnalis perempuan di Indonesia. Riset dapat dilakukan melalui literatur review, referensi, serta observasi dan wawancara berkaitan dengan motivasi, alasan, pandangan, serta pengalaman-pengalaman mereka ditinjau dari sudut pandang feminisme. Selebihnya berdasarkan hasil riset itu, pemohon ingin membuat sebuah karya film dengan bekerjasama/berkolaborasi dengan filmmaker. Mengingat film merupakan salah satu bentuk karya sastra dan media yang paling efektif untuk menyampaikan kritik sosial maupun pesan moral kepada masyarakat. Bahwa perempuan juga berhak atas profesionalisme kerja jurnalis sebagaimana laki-laki. Sebab hingga saat ini perempuan masih dipandang miring oleh sejumlah perusahaan media dan tidak mendapat perlakuan setara dengan laki-laki. Ketimpangan dan ketidakadilan terjadi pada jurnalis perempuan. Oleh sebab itu, melalui film yang akan menggambarkan ketidakadilan itu akan menjadi corong suara perempuan meneriakkan ketidakadilan yang dialami oleh mereka.

Latar Belakang Proyek

Kesejahteraan jurnalis perempuan masih jauh dari harapan (AJI, 2015). Perempuan tidak mendapat posisi yang sama dengan laki-laki dalam beberapa hal. Ada sejumlah bentuk diskriminasi yang dialami perempuan diantaranya adalah. Selain itu perempuan juga mengalami kekerasan berbasis gender yang menjadikan perempuan hanya sebagai taktik untuk mendekati narasumber laki-laki. Perempuan yang sudah berkeluarga juga mendapat penilaian miring dari perusahaan berkaitan dengan kemampuan kerja karena beban kerja yang keras dan keharusan mengurus rumah tangga. Jurnalis perempuan bahkan menerima upah yang lebih kecil dibandingkan laki-laki karena tidak dianggap sebagai kepala rumah tangga, hak perempuan untuk mendapatkan fasilitas tunjangan keluarga, dan asuransi kesehatan untuk suami dan anak tidak terpenuhi. Menyusui dan memberikan asi ekslusif kepada anaknya juga sulit terpenuhi. Tidak hanya itu, tak jarang perempuan mengalami pelecehan seksual pada saat peliputan. Posisi perempuan menjadi termarjinalkan dan menghambat karier serta profesionalitas perempuan sebagai jurnalis. Maka penting bagi pemohon, agar masalah ini diangkat ke masyarakat supaya membangkitkan kesadaran bahwa masih ada ketimpangan dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam profesionalisme kerja jurnalis. Padahal berdasarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional perli upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan peran dan kualitas perempuan dalam pembangunan.

Masalah yang Diangkat

1. Perempuan mendapatkan kapasitas dan profesionalisme kerja yang sama dengan laki-laki 2. Perempuan mendapatkan kesejahteraan kerja sebagai jurnalis. 3. Meski telah berkeluarga, perempuan berhak mendapatkan perlakuan yang sama dalam bekerja 4. Perempuan mendapatkan upah yang sama, tidak lebih sedikit 5. Hak untuk menyusui terpenuhi 6. Tidak ada lagi pelecehan seksual yang dialami perempuan, bahwa perempuan adalah subjek bukan objek.

Indikator Sukses

1) Riset yang dilakukan oleh pemohon melalui literatur review tidak memakan waktu yang lama. 2) Pemohon melakukan kerjasama/kolaborasi dengan filmmaker untuk membuat film ini sehingga teknis pelaksanaannya pemohon serahkan sepenuhnya pada yang telah profesional di bidangnya. 3) Pemohon hanya menyusun skenario berdasarkan latar belakang yang ada serta terlibat dalam pemilihan peran serta memantau sepanjang film itu dibuat.

Lokasi

Malang, Jawa Timur

Dana yang Dibutuhkan

Rp.500 Juta

Durasi Proyek

6 bulan