Anda berada di mode pratinjau.
(click to expand)

1039 - PULANG


Nama Inisiator

Julia Sarisetiati

Bidang Seni

seni_rupa

Pengalaman

12 tahun

Contoh Karya

Julia-Sarisetiati_Indo K-Work_Cipta Media.pdf

Situs Web

http://juliasarisetiati.wixsite.com/projects/bio

Media Sosial

http://juliasarisetiati.wixsite.com/projects

Kategori Proyek

riset_kajian_kuratorial

Deskripsi Proyek

Saya ingin membentuk platform komunikasi digital bagi komunitas Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Fungsinya adalah untuk menghubungkan mereka yang saat ini masih aktif bekerja di negara penempatan—dengan organisasi purna TKI yang telah kembali; dan kini berada di Indonesia. Platform ini akan digunakan untuk menjawab tantangan jarak, sehingga mudah bertukar informasi dan pengetahuan. Di masa datang, segala hal terkait pengetahuan bermigrasi; akan dikumpulkan di sini. Jika proposal saya diterima, maka hibah ini akan membantu saya untuk secara bertahap dapat mengartikulasikan ide tersebut, melalui proses riset. Setelah sebelumnya saya mengembangkan proyek bersama dengan TKI yang ada di negara tujuan, saat ini saya berharap untuk dapat berefleksi bersama dengan para TKI yang sudah kembali ke Indonesia. Proyek riset ini akan fokus pada kerja pemetaan: mengenai berbagai bentuk/model kewirausahaan yang diinisiasi oleh organisasi purna TKI; sehingga bisa diidentifikasi—mana yang memiliki ide dan praktik terbaik yang bisa dipromosikan lebih lanjut, juga untuk diperkenalkan kepada para TKI yang akan segera kembali ke Indonesia.

Latar Belakang Proyek

Banyak organisasi purna TKI, terbentuk atas inisiatif dari bawah. Dan secara umum, karakteristik organisasinya dapat dikelompokkan menjadi: - Pertama, dalam bentuk organisasi yang dibangun oleh dan hanya terdiri dari para purna TKI. - Kedua, dalam bentuk komunitas atau organisasi sosial yang dibangun oleh purna TKI bersama dengan masyarakat lokal. Yang pertama bersifat eksklusif, hanya untuk purna TKI—sementara yang kedua bersifat inklusif; melibatkan seluruh komunitas asal (dan saya ingin belajar dari model tersebut, juga saya ingin mempromosikannya lebih jauh—untuk melihat kemungkinan jika ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk direplikasi di lokasi-lokasi lainnya). Saya ingin bekerja sama dengan organisasi purna TKI yang telah menciptakan laboratorium bagi kewirausahaan sosial, di mana program yang telah mereka kembangkan tersebut diharapkan bisa menjadi sumber pengetahuan bagi mereka yang akan pulang ke Indonesia di masa depan. Ada urgensi untuk mendukung dan mempromosikan praktik kewirausahaan dari organisasi purna TKI yang telah berkontribusi positif bagi pembangunan lokal; dan kemudian untuk dapat mengkomunikasikan hal tersebut kepada asosiasi TKI yang saat ini ada di negara-negara penerima. Organisasi purna TKI tersebut tentunya relatif lebih berpengetahuan tentang kebutuhan dan sumber daya komunitas mereka; di mana hal ini merupakan sebuah prasayarat utama bagi sebuah pengembangan kewirausahaan sosial.

Masalah yang Diangkat

Pemerintah Indonesia mulai memperhatikan purna TKI pada tahun 2010, dan telah berusaha untuk memberdayakan para purna TKI yang kembali. Pada masa jabatan keduanya; pemerintahan Presiden Yudhoyono menempatkan program pemberdayaan purna TKI sebagai bagian dari prioritas kebijakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Memberdayakan purna TKI juga merupakan amanat UU No. 39 tahun 2004 (tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri) di mana ditetapkan bahwa pemerintah harus melindungi TKI pada seluruh tahapan bermigrasi. Banyaknya pasal tentang penempatan daripada pasal tentang kepulangan dalam UU No. 39 tahun 2004 menunjukkan bahwa UU ini lebih menekankan kebijakan penempatan daripada kebijakan reintegrasi. Sebagai akibatnya, mereka yang tidak berhasil berintegrasi tak punya banyak pilihan selain mencari kembali pekerjaan di luar negeri sebagai strategi untuk bertahan hidup. Kebijakan reintegrasi yang tidak memadai untuk migran yang kembali menunjukkan bahwa pemerintah masih belum terlalu memerhatikan potensi dari purna TKI sebagai agen pembangunan yang potensial. Hal ini kemudian mengarah pada terjadinya migrasi berulang (migrasi sirkuler). Sementara, besar kemungkinan bahwa dalam waktu dekat pemerintah di negara tujuan akan semakin memperketat durasi tinggal bagi pekerja migran, dan semakin sedikitlah jumlah TKI yang mendapat kesempatan untuk kembali datang. Karenanya, sebuah strategi nasional sangat diperlukan dan harus segera diupayakan.

Indikator Sukses

1. Adanya pembacaan lebih seksama—terkait berbagai praktik kewirausahaan sosial yang diinisiasi oleh organisasi purna Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Jika proposal ini diterima; pada awalnya—proses pembacaan akan dilakukan di 26 kota di Jawa, untuk kemudian di masa datang—akan dilanjutkan ke provinsi-provinsi lainnya di luar Jawa seperti Lampung, Bengkulu, NTB, Sulawesi Selatan dan Banten yang juga adalah daerah pengirim jasa TKI ke luar negeri terbanyak. 2. Terjadi kerja bersama dengan seniman media / ahli komunikasi di masa datang; dalam mempromosikan/mengkomunikasikan praktik-praktik kewirausahaan sosial terbaik (yang diinisiasi oleh organisasi purna TKI)—untuk bisa diperkenalkan kepada para TKI yang akan segera kembali ke Indonesia. 3. Organisasi purna TKI dengan praktik kewirausahaan terbaik dapat menjadi sumber pengetahuan bagi para TKI yang kelak akan pulang ke Indonesia di masa datang. 4. Terciptanya sebuah apps (platform digital) untuk memfasilitasi dialog dan berbagai interaksi di masa datang.

Lokasi

Provinsi Jawa Barat, JawaTimur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta & Banten (26 kota).

Dana yang Dibutuhkan

Rp.373.380 Juta

Durasi Proyek

9 bulan